Lewati ke konten

Peristiwa

Tidak Ada Jumpa Pers Pada Hari Itu

September 4, 2025

JBF 2025 Tidak Ada Jumpa Pers Pada Hari Itu

Tidak ada jumpa pers pada hari itu. Yang ada: doa bersama. Dan tekad bahwa the show must go on.

Seperti Chairil dalam Selama Bulan Menyinari Dadanya, ia bukan lagi si cilik tidak tahu jalan. Tetapi, pada hari pertama September 2025 itu (dan Senin pula!), di benaknya menjulur berpuluh lorong dan gang Kota Yogya. Dan ia harus menimbang, dengan benar-benar jernih, kalau ia ingin tiba dengan selamat di tujuan.

Kecemasan lantaran huru-hara minggu sebelumnya masih mengikut hingga hari itu. Bahkan lebih akut. Di media sosial beredar informasi simpang siur tentang akan adanya demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara telah keluar dari barak dan bersiaga di pusat kota. Ranpur beroda enam berpatroli di jalan-jalan utama.

Dan jalan-jalan kota pun sebagian besar lengang, yang akan membuat siapa pun yang mencintai puisi teringat lagi pada baris sajak Chairil yang lain: Hanya kelengangan tinggal tetap saja./Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan. Tetapi, sajak itu tentang hidup setelah mati, bukan tentang hidup yang di sini dan saat ini.

Ia tiba dengan selamat dan meriung bersama para jurnalis yang diundang untuk jumpa pers di Ruang Seminar Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka. Hanya, kelengangan memang tetap terasa di ruangan itu.

Dan tidak ada jumpa pers pada hari itu. Hanya ada doa bersama karena kecemasan dan keprihatinan bersatu padu lantaran situasi beberapa hari belakangan. Fairuzul Mumtaz selaku koordinator memberitahukan bahwa jumpa pers diganti menjadi doa bersama. Bukan hanya untuk kelancaran JBF 2025, melainkan juga untuk keadaan yang lebih baik di DIY dan seluruh negeri.

Yusuf Effendi, Sekjen IKAPI DIY dan aktivis Lesbumi, memimpin doa. Dewi Ambarwati, selaku Kepala Bidang Pengembangan Badan Pustaka dan Informasi DPAD DIY, memotong tumpeng dengan khidmat, lalu memberikan masing-masing kepada perwakilan Paniradya Kaistimewaan, Dinas Pariwisata, DPAD, dan Dinas Koperasi dan UMKM.

Penyelenggara juga menegaskan: the show must go on.

***

Dari naskah rilis pers yang kemudian dikirimkan kepada media massa, memang diketahui bahwa Jogja Book Fair 2025, yang dirangkai dengan peringatan Hari Literasi Internasional 2025, akan tetap diselenggarakan 4-14 September 2025 di kompleks Grhatama Pustaka walaupun kondisi sosial dan politik sedang tidak baik-baik saja.

JBF tahun ini, seperti disinggung Fairuz, merupakan rangkaian kegiatan paling panjang dibanding kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, yang hanya berkisar antara lima hari hingga seminggu.

JBF 2025 terselenggara sebagai kerja sama lintas sektor dengan pendanaan Dana Keistimewaan. Selain dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Daerah DIY, JBF juga melibatkan swasta, yaitu IKAPI DIY. Rangkaian acaranya meliputi kompetisi literasi, diskusi dan talk show literasi, pertunjukan literasi, dan bazar buku berskala besar.

Tema JBF 2025 adalah “Literasi, Inklusi, dan Kesejahteraan”. Kurniawan, Kepala DPAD DIY sekaligus tuan rumah kegiatan, menyatakan bahwa JBF bukan sekadar pameran buku, melainkan juga ruang diskusi tempat masyarakat bisa mengakses pengetahuan, berdiskusi, dan meneguhkan literasi sebagai bagian dari kesejahteraan.

Bazar buku juga merupakan pelaksanaan kewajiban pemerintah daerah untuk memfasilitasi buku murah. Bazar buku yang secara teknis dikelola oleh IKAPI DIY memang menyediakan buku-buku orisinal dengan harga terjangkau.

Dalam rilis pers, Yusuf mengungkapkan bahwa kolaborasi penerbit dengan pemerintah dan komunitas literasi membuktikan bahwa buku tetap relevan. JBF 2025 adalah perayaan sekaligus strategi untuk memperkuat pasar literasi yang sehat dan berbasis budaya. Tahun ini, ratusan penerbit terlibat dan ratusan ribu buku ditawarkan di bazar.

JBF 2025 menghadirkan tokoh-tokoh literasi, penulis, sastrawan, seniman, dan budayawan. Di antaranya adalah Okky Madasari, Ratih Kumala, Nisa Rengganis, Agus Mulyadi, Kalis Mardiasih, Sabrang Mowo Damar Panuluh, dan lain-lain. Kompetisi literasi meliputi Baca Puisi tingkat SMP dan SMA, Menggambar dan Mewarnai, dan sebagainya.

***

Berdiri pada sore hari di pelataran Grhatama Pustaka, di hari pertama Jogja Book Fair 2025, ia tersenyum melihat pengunjung masuk keluar tenda putih raksasa yang menaungi bazar buku. Lalu, ia teringat lagi pada satu baris puisi yang bagus sekali dan terasa menyejukkan di tengah embusan angin sore yang panas:

Rumahku dari unggun timbun buku.

Ia membayangkan tenda raksasa itu akan dibanjiri pengunjung selama beberapa hari ke depan karena buku-buku orisinal dan murah telah tersedia di sana. Dan di antara para pembeli buku itu mungkin ada beberapa orang yang akan dengan gemas memprotes baris puisi yang baru saja tertulis di atas.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.