Peristiwa
Nyaring Dari Dalam Kubur
April 27, 2025
Padat. Mengerikan. Perih.
Tiga kata yang tidak keluar dari mulut, melainkan dari rongga dada yang mendidih oleh kenangan. Ia bukan deskripsi, bukan simpulan, tetapi gema dari luka-luka yang tak kunjung tidur. Malam itu, kau duduk di Warung Sastra, Senin, 21 April, dalam pertemuan yang sederhana, tapi mengandung bara. Erika Rizqi, sang moderator, berdiri dengan tenang dan tajam seperti bayangan lampu minyak di dinding rumah tua, lalu memintamu dan semua yang hadir mengucap satu kata. Satu saja. Tapi, harus jujur.
Dan kata-kata itu pun lahir, seperti batu nisan yang dipahat diam-diam: padat, mengerikan, perih.
Buku yang dibicarakan malam itu bukan buku biasa. Ia Dari Dalam Kubur, sebuah novel, tapi juga suara. Ia ditulis oleh Soe Tjen Marching, lahir dari penggalan-penggalan hidup yang remuk, dari tubuh-tubuh perempuan yang direnggut paksa oleh tangan kekuasaan pada tahun 1965. Novel ini bukan rekayasa. Ia adalah kenyataan yang disamarkan agar bisa hidup. Agar bisa lewat dari pengawasan yang tak pernah benar-benar pergi sejak kekuasaan mengukuhkan dirinya sebagai satu-satunya juru tafsir.
Erika menjanjikan sesuatu: malam itu tak hanya membicarakan isi buku. Tapi, juga isi zaman. Karena sejarah, seperti yang ditulis dalam diam oleh para perempuan itu, masih terus menetes dalam kehidupan kita hari ini.
Dari barisan kursi, Sun Lie mengangkat tangannya. Dengan suara pelan tapi tajam, ia bertanya, apakah novel ini juga jatuh ke dalam perangkap yang sama, yakni stereotipe atas etnis Tionghoa? Karena, baginya, stigma terhadap Tionghoa bukan sekadar tentang uang atau dagang, bukan pula tentang sekolah tinggi atau kebiasaan menyembah leluhur. Bagi Sun Lie, stigma itu lebih sunyi, lebih licik: bahwa Tionghoa selalu dibayang-bayangi tuduhan sebagai “komunis”.
Dan karena “komunis” telah diolah menjadi sinonim dari segala yang tabu dan terlarang, otomatis pula ia menjadi “ateis”, musuh diam-diam dari apa yang disebut sebagai ideologi negara. Seberapa pun seorang Tionghoa sembahyang, seberapa tebal peci yang ia kenakan di hari Jumat, di mata kekuasaan ia tetap dianggap tak percaya. Tak layak. Tak bersih.
Kata “komunis” bukan lagi label. Ia telah menjadi senjata. Ditodongkan ke arah siapa pun yang berbeda, siapa pun yang tak patuh.
Soe Tjen mendengar itu dengan pandangan yang dalam. Ia tak menyanggah, tapi menyambung: bahwa betapa pun kerasnya stigma itu, sebagian orang Tionghoa memilih untuk menolak luka dengan cara menjadi lebih keras pada diri sendiri. Mereka bekerja lebih giat, mengumpulkan lebih banyak, menata hidup lebih rapi—semata-mata untuk membuktikan bahwa mereka layak. Bahwa mereka lebih baik.
“Dan itu tidak sehat,” kata Soe Tjen. Ucapannya mengendap di ruangan, seperti abu dupa yang perlahan turun di lantai batu.
Ada hal-hal yang tak direncanakan, tapi justru tumbuh menjadi keharusan. Demikianlah kira-kira yang terjadi pada Soe Tjen. Ia, yang sebelumnya hanya berkutat pada novela dan esai, tak pernah membayangkan akan menulis sebuah novel sepanjang lima ratus halaman. Niat awalnya sederhana, bahkan nyaris terasa seperti pekerjaan arsip: menyusun kesaksian, mewawancarai para korban genosida 1965, lalu menyentuh generasi setelahnya—anak-anak dan cucu-cucu yang mewarisi luka dari masa silam yang tak mereka mengerti.
Namun, kenyataan, sebagaimana puisi-puisi malam yang ditulis dalam diam, sering kali membuka jalan yang tak terduga. Dari antara para korban yang diwawancarainya, satu kesadaran hadir perlahan-lahan: perempuanlah yang paling menderita. Dan penderitaan mereka, seperti bara di dalam abu, tak tampak, tapi terasa panasnya.
Pada mulanya, mereka menghindar. Mereka berkata ringan, “Yang terjadi pada saya cuma begini.” Kalimat itu, seperti dinding rendah yang menutupi jurang yang dalam. Namun, waktu punya caranya sendiri untuk mengikis. Dalam wawancara berikutnya, kata-kata berubah menjadi, “Saya dilecehkan.” Dan hanya setelah kesekian kali, dalam suasana yang tenang dan kepercayaan yang dipupuk sabar, pengakuan itu akhirnya keluar: “Saya diperkosa.”
Ada rasa malu yang menebal. Bukan karena mereka bersalah, tapi karena dunia tak siap mendengar kebenaran mereka. Mereka takut dianggap pengarang dusta, takut bahwa penderitaan mereka akan dicurigai sebagai fiksi. Maka sebagian kisah ditahan. Tak boleh ditulis. Dan Soe Tjen pun mengalah. Ia membungkus kebenaran itu dalam fiksi. Ia menulis Dari Dalam Kubur.
Dalam dunia yang masih menyangsikan luka, fiksi menjadi jalan sunyi bagi nurani. “Ketika korban masih takut bicara,” kata Soe Tjen, “itu artinya pemerintah masih otoriter.” Maka di sampul bukunya ditulis: Ini lebih nyata dari kisah nyata.
Ramayda Akmal (akrab disapa Ayda), selaku penanggap diskusi malam itu, menyebut Dari Dalam Kubur sebagai karya yang justru karena sifatnya privat, menjadi sangat politis. Sejarah resmi hanya mencatat garis besar, dan sering kali garis itu pun salah arah. Ia ibarat batang besar pohon tanpa ranting, tanpa bunga. Dari Dalam Kubur menghadirkan ranting dan bunga-bunga itu—fragmen-fragmen perempuan yang tak diberi tempat dalam narasi bangsa. Mereka menjadi situs luka yang tidak pernah betul-betul diobati.
Novel ini bergerak di antara tahun 1965 hingga 1998. Sebuah bentang waktu yang panjang dan penuh gelap. Erika melihat ada jarak yang dijaga penulis terhadap peristiwa sejarah. “Mengapa?” tanyanya.
Jawaban datang dari Ayda. Katanya, fiksi sejarah bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk menakar masa kini dan masa depan. Luka yang belum selesai di masa lalu adalah beban yang menekan hari ini.
Soe Tjen mengangguk. Ia bercerita bahwa pada awal 2019, novelnya sempat hendak diterbitkan oleh sebuah penerbit besar. Tetapi, penerbit itu ingin menyensor. Soe Tjen menolak. Ia memilih Marjin Kiri, penerbit kecil yang bersedia menerbitkan tanpa syarat. Ia tak ingin berseteru. Ia tahu, penerbit besar itu juga sedang ditekan. Dari mana datangnya tekanan? “Entah,” katanya sambil mengangkat bahu. Namun, sorot matanya mengucapkan sesuatu yang tak terjangkau oleh lidah.
Setelah gema yang lebih nyaring daripada kata-kata, Soe Tjen, mengajakmu—dan semua orang yang malam itu berhimpun di Warung Sastra—untuk menoleh sejenak, mengingat sosok yang selalu menulis dengan pena bertinta api: Pramoedya Ananta Toer. Pram, katanya, bahkan tak pernah menulis kata “komunis” dalam novelnya. Tapi, tetap diberedel. Sejarah, dalam diamnya, berulang. “Karya Pram, dan karya saya, bukan tentang pemerintah hari ini,” ucapnya. “Ini tentang yang lalu. Lantas, kenapa masih ditakuti?”
Bagi Soe Tjen, genosida ’65 bukan sekadar tragedi. Ia adalah absurditas sejarah yang membangkang nalar. Bagaimana mungkin sebuah peristiwa sebesar itu kehilangan angka, kehilangan nama, kehilangan jejak? Bahkan dari pertanyaan yang paling sederhana—berapa jumlah korban?—tak satu pun data mampu menjawab dengan pasti. “Korban bukanlah data…,” katanya, “… yang bisa dihapus begitu saja.” Di antara banyaknya korban yang terlupakan, perempuan Tionghoa adalah yang paling tenggelam. Tubuh dan nasib mereka nyaris tak pernah diangkat ke permukaan.
Lalu tiba-tiba, dari tengah percakapan yang nyaris retak oleh banyaknya luka yang diungkap malam itu, Soe Tjen mengajukan sebuah pertanyaan. Suaranya lembut, nyaris seperti nyanyian dari kejauhan. Tapi, kata-katanya menampar waktu.
“G30S disebut sebagai kudeta gagal oleh Orde Baru. Setujukah kalian?”
Pertanyaan itu bukan untuk dijawab tergesa-gesa. Karena malam seakan menahan napas. Dan di Warung Sastra malam itu, pertanyaan itu terasa seperti menabur abu ke atas bara, menyala tanpa suara.
Tapi, bahkan sebelum siapa pun sempat membuka mulut, Soe Tjen sendiri yang melanjutkan. Bukan dengan pernyataan. Melainkan dengan gugatan. Empat pertanyaan lain dan satu kutipan dokumen yang telah lama terbenam oleh pembenaran negara.
Pertama, katanya, “Apa ada kudeta yang gagal, tapi presidennya diganti?”
Kau bisa mendengar desir angin kecil lewat lubang atap saat kalimat itu menggantung.
Kedua, ia bertanya lagi, “Jika komunisme memang harus diberantas, mengapa komunisme haram dipelajari? Bagaimana caranya membunuh cahaya jika kita belum pernah mengenal terang?”
Ketiga, ia menggiring kita pada angka. Pada dokumen. Pada sejarah yang tak lagi bisa ditolak karena telah disahkan oleh tinta negara. Di Indonesia, deklasifikasi dokumen dilakukan setiap tiga dekade. Dan di antara 30.000 dokumen tentang PKI, ada satu dari Amerika Serikat yang mencatat: CIA mengirimkan senjata untuk membantu Angkatan Darat. Dan Adam Malik mengirim telegram yang tenang, tapi mencabik hati: 400.000 orang sudah dibantai. Apa balasan Amerika? Satu kata: Lanjutkan.
Keempat, Soe Tjen menanyakan, “Kalau PKI memang berniat melakukan kudeta, kenapa mereka tak bersenjata? Mengapa harus memilih jalan kekerasan, padahal mereka justru diprediksi menang dalam pemilu berikutnya?”
Dan terakhir, ia membuka luka yang telah lama menjadi dongeng gelap yang dijejalkan ke kepala anak-anak negeri. Tentang Gerwani, perempuan-perempuan yang dituduh menggila di malam kelam. Dipropagandakan memotong penis para jenderal, menari-nari di atas mayat, membakar martabat perempuan.
Lalu Soe Tjen bertanya pelan, “Jika benar organ vital mereka dimutilasi, mengapa dalam foto-foto itu para jenderal masih mengenakan celana?”
Sunyi merambat. Hanya derak patah ranting yang kau dengar.
Dan ketika Soe Tjen menatap ke sekeliling—mata-mata yang tak lagi berani menatap balik—kau bayangkan ia tersenyum kecil. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seorang yang tahu: pertanyaan terakhir belum ia ajukan. Kau bayangkan ia menunduk sejenak, seperti hendak mengambil napas yang dalam, lalu mendongak dan berkata,
“Dan bagaimana kalau… yang kalian sebut sejarah itu, sejak awal, adalah fiksi yang paling berhasil ditulis bangsa ini?”
Lalu listrik padam.
Memang, sunyi sering kali enggan diajak kompromi.