Peristiwa
Tiba-Tiba Pawiyatan Aksara Jawa
September 18, 2025
Malam kedua saat, bersiap evaluasi bersama panitia Jogja Book Fair 2025, saya dipanggil Mas Fairuzul Mumtaz untuk berkenalan dengan seseorang bernama Pak Joko. Di depan “panggung tenant”, yang letaknya di antara booth es krim, bakso, mie ayam, kriya, dan lain-lain itu, Pak Joko menyampaikan maksudnya.
“Saya lihat panggung kecil ini kosong kalau malam. Seandainya saya pakai untuk workshop tentang aksara Jawa saja bagaimana, Mbak Brenda?” tanya Pak Joko.
Pak Joko ini ternyata adalah vokalis band lokal legendaris bernama Genk Kobra yang juga akan mengisi acara pada hari kedelapan (Jumat, 05/09/2025).
Saat SMA, saya dan teman-teman dekat saya pernah mendapat julukan “geng kobra” yang entah atas dasar apa julukan itu tersemat pada kami. Tentu saja, bertemu dengan vokalis Genk Kobra yang asli membuat saya antusias. Menariknya, Pak Joko sekarang aktif di Komunitas Penggiat Aksara Jawa yang menaungi komunitas-komunitas lain. Saya makin antusias karena membayangkan akan punya kesempatan belajar aksara Jawa lagi dari ahlinya.
Saya langsung mengiyakan dan mencatat nomor WhatsApp beliau untuk bertukar informasi judul acara, waktu, dan siapa saja narasumbernya. Besoknya, saya mendapat pesan teks dari seseorang bernama Pak Syafaat. Beliau adalah salah satu anggota Komunitas Penggiat Aksara Jawa. Pak Syafaat memberikan informasi bahwa komunitas tersebut akan mengisi empat kali workshop bertajuk Pawiyatan Aksara Jawa.
Pawiyatan Aksara Jawa 1 mengangkat tema Sejarah & Logika Dasar Aksara Jawa (07/09/2025). Pak Joko menjadi narasumbernya, ditemani Mas Gempar sebagai moderator. Saya membuka acaranya dan memanggil beberapa pengunjung untuk ikut dalam workshop ini. Sayangnya, usaha saya gagal sehingga yang ikut workshop malam itu tidak banyak.
Selama mengikuti Pawiyatan yang pertama itu, saya mengantuk. Bukan karena isinya tidak menarik, tetapi karena saya sedang kelelahan dan sedikit kurang sehat. Tetapi, saya masih sempat menangkap beberapa filosofi Jawa dalam aksara Jawa yang disampaikan oleh Pak Joko.
Sampai saat ini, saya mengingat betul Pak Joko menyampaikan ini: “Wong Jawa kui Urip, nguripi – urub, madhangi.” Ada kalimat lain yang akan terus saya ingat juga, yaitu “Wong Jawa kui ora mateni liyane, anane yo nek mati kui dipangku”. Dua kalimat filosofis ini adalah karakter yang seharusnya dimiliki orang Jawa dan tecermin dari cara menulis aksara Jawa.
Siang hari (08/09/2025), saya mendapat pesan teks dari Pak Syafaat yang menanyakan apakah panitia bisa menyediakan papan tulis berukuran sedang. Papan tulis akan digunakan untuk acara Pawiyatan Aksara Jawa 2 dengan tema Teknik Menghafal dan Menulis Aksara Jawa. Saya segera berkoordinasi dengan Mas Efri selaku tim perkap dari IKAPI. Mas Efri menyanggupi untuk menyediakan papan tulis berukuran sedang itu. Lega sekali rasanya karena permintaan mendadak ini bisa dipenuhi. Matur nuwun, Mas Efri.
Malam saat Pawiyatan yang kedua, saya dan beberapa orang cukup tertarik menyimak Pak Syafaat dan mas Danang Rusmandoko yang menjadi narasumber. Mas Gempar lagi-lagi menjadi moderator tembakan menemani Pak Syafaat. Lucunya, selain menjadi moderator, Mas Gempar merangkap menjadi fotografer dari Komunitas Penggiat Aksara Jawa. Beliau bolak-balik dari atas panggung turun panggung untuk mengambil gambar dan memoderatori.
Pada kesempatan ini, Pak Syafaat memberikan tips dan trik mudah untuk menghafalkan huruf-huruf dalam Aksara Jawa. Sambil menulis, Pak Syafaat menerangkan satu-persatu metode menghafal yang mudah. Saking asyiknya saya memperhatikan, saya lupa masih menjadi panitia dan tidak menyediakan minum, apalagi kudapan, untuk Pak Syafaat dan Mas Gempar. Begitu selesai memberi kuliah singkat, Pak Syafaat terlihat terengah-engah, yang membuat saya sadar.
“Astaga Minum!”
Saya segera berlari mengambil dua botol air mineral.
Bodohnya, saat menulis liputan acara ini saya sudah lupa semua trik mudah menghafal itu. Beruntung, malam itu Pak Joko melihat saya yang antusias belajar aksara Jawa dan memberi saya satu buku berjudul Prahana: Panduan Dasar Belajar Aksara Jawa. Setelah melihat siapa penulisnya, saya buru-buru mengambil bolpoin dan meminta Pak Joko membubuhkan tanda tangan di halaman pertama.
”Buat mbak Brenda, semoga bermanfaat,” tulis Pak Joko yang punya nama pena Je. Elysanto.
Aksara Jawa Digital adalah tema dalam Pawiyatan Aksara Jawa 3. Ini kali, narasumbernya adalah Mas Singgih Sidharta dan, tentu saja dan lagi-lagi, Mas Gempar menjadi moderator merangkap fotografer. Malam itu, (10/09/2025) peserta yang ikut workshop dibekali sejarah perjalanan Komunitas Penggiat Aksara Jawa dalam memperjuangkan aksara Jawa sehingga bisa menjadi font di keyboard ponsel pintar dan komputer atau laptop.
Terus terang, saya tidak terlalu paham karena Mas Singgih menyebut-nyebut ANSI, UNICODE, dan ASCII yang tidak bisa saya mengerti sama sekali.
Saya kembali antusias ketika Mas Singgih mengajari kami untuk memasang keyboard aksara Jawa di ponsel. Tidak butuh waktu lama, keyboard aksara jawa terpasang dan bisa langsung digunakan. Saya langsung memposting story WhatsApp menggunakan aksara jawa: ꦧꦿꦺꦤ꧀ꦣ.
Komunitas Sega Jabung yang adalah bagian dari Komunitas Penggiat Aksara Jawa memfasilitasi Pawiyatan AKsara Jawa 4 dengan tema Sastra & Iluminasi Sastra Jawa + Workshop Pembuatan Kertas Dluwang (12/09/2025). Workshop ini adalah yang terakhir dalam rangkaian Pawiyatan. Mas Gempar tidak lagi menjadi moderator, tetapi menjadi narasumber bersama Mas Firnanda dari Komunitas Sega Jabung.
Saya tidak mengikuti workshop ini sejak awal karena kesibukan menjadi panitia acara di panggung utama Jogja Book Fair 2025. Satu jam kemudian saya baru bisa menengok workshop ini. Saya cukup terkejut karena peserta workshop ini cukup banyak. Saat saya datang, mereka sudah mulai mengupas kayu dan memukul-mukul kulit kayu dengan alat khusus. Dug, dug, dug, dug. Beberapa peserta workshop asyik memukul-mukul kulit kayu dluwang. Bunyi itu menjadi latar Mas Firnanda ketika menjawab pertanyaan peserta seputar proses pembuatan kertas dluwang.
Saya yang sedang kelelahan hanya bersandar di tiang tenda panggung dan mengintip proses pembuatan kertas dluwang. Saya tidak berani bertanya apa pun karena tidak ikut dari awal.
“Mbok duduk situ lho, Mmbak, daripada ming ngindik,” tegur seseorang.
Saat itu, saya hanya mengangguk karena cuma itu energi yang tersisa di badan. Pesan berulang dari Mas Firnanda membuat saya tenang: “Bagi yang ketinggalan info, bisa cek Instagram segajabung karena kami sedang live dan bisa ditonton ulang.”
Saya melihat sisa kulit batang pohon dluwang yang belum dipukul-pukul. Saya beranikan diri untuk memintanya.
“Bawa aja, Mbak,” tukas Mas Firnanda. Beruntungnya, ada Mas Singgih yang menerangkan secara singkat bagaimana caranya supaya kulit batang pohon dluwang yang tidak langsung proses tetap bisa menjadi kertas dluwang.
Berakhir sudah rangkaian pawiyatan aksara jawa. Hari berikutnya, saya bertanya ke Simbah Ismanto, redaktur sukusastra.local/, “Mbah, Siapa yang meliput rangkaian workshop aksara Jawa?”
Karena teman-teman peliput tidak ada yang mengikuti workshop dari awal hingga akhir, Simbah menyuruh saya untuk wawancara Pak Joko dan hasilnya akan ditulis oleh Simbah. Tetapi, saya masih disibukkan dengan rangkaian acara Jogja Book Fair 2025. Saya tidak sempat mewawancarai Pak Joko.
Kata Simbah, “Brenda nanti ngomyang aja, cerita nanti aku yang tulis.”
Entah karena saya sedang batuk atau memang saya sedang malas bercerita, saya tolak ide itu. Saya yang tidak pernah menulis tiba-tiba saja meminta izin kepada Simbah, “Boleh nggak, Mbah, kalau aku yang tulis liputannya?”
Simbah mengangguk.
Kalau kalian, pembaca sukusastra.local/, menemui tulisan ini, artinya saya berhasil mencoba menulis. Jika tidak, tulisan saya ini memang kurang layak dan dibuang oleh Simbah.***