Lewati ke konten

Peristiwa

Mendekolonisasi Malam Minggu di JBS

September 28, 2025

Mendekolonisasi Malam Minggu di JBS.

Soal malam minggu, saya jadi teringat teman saya waktu kepulangan terakhir ke Tangerang. Ia cerita banyak hal, tapi satu kalimat yang masih terngiang di telinga saya adalah ini: “Malam minggu tuh bukan malam romantis,” katanya, yang diucapkan dengan bahasa Sunda kasar kabupatenan.

Dengan mengatakan begitu, selalu ada gelagat jomblo yang bisa terbaca. Apalagi ketika ia mengatakannya pada saya yang sudah kadung kenal, dan tahu kenyataan bahwa ia memang belum pernah merasakan punya kekasih.

Yang bagi saya jadi menarik adalah munculnya semacam kejengahan darinya. Dalam bahasa lain, ia seperti mengatakan: kenapa, sih, malam minggu jadi malam yang selalu dihubungkan dengan hal-hal romantis seperti itu?

Dan bagi saya, pertanyaan lanjutannya adalah: sejak kapan?

Sabtu lalu (20/09/2025), saya datang ke kedai JBS (Jual Buku Sastra) masih dalam rangkaian Parade Sastra yang digelar di sana. Saya datang sejak siang menjelang sore, sekitar satu jam sebelum diskusi pertama dimulai. Sisa-sisa sinar matahari yang menerobos awan masih membelai hangat, tapi semilir angin sepoi yang menyambut sejak pertama kali datang ke toko buku yang diapit pematang sawah itu membuat suasana teduh dan sejuk jadi dominan.

Tempat diskusinya berada di bagian belakang toko buku, berupa sepetak hamparan rumput yang dikelilingi sawah, irigasi kecil, dan tanaman-tanaman liar. Saya duduk di bagian depan, di sebelah kanan tempat duduk pembicara yang kala itu sudah terpacak meja dan tiga kursi, lemari tempat buku-buku dipajang, dan spanduk hijau bertuliskan “Parade Sastra JBS” lengkap dengan berbagai mata acara.

Setelah hadirin berdatangan, sekitar pukul setengah empat, sesi acara dimulai. Abdillah Danny sebagai MC membuka acara dan lantas mempersilakan A. Mutaqqin, Pranita Dewi, dan Mutia Sukma untuk terlebih dahulu membacakan puisi masing-masing. Latief S. Nugraha kemudian sebagai moderator maju untuk memandu diskusi.

Ketiga pembicara itu kompak membicarakan puisi masing-masing dan proses kreatif mereka di baliknya. Ketiga buku mereka yang sama-sama pernah diterbitkan JBS. Diskusi berjalan asyik. Suasananya begitu hangat seperti obrolan di tongkrongan. Nyaris tanpa sekat antara pembicara dan pendengar.

Obrolan dengan ketiga penyair tersebut berjalan hampir dua jam, kemudian disudahi oleh matahari terbenam dan kumandang azan maghrib. Setelah jeda hampir satu jam oleh kedatangan rintik hujan, acara kemudian dilanjutkan oleh pembacaan puisi yang diberi nama Panggung Sastra.

Mira MM Astra, penyair asal Denpasar yang pernah menempuh studi di Ceko, membacakan puisi-puisinya terlebih dahulu, kemudian dilanjut oleh Komang Ira Puspitaningsih yang juga lahir di Denpasar dan kemudian memilih menetap di Yogyakarta sampai sekarang. Mereka tampil di hadapan hadirin—di depan susunan panggung sederhana itu—dan berdiri dan sama-sama membacakan lima puisi sambil mengobrol dengan pendengar.

Kerik jangkrik sayup-sayup mulai terdengar. Semilir angin yang pelan-pelan mulai menusuk, ditambah bulir-bulir air sehabis hujan yang masih gompal di sana-sini, membuat saya mengambil dan memakai jaket. Jam menunjukkan pukul dua puluh lebih ketika MC menyudahi Panggung Sastra dan kemudian menyebut mata acara lain malam itu: Orasi Sastra.

Saut Situmorang (Bang Saut) dipersilakan ke depan. Ia duduk di tengah, melemparkan kalimat yang membikin gelak pendengar, dan kemudian merapalkan satu mantra yang membuat hadirin makin merapat dan antusias, yakni “dekolonisasi”. Dekolonisasi sastra, tepatnya. Ini salah satu acara yang saya tunggu dari rangkaian Parade Sastra JBS.

Untuk meletakkan dasar pembicaraan, Bang Saut menyebut definisi “dekolonisasi sastra” di muka. Dekolonisasi sastra, katanya, merupakan kritik sekaligus reorientasi tentang bagaimana sastra dipelajari, diajarkan, dan dinilai dalam institusi akademik dan budaya. Ia berbicara tentang suara teks dan kerangka kerja, tentang siapa yang telah dijadikan pusat, dan siapa yang telah dipinggirkan atau dihapus dalam sejarah sastra karena sejarah kolonial dan dampak setelahnya.

Dekolonisasi sastra bergerak lebih radikal bila dibandingkan pascakolonial. Dekolonisasi sastra lebih bersifat aktivis. Maksudnya, kajian dekolonisasi sastra menekankan pada pembongkaran warisan kolonial yang masih aktif dalam struktur akademik. Jika kajian pascakolonial sering berfokus pada representasi, yang ditekankan pada kajian dekolonialisasi sastra adalah keadilan epistemik, yaitu hak sistem pengetahuan lain untuk membentuk cara kita membaca dan menilai sastra.

Setidaknya, kata Bang Saut, ada empat aspek yang ditekankan dan menjadi titik perhatian pada kajian dekolonisasi sastra.

Pertama, kritik atas kanon sastra. Teks-teks dari barat baik puisi, novel, ataupun drama selalu dianggap sebagai teks yang universal atau fundamental dalam pembicaraan sastra. Dekolonisasi sastra mempersoalkan asumsi bahwa sastra Barat merupakan standar nilai yang digunakan untuk mengukur semua sastra, termasuk sastra dari budaya non barat.

Dekolonisasi sastra menyerukan perluasan kanon. Agar juga mencakup karya-karya, baik dari wilayah yang masih di jajah barat maupun yang sudah merdeka, serta suara-suara masyarakat adat, diaspora dan minoritas.

Kedua, soal metodologi. Studi sastra sering kali bergantung pada kerangka teoretis yang dikembangkan dalam konteks budaya Barat, seperti formalisme, strukturalisme, atau pascastrukturalisme. Dekolonisasi sastra mempertanyakan apakah kerangka teori ini memang memadai untuk menganalisis teks yang berakar pada tradisi lisan epistemologi masyarakat adat atau estetika non-Barat. Dekolonisasi sastra menekankan cara membaca alternatif yang berdasarkan pada tradisi sejarah dan kosmologi lokal atau non-Barat.

Ketiga, politik bahasa. Kolonialisme memaksakan bahasa-bahasa Eropa seperti Inggris, Prancis, Spanyol, atau Belanda sebagai alat ekspresi budaya tinggi dan merendahkan bahasa-bahasa lokal atau bahasa-bahasa pribumi. Dekolonisasi sastra menghargai karya sastra dalam bahasa-bahasa pribumi dan terpinggirkan serta meyakini terjemahan bukan sebagai sesuatu yang netral, melainkan politis.

Keempat, mengubah konteks pembicaraan. Ketimbang membaca teks-teks non-Barat semisal dari Afrika atau Asia dalam kaitannya dengan tradisi sastra barat, dekolonisasi sastra mengedepankan perspektif sejarah, perjuangan sosial, dan tradisi intelektual non-Barat. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa karya sastra non-Barat bukanlah sekadar derivasi atau tiruan dari sastra Barat.

Max Havelaar dan Kartini dalam surat-suratnya kemudian disebut Bang Saut sebagai contoh. Ia mengatakan, Max Havelaar sudah kadung menjadi novel keramat di Indonesia. Bahkan, Pram menyebutnya sebagai The Book That Killed Colonialism dalam salah satu esainya. Sementara itu, Kartini selalu diglorifikasi dengan klaim-klaim yang taksa. Ia disebut sebagai feminis, pejuang pendidikan, nasionalis, dan seterusnya.

Padahal, ketika kedua teks—Max Havelaar dan surat-surat Kartini—tersebut dibaca lebih lanjut, justru menunjukkan hal sebaliknya. Keduanya, baik secara langsung maupun tidak, justru mendukung penjajahan itu sendiri.

Max Havelaar mengglorifikasi penjajahan. Ia menggambarkan pribumi, terutama daerah Banten Selatan yang menjadi latar novelnya sebagai primitif, sebagai tidak berbudaya dan harus diselamatkan oleh Belanda.

Persis seperti dalam Max Havelaar, Kartini dalam surat-suratnya menyebut Belanda yang menjajah sebagai cahaya dan segala sesuatu yang positif. Sementara itu, lawannya, yaitu adat, masyarakat lokal, kita sebagai pribumi, dianggap gelap, dan selalu dalam konotasi yang negatif. Door duisternis tot litch (dari kegelapan menuju cahaya) yang menjadi judul ketika surat-surat Kartini dibukukan merupakan sesuatu yang amat politis. Gelap adalah masyarakat lokal, budaya-budaya, dan semua yang berkaitan dengannya, sebelum dijajah Belanda. Terang itu setelah Belanda datang dan menjajah.

Persoalan dan pembahasan pada kedua teks ini bisa dibaca lebih lanjut dalam esai Bang Saut sendiri di sini dan di sini.

Pada konteks dekolonisasi sastra, narasi-narasi yang muncul dalam banyak teks sastra seperti itu perlu dibongkar. Teori-teori yang digunakan dalam menganalisis sastra yang selama ini lahir dan berkembang dari Barat yang hampir selalu memunculkan nilai-nilai kolonialisme di dalamnya mesti digugat dan dipertanyakan kembali. Mesti disusun teori-teori tandingan yang tidak menggunakan sudut pandang tersebut.

Namun, Bang Saut mengatakan, dalam dekolonisasi, pembahasaan soal sastra saja tidak cukup. Karena nilai-nilai kolonial sudah berakar pada banyak hal, dekolonisasi mesti berkembang juga di banyak bidang.

Bang Saut menyebut kopi sebagai contoh. Kita selalu mengaitkan budaya ngopi dengan Barat. Istilah-istilah yang berkaitan dengannya juga yang selalu kita gunakan, seperti cafe, barista, dan sebagainya. Padahal, biji kopi tidak bisa tumbuh di Barat. Kopi adalah tanaman khas daerah-daerah yang beriklim tropis. Tetapi, alih-alih menjadi budaya unik khas negara tropis, orang malah memandang Barat sebagai pusat kebudayaan untuk kopi.

Nilai-nilai kolonial yang tertanam dan terus direproduksi dalam banyak hal seperti itu jelas sangat mengerikan. Ia menjauhkan orang-orang dari budaya unik milik mereka yang melewati sejarah panjangnya masing-masing. Soal yang baik dan ideal akhirnya cuma memiliki satu tolok ukur. Menjadi lebih mengerikan ketika ia bertransformasi menjadi bentuk baru lewat modernisme dan kapitalisme.

Saya malah kembali teringat soal malam minggu dan pernyataan teman saya di muka itu.

Ketika kolonialisme mengambil bentuk baru dengan wajah modernisme dalam kerangka kapitalisme, apa pun bisa dikomersilkan dan dibuat industrinya. Tak terkecuali cinta antarmanusia. Muncullah benda-benda yang selalu dihubungkan dengan itu: cokelat, bunga, parfum, dan sebagainya di satu sisi, sementara di sisi lain, dalam dunia industrial yang memaksa orang-orang bekerja enam hari dalam seminggu, terciptalah malam minggu—waktu jeda yang biasa menjadi hari libur—sebagai hari romantis. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa cinta tak butuh benda-benda, dan tiap hari bahkan setiap saat selalu bisa menjadi hari romantis.

Diam-diam saya sepakat dengan pernyataan teman saya. Malam minggu perlu dilepas dari narasi-narasi industrial yang membentuknya dan dari bentuk kolonial lain yang tanpa kita sadari bisa membelenggu kita dari kebebasan.

Dan soal dekolonisasi, bagi saya, perlu menjadi kesadaran bersama yang mesti berangkat dari banyak hal sederhana. Malam minggu di JBS itu salah satu contohnya.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.