Peristiwa
Minyak Bertemu Minyak, dan Lain-lain yang Tidak Normal
July 8, 2025
Jika suatu saat semua orang menyembah sol sepatu, Dea tidak ingin ikut menyembah. Kecuali kalau nanti ada kejadian yang membuatnya terpaksa menyembah sol sepatu juga. Itu lain soal. Barangkali itulah mengapa Dea Anugerah dan Arwin Hidayat berjodoh. Sore itu mereka sama-sama sadar bahwa kewarasan bukan bakat utama mereka.
***
Tak ada yang istimewa dari Sabtu sore, 28 Juni 2025, kecuali bahwa pada hari itulah Ipank Pamungkas, yang lebih sering kulihat di pojok kafe membaca buku usang atau memelototi layar ponsel dengan wajah bingung, menjadi moderator bagi Dea dan Arwin di Shira Media Library and Coffee Corner. Ia, boleh jadi, tidak mendaftar untuk peran itu, sebagaimana pradugaku, bahwa kebanyakan hal dalam hidupnya datang tanpa aba-aba.
Nyatanya, diskusi itu tetap dilangsungkan. Kepada peserta, Ipank memperkenalkan Arwin, pelukis sampul dan ilustrasi untuk edisi baru Bakat Menggonggong yang diterbitkan ulang oleh Shira Media.
Apakah sampulnya relevan dengan isi? Bagi Dea, tak perlu harfiah. Kalau ceritanya tentang harimau, tak harus ada gambar harimau. Yang penting, sampulnya tidak berbohong. Ia harus setidaknya sekadar murung kalau ceritanya sangat murung, atau menyalak pelan kalau ceritanya menggonggong.
Menurut hemat Dea—yang merasa hematnya tidak selalu bisa diandalkan—gambar Arwin sudah pas. Mood Bakat Menggonggong tertangkap, seperti anjing liar yang menggonggong di bawah bulan sabit.
Sampul Bakat Menggonggong memang selalu binatang. Cetakan pertama yang terbit di Mojok bergambar cumi-cumi. Edisi ini lain lagi. Arwin sempat bertanya, “Sampulku begini kok ada yang mau?” Dea menimpali, “Lha ceritaku begini kok ada yang baca?” Sontak, tawa pecah di ruangan itu. Mungkin karena semua orang tahu tak ada hikmah dalam cerita-cerita Dea, tapi toh mereka tetap membeli bukunya.
Dea mengaku memang suka mengganggu pembaca. Struktur konflik naik terus, tapi resolusi tak pernah datang. Ipank bilang itu keunggulan. Dea bilang, itu keisengan. Setelah bertahun-tahun Bakat Menggonggong disimpan dan diendapkan, apakah ia ingin menulis dengan gaya lain? Dea menjawab, “Tidak mungkin cerita yang berkhotbah semacam Robohnya Surau Kami. Nanti kurobohkan sungguhan.”
Dea hanya menulis tentang hal-hal yang membuatnya penasaran. Masalahnya, hal yang membuat ia penasaran sering kali tidak menarik bagi orang lain. Ketika teman-temannya bersemangat meliput Tim Mawar, Dea justru ingin menulis tentang tukang cukur yang jalannya mirip kepiting.
Untungnya, menurut pengakuan Dea, ia dikelilingi orang-orang yang cukup sabar menerima “pasien” seperti dirinya. Pernah, karena terlalu suka topik-topik ganjil, Dea diminta meliput tahun baru di pulau tak berpenghuni. Liputannya? Bukan pesta kembang api, melainkan dikejar biawak.
Pernah juga, ia ditugasi menulis cerita rakyat untuk kabupaten baru yang belum punya cerita rakyat. Lalu Dea menulis tentang betapa sulitnya menulis cerita rakyat. Lengkap dengan mitos lokal dan refleksi pengarang. Semacam metafiksi yang nyaris gagal, tapi selamat.
Banyak hal yang dikerjakannya karena satu alasan sederhana: penasaran dan tentu saja, ingin kaya. Ia menikmati ketidakbiasaannya. Lebih baik jika bisa dibayar pula karenanya.
Tahun 2014, Dea menulis cerpen sebagai sumber penghasilan. Tapi, honornya sering terlambat. Cerita-ceritanya pun getir, sekaligus jenaka. Sebab, waktu itu ia miskin. Sangat miskin. Kosannya bocor di mana-mana. Satu-satunya area yang kering adalah kasur. Ia tidur sambil memeluk buku. Di situlah ia sadar dirinya miskin.
Dua hari kemudian, ia berangkat kerja ke Jakarta. Desakan di KRL mempertegas kesadaran itu. Hiburan satu-satunya di akhir pekan adalah sekaleng bir, rokok, dan lagu Indonesia Pusaka dari radio RRI tetangga.
“Sepatutnya Bakat Menggonggong getir,” tegasnya.
Lalu, kenapa tokohnya selalu orang-orang terdekat? Dea menjawab santai, “Saya punya banyak Pokémon unik.” Seperti kata seorang filsuf: minyak berkumpul dengan minyak.
Ketika seorang peserta bertanya, “Menurut kalian, seni itu apa?” Arwin menjawab, kalau seni adalah soal kegelisahan, bukankah semua orang gelisah? Tapi hari ini, baginya, yang penting karya bisa menganugerahi dan menghidupi. “Bayangkan kalau anak minta sepeda, terus saya jawab: ‘Sabar, Nak, Bapak sedang gelisah.’”
Dea mengangguk. Ia sudah berkeluarga sekarang. Tapi, menghidupi, baginya, bisa berarti lain. Seorang peserta bercerita tentang murid SD-nya yang hanya mau dIpanggil Patrick Wicaksana—nama seorang kurator tragis di Bakat Menggonggong. Anak itu pernah dikasih nilai nol karena mencantumkan buku Dea sebagai salah satu dari lima buku sastra favorit. Kabarnya, kasus itu bahkan sampai dibawa ke pengadilan.
Dea tak tahu harus tertawa atau menangis. Bagi Dea, tak ada yang namanya humble reader. Semua pembacanya adalah deluxe reader. Ia selalu merasa ada sesuatu yang mengalir antara dirinya dan pembaca.
“Kalau antara dirimu dan pembaca Tere Liye?” tanya Ipank
Dea terdiam. Ia menatap langit-langit sejenak, seperti sedang menimbang berat molekul udara. Lalu ia menjawab dengan wajah nyaris suci, “Silakan saja.”
Tawa pecah lagi. Tak semua tahu maksudnya, tapi seperti biasa, semua tertawa.
Itulah yang terjadi ketika minyak bertemu minyak, dan tidak ada yang mencoba menyulut api.
Belum.
Di sudut ruangan, aku membuka Bakat Menggonggong. Lalu, di halaman ketiga atau keempat—aku lupa tepatnya—Dea seakan melambaikan tangan padaku. Bukan dengan ramah, tapi dengan gaya orang congkak yang tahu betul aku akan mengikutinya.
“Kau jangan mati dulu. Besok kuceritakan yang lebih menarik.”
Aku diam. Tak tahu harus percaya atau tidak. Tapi, Shira Media Library and Coffee Corner sudah terlanjur sepi, dan aku tak punya alasan cukup kuat untuk tidak mengekor Dea ke Buku Akik.
Catatan redaksi: Tulisan ini adalah yang pertama dan satu seri berisi dua tulisan. Tulisan berikutnya bisa di baca di sini.