Lewati ke konten

Peristiwa

Mengalirkan Silat, Surat, dan Sore di Ruas Bambu

June 27, 2025

Kredit foto: Ruas Bambu Nusa.

“Beberapa hari lalu, Bre Redana datang ke Salihara. Ia berbicara tentang tubuh dan puisi, tentang bagaimana silat, dalam bentuknya yang paling sederhana, bisa dimulai dari satu gerakan kecil: jari yang digerakkan perlahan.”

Goenawan Mohamad menyampaikan hal itu dalam jagongan kebudayaan yang berlangsung Kamis sore, 19 Juni 2025, di Ruas Bambu Nusa, Yogyakarta.

Tubuh, kata Goenawan Mohamad, punya kemampuan untuk menangkap ritme secara alami. Kemampuan itu diam-diam membantu kita menyintas hidup yang keras.

Acara itu diselenggarakan untuk menandai peluncuran buku The Sword and The Pen karya Bre Redana. Sebelumnya, buku ini terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Silat, Surat, Minggu Bersama Guru dan diterbitkan oleh Tanda Baca. Kini, buku itu hadir dalam bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Vivi Yip—istri Bre.

Jam berapa acara dimulai? Yang jelas, waktu terulur sore itu. Sementara panitia bersiap di simposium bambu, kawan-kawan Bre Redana justru masih asyik bercakap-cakap di lounge. Jagongan, begitu mereka menyebutnya. Ketika seseorang bertanya soal keterlambatan, Bre hanya mengangkat bahu. “Tidak dimulai, ya tidak apa-apa,” katanya pelan. Baginya, seni adalah srawung—kumpul-kumpul yang tulus. Dan untuk bisa berkumpul, orang selalu mencari-cari alasan.

Goenawan Mohamad, misalnya, membuat Salihara. Itu ruangnya. Bre tidak punya ruang seperti GM, jadi ia menciptakan alasan lain: menulis buku dan melakukan kolaborasi. Salah satunya dengan Eka, pendiri Pojok Cerpen dan Tanda Baca. Mereka mengadakan pelatihan menulis yang dalam proses kreatifnya melibatkan latihan olah tubuh. Silat menjadi cara memahami ritme dan bahasa. Bagi Bre, Eka bukan lagi sekadar penerbit. Ia adalah rekan seperjalanan. Co-publisher.

Acara kebudayaan itu akhirnya dimulai. Sederhana. Bre menyerahkan buku The Sword and The Pen kepada Goenawan Mohamad dan Oei Hong Djien. Ini sebuah simbol. Ia pernah menyunting buku Oei Hong Djien. Kini, gagasan tentang hubungan antara silat dan menulis—yang ia sebut Silat Surat itu akan hadir di Art Jog 2025.

Setelah itu, hadirin mendengarkan pembacaan buku Silat, Surat, Minggu Bersama Guru, baik dalam versi Indonesia maupun Inggris. Rita dari Murakabi Movement mendapat giliran pertama. Ia membaca bab 22. Bab ini tentang tubuh dan tulisan. Dua hal yang menyatu dalam harmoni. Latihan mengolah tubuh, seperti menulis, adalah latihan untuk menyelaraskan pikiran dan rasa.

Dalam Silat, Surat, Minggu Bersama Guru, Bre mengutip Rendra: hadir, mengalir, meruang, dan mewaktu. Empat kata itu mengandung makna dalam. Namun bagi Bre, itu menjadi problematik dalam dunia digital hari ini. Ya, dunia digital telah mempercepat banyak hal, termasuk persepsi tentang kenyataan. 

Media baru—berbeda dengan koran, buku, atau majalah—menghasilkan bukan hanya informasi, melainkan juga kebisingan. Bohong yang sistematis. Fake news. Tapi, Bre lebih suka menyebutnya fake narrative. Karena, kebohongan yang efektif harus dibangun dengan narasi yang masuk akal. Harus ada logika. Harus ada sebab-akibat. Kebohongan yang ceroboh tidak akan bertahan lama.

Di tengah kabut fake narrative, Bre kembali ke tubuh. Latihan olah tubuh, katanya, adalah latihan menuju kejernihan dan kesadaran. Dunia surat, baginya, menuntut kejujuran yang sama. Tak ada yang lebih jujur dari tubuh. Lapar, ya makan. Lelah, ya istirahat. Ngantuk, ya tidur. Begitu juga bahasa dalam surat. Bahasa yang jujur membawa kejelasan. Sebaliknya, ketidakjujuran hanya melahirkan kabut.

Putu Fajar Arcana —Bli Can, begitu ia akrab disapa—turut membaca bab 9. Bab ini tentang mengalihkan perhatian dari ambisi ke proses. Sebagai sastrawan yang pernah 12 tahun menjabat sebagai redaktur sastra Kompas, ia merasa dekat dengan pengalaman menulis Bre.

“Dari pengalaman berlatih silat, saya terbantu merumuskan jawaban atas pertanyaan tersebut, bahwa saya tidak mencari atau menunggu inspirasi. Saya melakukan gladi surat sebagaimana saya melakukan gladi silat: berlatih tiap hari. Bangun bersama terang tanah. Setelah itu, kalau tidak melakukan olah gerak, saya menulis (atau membaca buku), Kadang saya melompat ke lantai dari tempat tidur dengan gulingan,” Bli Can menandaskan penggalan buku yang dibacanya sambil menyeringai. Sebab, lagi-lagi, Bli Can merasa ada yang selaras dalam dirinya. Ia bercerita—setiap bangun tidur, ia langsung duduk di meja, lalu mulai menulis.

Anak-anak muda rupanya juga mendapat tempat dalam jagongan malam itu. Salah satunya, putra penyanyi Yuni Shara—keponakan Bre Redana. Ia naik ke panggung dan membacakan pengantar buku The Sword and The Pen. Katanya, ia merasa terhubung dengan isi tulisan itu. Di rumah, ia membaca Dazai dan Dostoyevsky. Di antara kata-kata mereka yang suram dan penuh gelisah, ia mencoba menangkap apa yang tak sempat atau tak sanggup diucapkan oleh para penulisnya.

Seorang perwakilan dari Ruas Pustaka juga membaca penggalan Silat, Surat, Minggu Bersama Guru. Ruas Pustaka sendiri adalah bagian baru dari Ruas Bambu Nusa. Masih muda, tapi penuh ambisi.

Dari perkenalan singkat yang terdengar malam itu, Ruas Pustaka disebut lahir dari semangat membaca, dan dari keinginan membangun ekosistem literasi yang berakar kuat pada gagasan sembilan kecerdasan yang dikembangkan Howard Gardner. 

Ruas Pustaka yang diresmikan siangnya, pada hari yang sama, seakan meniupkan napas bagi “Maklumat Kesadaran” yang dibacakan Butet Kartaredjasa yang memungkasi rangkaian acara sore itu:

“Perkembangan peradaban manusia selalu disertai keresahan karena manusia pada dasarnya adalah makhluk yang resah. Saat ini kita menyaksikan generasi pertama manusia era digital yang tak tahu beda antara momen kasunyatan dengan momen kepalsuan/kedustaan. Digitalisme sebagai kebudayaan baru berkemungkinan mengubur kenyataan sejati. Hanya kesadaran yang bisa menyelamatkan kemanusiaan.”

Ruas Pustaka akan tumbuh berdampingan dengan Suara Dewandaru dan Permata, yang masing-masing menyelami seni suara dan berkiprah di bidang sinema. Di antara mereka, Ruas Pustaka hadir sebagai penyedia subteks, menyusup ke dalam kedalaman makna dari setiap kegiatan yang berlangsung di Ruas Bambu Nusa. 

Ini, boleh jadi, merupakan bukti nyata bahwa krida silat dan krida surat tidak hanya dipelajari, tetapi dijalani sebagai cara untuk hidup dengan lebih jernih—bagi siapa saja yang percaya bahwa kesadaran bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang perlu dijaga, dipelihara, dan ditumbuhkan dalam gerak sehari-hari.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.