Lewati ke konten

Peristiwa

Puisi Tak Butuh Panggung, Hanya Dekat

June 19, 2025

Puisi tak butuh panggug, hanya dekat. Bolo Space, Yogya.

Pada malam Jumat, 13 Juni 2025, aku—yang biasa bergerak di lingkaran kata-kata besar, istilah asing, dan tafsir sastra yang berlapis-lapis—memilih berhenti. Bukan untuk menilai, melainkan untuk berusaha mendengar Puisi Dari Dekat. Di sana, teman-temanku bicara tentang puisi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bukan karena takut, melainkan karena kata-kata mereka datang dari tempat yang tak butuh pengeras suara.

Untuk memahami mereka, dalam benakku, aku memanggil kembali sosok Ahap, sang kolaborator acara. Inisiator acara sendiri adalah Bolo Space. Lalu, kubayangkan Ahap menceritakan ulang suasana ketika aku, dia, dan teman-teman lain duduk melingkar di halaman belakang Bolo Space, bertukar napas dengan puisi, membiarkan latte mendingin dalam cangkir, dan membiarkan malam menjadi tubuh dari segala yang tak terucapkan. Dan mungkin, beginilah Ahap akan bertutur padaku:

Malam itu tak ada tuntutan untuk menulis sajak yang akan dikenang seribu tahun lagi. Yang ada hanyalah keinginan sederhana: untuk hadir, untuk mendengar, dan untuk merasa.

Dan, kamu yang juga hadir di sana tahu, bahwa malam semacam itu membuat puisi tak lagi asing. Ia menjadi sejenis bisikan yang menuntun kami kembali—kepada diri sendiri, kepada dunia yang kami abaikan.

“Apa tujuan kalian menulis?” aku membuka percakapan di malam itu setelah kursi-kursi penuh dan latte diteguk.

Tak perlu waktu lama. Satu per satu mulai bercerita.

Teman yang pertama kali bicara baru saja kukenal. Katanya, ia menulis sejak kecil, sejak cinta pertama datang diam-diam dan pergi tanpa pamit. Ia mencatat semua itu di buku harian. Kini, ia datang untuk kembali mendengar dirinya sendiri, dikelilingi mereka yang punya gelombang serupa.

Lalu ada yang lain. Ia sempat berhenti menulis, tapi ibunya—yang dulu juga menulis diam-diam di buku harian—meninggalkan jejak. “Aku ingin mencoba kembali,” katanya pelan. “Bukan karena aku ingin dikenal. Tapi, karena aku ingin mengenali diriku.”

Seorang teman lain ingin menulis agar tidak dilupakan. Ia percaya bahwa tulisan adalah semacam jejak. Mungkin samar, mungkin jelas, tapi tetap tertinggal. Seorang lagi setuju. Katanya, menulis adalah cara paling sederhana untuk merekam hidup, meski hidup itu sendiri kadang tidak sederhana.

Lalu tibalah giliranku berkenalan.

Aku menulis sejak 2014. Mulanya aku hanyalah seorang introver yang dahulu selalu terbata-bata ketika bicara. Sampai puisi mengajarkanku untuk tidak takut didengar. Kini, aku sudah menerbitkan buku, dan bahkan sempat melakukan tur. Aku lebih lancar menulis, meski tetap sesekali tersendat. Dan itu tidak apa-apa.

Menulis bagiku bukan lagi sekadar aktivitas. Ia sudah menjelma menjadi jalan yang panjang, yang membuatku tersesat berkali-kali—namun entah kenapa, aku terus kembali. Aku pernah memimpin komunitas sajak bernama Sajak Liar, sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Apa tujuanku sekarang? Menulis buku lagi, tentu saja. Tapi, aku belum tahu bentuknya. Masih dalam tahap riset. Terlalu banyak keresahan, terlalu banyak pertanyaan. Aku memilih membiarkan tulisan yang membawaku ke mana pun ia mau.

Singkat cerita, setelah sesi perkenalan itu, kami mulai membaca puisi. Boleh karya sendiri, boleh karya orang lain. Aku memulai dengan puisiku sendiri: Absurditas Anomali. Sebuah sajak tentang kelelahan menatap Instagram dan betapa dunia kini lebih banyak menciptakan emosi daripada ketenangan.

Lalu teman-temanku menyusul.

Ada yang membaca puisi tentang patah hati. Ada yang menulis tentang tubuh perempuan—judulnya Payudara. Seseorang membacakan puisi yang ia ikutkan lomba, tapi tidak menang. Katanya, ia ikut lomba itu atas saran kekasihnya.

Ada juga yang membacakan puisi interaktif. Setiap kali ia mengangkat korek api, kami harus serempak berseru, “Apa alasanmu?”

Itu ternyata puisinya sendiri! Katanya, ia sedang menjalin hubungan dengan seorang penyair. Maka menulislah ia. Karena, menurutnya, penyair hanya bisa diajak bicara lewat puisi.

Terdorong semangatnya, aku membaca lagi. Ini kali puisi WS Rendra yang berjudul Pesan Si Pencopet Kepada Pacarnya.

Malam kian larut, dan puisi-puisi kami mulai bergerak ke wilayah yang lebih sunyi.

Seseorang membaca puisi tentang neneknya yang wafat, tapi ditolak malaikat. Yang lain, baru berulang tahun, mulai menghitung jarak menuju usia empat puluh seperti menghitung sisa waktu. Dalam Doaku dibacakan, dan malam mendadak terasa hening seperti doa yang lupa kapan harus selesai. Lalu muncul puisi tentang Tuhan, yang bahkan terhadap pertanyaan sepele seperti “lebih baik makan jagung dengan telur rebus, atau makan jagung sambil merebus telur?” pun tak pernah memberi jawaban.

Tak ada yang menyela. Tak ada yang beranjak. Sebab, puisi membuat kami betah tinggal lebih lama.

Kami menutup pertemuan dengan satu permainan terakhir: puisi berantai. Masing-masing dari kami menyambungkan larik demi larik. Satu sajak tumbuh dari banyak tangan—dari suara yang tak seragam, dari ritme yang tak sepakat.

Tak ada yang tahu bagaimana rantai puisi itu akan berakhir. Tapi, kami membiarkannya tumbuh liar seperti itu. Ketika larik terakhir dituliskan, kami semua saling memandang seperti orang-orang yang baru saja selesai membaca surat dari suatu masa dan tak ingin buru-buru melipatnya kembali.

Dan malam pun benar-benar menjadi malam.

Kami merapikan kursi. Cangkir-cangkir kosong dibiarkan begitu saja. Seseorang mematikan lampu. Tapi, tak ada satu pun cahaya yang benar-benar padam. Sebab, puisi telah tinggal di sisa suara yang tak terucapkan. Ia tinggal di napas yang ditahan sebelum larik dibaca. Ia tinggal di jeda, di tatap yang tak saling tuntut. Dan barangkali, itu cukup bagiku untuk mengerti bahwa, seperti malam itu, puisi hanya minta satu hal: untuk dekat.

*Tulisan ini disunting dengan mengganti Ahap sebagai kolaborator dan menambahkan Bolo Space sebagai inisiator.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.