Lewati ke konten

Peristiwa

Pleidoi Evi Idawati: Mengembalikan Pertunjukan kepada Kata-Kata

September 23, 2025

Pleidoi Evi Idawati: Mengembalikan Pertunjukan kepada Kata-Kata

Memasuki kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta seperti menguak kenangan belasan tahun yang lalu. Hanya beberapa bangunan yang berubah, tetapi tidak dengan aktivitas mahasiswanya. Di sudut-sudut kampus, mahasiswa masih aktif dengan beragam kreativitasnya. Dulu, saya mengalami seperti mereka meski bukan bagian dari mahasiswa kampus di Jalan Parangtritis itu.

Setelah memarkir kendaraan, kaki saya bergegas menuju Gedung Auditorium Teater WS Rendra tempat pertunjukan digelar. Suasana di luar gedung sudah sepi. Saya sempat ragu, tetapi seorang penjaga buku tamu tampak saya kenal wajahnya. Setelah bersalaman, penjaga itu menjelaskan bahwa pertunjukan sudah berlangsung.

Ah, sial! Padahal sudah berusaha tepat waktu. Ya, tepat waktu sesuai perkiraan saya, tetapi rupanya ketidakcermatan melihat publikasi membuat saya kecelik.

Baiklah. Buru-buru saya masuk. Pertunjukan sudah setengah berjalan. Saya sengaja tidak mencari kursi, hanya diam di jalur masuk, dan berusaha fokus. Mata dan telinga terpasang untuk menyimak kata-kata yang tak henti terlontar di panggung.

Beberapa waktu berjalan, pertunjukan ini rupanya tidak mengikat penonton pada alur sebagaimana teater realis. Datang terlambat tak berarti kehilangan makna. Masuk pada menit ke berapa pun, penonton akan selalu disambut pesan dari kata-kata yang terus dilontarkan aktor. Bedanya, yang menonton sejak awal akan merasakan seratus persen pesan, sementara yang terlambat hanya akan menerima sebagian. Pertunjukan ini ibarat aliran kata yang terus mengucur. Siapa pun yang menadahkan tangan, kapan pun, akan mendapatkan curahan.

Di panggung Festival Teater Perempuan Yogyakarta (FTPY) 2025 Sabtu malam itu (20/9/2025), tubuh-tubuh muda meminjamkan suaranya bagi sebuah puisi panjang. Tidak ada tata panggung mewah, tidak ada properti riuh. Hanya ruang sederhana yang disulap menjadi altar kata-kata. Dari ruang inilah Sindikat Tuak Perempuan: Gragas, lahir dan berdiri tegak di hadapan penonton.

Pertunjukan ini diproduksi oleh Rumah Sastra Evi Idawati bersama program asuhannya, Piwulang Sastra, dan disutradarai oleh ibu-anak Evi Idawati-Maharani Khan Jade. Belasan pemain muda, sebagian masih remaja, sebagian lainnya mahasiswa, berlatih selama beberapa bulan, seperti yang tampak dalam unggahan media sosial @Eviidawati9. Mereka menyalurkan energi kolektif dalam bentuk teater non-realis.

Musik garapan Hari Macan dan Ideawork menjadi denyut latar, mengiris lirih, dan menghadirkan estetika melankolia. Meski sederhana, pertunjukan itu menjelma seperti secawan tuak: getir, hangat, sekaligus memabukkan.

Kritik Sosial dalam Balutan Spiritualitas

Mbak Evi tak sekadar mencipta pementasan, tetapi juga merancang ruang kontemplasi.

“Mengembalikan pertunjukan pada kata-kata,” bisiknya ketika saya menyalami untuk menyampaikan ucapan selamat.

Bisikan itu terasa seperti pleidoi baginya. Dan benar, kata-kata itu berdiri sebagai pusat: mengalir, menyayat, menggugat, lalu merayakan.

Puisi yang dibacakan menyodorkan kritik sosial dan bahkan politik. Ia menelanjangi wajah kesalehan yang kerap menjadi topeng. Di media sosial, di ruang-ruang pengajian, kesalehan ditampilkan sebagai citra dengan kerudung, doa, dan laku simbolik. Namun, di balik itu, ada sindikat kepentingan yang bermain, yang entah itu ekonomi, kekuasaan, maupun gengsi. Pertunjukan ini menyingkap paradoks itu dan menyoroti jarak antara citra religius dan kenyataan hidup.

Sindikat Tuak Perempuan tak berhenti pada gugatan. Kata-kata yang sama juga menyalakan api spiritualitas perempuan. Doa, harapan, dan kekuatan batin dipanggil dari tubuh-tubuh aktor, menandai bahwa perempuan bukan sekadar objek norma, melainkan rahim kebaikan dan penumbuh cahaya. Kritik berpadu dengan spiritualitas, luka bersanding dengan penyembuhan.

Estetika Melankolia, Generasi Muda, dan Konsistensi Rumah Sastra Evi Idawati

Kesederhanaan artistik justru membuat pertunjukan ini berdaya. Panggung yang lapang serta tata cahaya yang lembut memberi ruang agar kata-kata bisa bernapas. Seandainya panggung itu penuh dengan tata panggung yang simbolik, betapa penonton akan terpecah dalam penafsiran. Musik menyayat, mengalir seperti rintihan dan bisikan, menyalakan suasana melankolia yang pekat.

Namun, di balik pesona itu, ada paradoks kecil. Suara beberapa aktor tanpa mikrofon tenggelam oleh musik, yang membuat sebagian pesan tak sampai sepenuhnya. Padahal, inti dari pertunjukan ini adalah kata-kata. Meski demikian, keterbatasan itu tak mereduksi kekuatan puitik. Justru di situlah terasa kejujurannya: teater bukan ruang sempurna; ia adalah pergulatan antara bunyi, tubuh, dan makna.

Ada satu hal yang patut diapresiasi lebih jauh: kehadiran generasi muda di panggung ini. Sebagian pemain adalah remaja, sebagian mahasiswa, yang dengan penuh kesungguhan meminjamkan tubuh dan suara bagi karya sastra. Kehadiran mereka bukan hanya menambah semangat segar, tetapi juga menjadi tanda bahwa benih-benih teater dan sastra masih tumbuh di tanah yang subur.

Rumah Sastra Evi Idawati telah konsisten menumbuhkan benih itu. Melalui komunitas Piwulang Sastra, Mbak Evi tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membangun ruang pembinaan bagi yang muda—mengarahkan mereka kepada disiplin seni, kepekaan sosial, dan keberanian bersuara. Dari konsistensi inilah Sindikat Tuak Perempuan menemukan ruhnya: bukan sekadar pertunjukan, melainkan proses panjang pendidikan estetika dan nurani.

Sindikat Tuak Perempuan: Gragas akhirnya bukan sekadar teater, melainkan pernyataan sikap. Ia menyodorkan cermin, menuntut penonton untuk menatap wajah sosial yang dipoles kesalehan semu, sembari mengingatkan bahwa di balik itu ada spiritualitas perempuan dan generasi muda yang terus menjaga nyala kata-kata. Dari panggung sederhana di FTPY 2025, suara-suara itu bergetar: menggugat topeng sosial, menyalakan cahaya batin, sekaligus meneguhkan harapan pada masa depan teater dan sastra.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.