Lewati ke konten

Peristiwa

Kata-kata yang Belum Siap Menjadi Abu

August 10, 2025

Kredit: Kanya Kiarra.

Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk menulis untuk orang lain. Tulisan-tulisan yang bukan milikku, meski namaku tercatat di sana. Lama-lama aku lupa bagaimana rasanya menulis untuk diriku sendiri. Mungkin itu sebabnya, pada Jumat sore 25 Juli 2025, aku mendatangi sebuah lokakarya yang diberi nama Menulis dan Bersama Melebur yang Tersisa.

Di Bolo Space, Andrea Nirmala memandu ruang itu dengan cara yang pelan, jujur, dan intim. Ia mengajak semua orang untuk berdamai dengan sesuatu yang selama ini dibawa dalam hati. Di ujung acara, ada peleburan simbolis: semacam pelepasan, semacam transisi.

Andrea bukan nama asing di lingkaran film pendek Indonesia. Sutradara Gen Z ini sudah mencuri perhatian lewat Sawo Matang, Srikandi, dan Shallots and Garlic. Film-filmnya kerap menyelam ke trauma, cinta, tubuh, dan identitas. Karya-karyanya diputar di festival-festival besar, termasuk TIFF.

Katanya, ia awalnya datang ke Yogyakarta untuk healing. Tapi, seseorang “menculiknya” untuk mengisi lokakarya dan rangkaian acara How To Taylor Swift Your Career di Bolo Space—kerja sama antara Andrea dan Bolo Space, terinspirasi dari cara Taylor Swift mengubah kisah patah hati menjadi lagu-lagu yang didengar dunia.

Konsepnya sederhana, tapi menyentuh: menulis dan memulihkan. Menggunakan film, tulisan, dan ritual kecil untuk melebur perasaan lara, lalu merayakan penerimaan lewat perjamuan sederhana. Di situ, setiap orang belajar menyuarakan perasaan yang sebelumnya hanya diam di kepala—kemudian merilisnya, dan melahirkan kembali dalam bentuk yang melegakan.

Andrea mulai dengan perkenalan ringan: nama, kesibukan, zodiak. “Tambahin MBTI,” aku menyahut. Perkenalan itu tidak berlangsung lama, sebab dari tujuh pendaftar, hanya dua yang datang. Satu sedang melepaskan sesuatu. Satu lagi mencoba menyembuhkan diri setelah kehilangan ibunya.

Salah satu peserta berkata bahwa ia bisa memilih “sirkuit emosi patah hati” mana yang akan dituangkan ke karya. Ia tak ingat berapa kali patah hati. “Kalau terbiasa, memang bisa,” ujarnya. Yang lain menyahut, “Itu survival instinct, nggak sih?” Aku mengangguk.

Tidak semua orang punya biaya untuk menerbitkan tulisannya atau mengalihwahanakan ke bentuk lain. Kadang, menulis untuk diri sendiri adalah satu-satunya cara bertahan. 

Aku bertanya pada Andrea, apakah ia bisa menulis secara spontan. “Bisa,” jawabnya, “tapi mentah sekali.” Pernah, ketika marah pada seseorang, ia menulis naskah film berlatar Bali. Namun, bagi seorang temannya di sana, naskah itu hanya menampilkan satu sisi perempuan yang marah. Tidak ada taksu. Lalu temannya berkata, “Bali bukan tempat orang marah-marah. Bali tempat orang yang ingin sembuh.”

Pengalaman itu meneguhkan keyakinan Andrea bahwa pengendapan dan riset adalah proses penting untuk mentransformasi perasaan menjadi karya fiksi yang layak diterbitkan. Jika terlalu mentah, tulisan hanya menjadi perpanjangan ego, tak menawarkan apa-apa. Bagi Andrea, karakter fiksi bukanlah manusia, melainkan perspektif—sesuatu yang tumbuh dan berubah bersama waktu.

Kata itu, perspektif, kembali muncul sore itu, saat seseorang menyebut bahwa tahun ini adalah Tahun Ular. “Kalian tahu,” ujarnya, “bagian pertama yang dilepas ular saat ganti kulit? Mata. Perspektif.” Dan aku berpikir, mungkin itulah cara kita sembuh: memberi waktu pada luka untuk berganti kulit, agar ketika akhirnya dituliskan, ia melihat dunia dengan mata yang baru.

Sore itu, ada setengah jam waktu bebas untuk kontemplasi dan menulis. Hasil tulisan itu dibakar sebagai simbol pelepasan. Demikianlah seharusnya sesi berakhir, Tapi, ada yang memilih tidak. Mungkin mereka ingin menyimpannya—bukan untuk dikenang, melainkan untuk diolah kembali, suatu hari nanti, ketika rasa sakit sudah berubah bentuk.

Di luar, petang merangkak pelan. Lampu-lampu jalan mulai menyala seperti mata yang setengah mengantuk. Aku melangkah keluar dari Bolo Space dengan kertas yang terlipat di saku—tulisan yang belum kurelakan menjadi abu. Ada bagian dari diriku yang masih ingin memegangnya erat, seperti seseorang yang menunda mengucapkan selamat tinggal.

Mungkin, kelak, ketika rasa sakit ini sudah jinak, aku akan membakarnya. Atau menulis ulang dengan tangan yang tak lagi gemetar. Hingga saat itu tiba, aku akan membiarkan kata-kata ini diam di sana, menunggu waktunya sendiri untuk melebur.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.