Lewati ke konten

Peristiwa

Terima Kasih Semuanya, Terima Kasih Musik Senja

September 17, 2025

Terima Kasih Semuanya, Terima Kasih Musik Senja

Sebelas hari sudah Jogja Book Fair 2025 berlangsung. Sebelas hari pula saya bergumul bersama orang-orang beserta ragam perasaannya. Di kawasan Grhatama Pustaka mereka datang, membeli buku, menyimak diskusi, lalu pulang. Di kawasan Grhatama Pustaka pula mereka yang lain datang, menjaga bazar buku, menyiapkan diskusi, berkumpul untuk evaluasi, menyeruput kopi yang sudah dingin, rasan-rasan, baru kemudian pulang.

Dalam kesempatan itu, saya diberi kesempatan untuk masuk dalam kategori kedua, yaitu mereka yang bekerja. Sebelas hari bertemu dengan orang yang itu-itu saja memaksa hati saya dengan sendirinya mengikatkan simpul hubungan. Sonder bekerja, bagaimanapun sulit rasanya melepaskan kebutuhan yang kadung menubuh dalam diri manusia, yakni bermain. Karenanya, alih-alih rekan kerja, saya lebih menganggap Mbak Brenda, Mas Beryl, Mbak Jade, Mbak Meira, Mbak Umi, Fathur, sampai Mas Sonni, Mas Tiwul, Mas Cahyo, dan Mbak Rani, kemudian Mas Samid, Mbak Gita, Mbak Safit, dan lain-lain tentunya, sebagai kawan bermain.

Dan setelah sebelas hari bermain bersama, saya takut membayangkan hari kedua belas. Berpisah dengan rekan kerja itu perkara mudah. Tetapi, berpisah dengan kawan bermain adalah perkara lain. Saya teringat Watanabe dan Naoko yang ditinggal Kizuki. Saya teringat Ikal dan Laskar Pelangi. Saya teringat kawan-kawan masa kecil yang diculik oleh pekerjaan dan pernikahan. Saya teringat banyak hal, lalu tiba-tiba merasa kecil dan sendiri.

Padahal kini saya sedang duduk di bukit sebelah selatan tenda penjual makanan. Orang-orang biasa menyebut bukit itu Bukit Teletubbies.

Di kanan kiri ada pula kawan-kawan bermain saya. Beberapa tiduran memandang langit, beberapa lain membaca buku. Banyak pula pengunjung lain. Ada keluarga kecil yang berkejaran dengan anaknya yang masih mungil, ada remaja yang pacaran dan saling menyatakan perasaan, ada pula orang-orang yang menyendiri dengan awan hitam di atas kepalanya, dan lain sebagainya.

Meski begitu, kami semua mendengarkan musik yang sama. Sebab di hadapan kami, Tholow Veloce tengah mengisi Musik Senja, salah satu mata acara Jogja Book Fair 2025 yang diselenggarakan sebagai kolaborasi antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Sama seperti bazar buku, Musik Senja ini setiap hari ada. Maka terdapat sebelas senja yang sudah beriring musik di kawasan Grhatama Pustaka ini. Adapun selain Tholow Veloce, yang menjadi pengisi Musik Senja juga adalah Mitha & Leo. Dengan rapi dan disiplin mereka berbagi panggung, bergantian selama agenda berlangsung.

Sembari memandangi kawan bermain satu persatu, saya khawatir. Kalau benar perpisahan tak terhindarkan, akankah nantinya ada teman-teman bermain yang baru? Kalau di satu persimpangan jalan bertemu, akankah kita berebut untuk menyapa lebih dulu? Dan bagi mereka yang lebih dulu itu, kita akan menganggapnya sebagai pemenang satu permainan ataukah sekadar seorang pecundang?

Di sela-sela kegelisahan, nyanyian Tholow Veloce turut menyita perhatian. Tidak diberinya saya waktu sejenak untuk merenung. Diam dan dengarkan, seakan ada yang berkata begitu. Maka saya diam dan mendengarkan lagu Slank ini.

Malam ini
Kembali sadari aku sendiri
Gelap ini
Kembali sadari engkau telah pergi

Malam ini
Kata hati harus terpenuhi
Gelap ini
Kata hati ingin kau kembali

Hembus dinginnya angin lautan
Tak hilang ditelan bergelas-gelas arak
Yang kutenggakkan ooo

Malam ini
Kubernyanyi lepas isi hati
Gelap ini
Kuucap berjuta kata maki

Malam ini
Bersama bulan aku menari
Gelap ini
Di tepi pantai aku menangis

Tanpa dirimu dekat di mataku
Aku bagai ikan tanpa air
Tanpa dirimu ada di sisiku
Aku bagai hiu tanpa taring
Tanpa dirimu dekap di pelukku
Aku bagai pantai tanpa lautan

Kembalilah kasih ooo Kembalilah kasih

Seketika saya juga teringat sore tempo hari. Sore ketika kecamuk perasaan ini mulai saya kenal. Sore ketika saya juga duduk di bukit, juga bersama segenap kawan bermain, serta segala kerumitan yang sudah bisa dibaca. Menghadap kami dan langit yang begitu jingga, Mitha & Leo menyanyikan sebuah lagu Beatles.

Yesterday
All my troubles seemed so far away
Now it looks as though they’re here to stay
Oh, I believe in yesterday

Suddenly
I’m not half the man I used to be
There’s a shadow hanging over me
Oh, yesterday came suddenly

Why she had to go
I don’t know, she wouldn’t say
I said something wrong
Now I long for yesterday

Yesterday
Love was such an easy game to play
Now I need a place to hide away
Oh, I believe in yesterday

Why she had to go
I don’t know, she wouldn’t say
I said something wrong
Now I long for yesterday

Yesterday
Love was such an easy game to play
Now I need a place to hide away
Oh, I believe in yesterday

***

Memang, perlu rasanya menghaturkan terima kasih kepada pihak penyelenggara. Tak dapat dipungkiri, mencari kebermanfaatan dari Jogja Book Fair 2025 ini bukanlah hal yang sulit atau perlu diada-ada. Agenda ini memenuhi kebutuhan saya sebagai manusia, yaitu mempunyai teman.

Untuk itu, sebagai bentuk terima kasih, akan saya sertakan sebuah mantra. Mereka, para penyelenggara itu, ingin sekali semua orang hafal mantra ini. Jadi, ada baiknya saya tulis di sini. Lalu dengan sedikit memohon supaya kalian bersedia merapal, lebih-lebih menghafalnya.

Jogja Book Fair 2025 diselenggarakan bertepatan memperingati Hari Literasi Internasional dan berlangsung mulai dari tanggal 4 September 2025 sampai 14 September 2025 di kawasan Grhatama Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.

Agenda ini merupakan kerja sama lintas sektor, di antaranya dengan keterlibatan Paniradya Kaistimewan DIY, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Dinas Koperasi dan UMKM DIY, Dinas Pariwisata DIY, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga DIY, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang DIY, serta Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY.

Sudah itu, kita tak boleh lupa. Selama sebelas hari Jogja Book Fair 2025, ada Tholow Veloce dan Mitha & Leo yang setia menemani istirahat kita di sore hari. Bayangkan, setiap sore mereka bernyanyi. Pastinya selama itu pula mereka tidak menyentuh apa yang namanya gorengan dan lain sebagainya. Saya kira itu sama mulia dan sama transendennya dengan Sisifus dan batunya itu.

Dan pada akhirnya, kepada semua kawan-kawan bermain. 

Terima kasih. 

Saya kangen.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.