Peristiwa
Tentang Kebijaksanaan yang Boleh Kau Bawa Pulang
September 5, 2025
Malam yang menyusuri Yogya akhirnya tiba di halaman Grhatama Pustaka.
Angin kemarau memasuki tenda bazar buku dengan sopan dan berembus di antara buku-buku yang gelisah. Entah mengapa, sang angin memahami kegelisahan buku-buku itu sebagai kegelisahan Marno dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
Seperti hendak menenangkan, kepada buku-buku itu sang angin berbisik, “Esok kau akan dibaca!”
Tepat pukul tujuh malam, musik menggelegar, mengaburkan pesan-pesan kecil yang belum sempat disimpan dalam catatan. Sang angin menengok ke arah panggung utama dari mana keramaian berasal. Lampu-lampu gemerlapan menghiasi panggung itu–dan sang angin teringat kunang-kunang di hamparan sawah di kampung halaman Marno.
Wijil telah berdiri di panggung itu. Sang pembawa acara menyuarakan semangat yang luar biasa untuk memandu Pembukaan Jogja Book Fair (JBF) 2025. Gelaran ini adalah hasil kolaborasi antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Sang angin bergegas menuju panggung. Pembukaan itu akan menjadi salah satu dari beberapa peristiwa menyenangkan di dunia ini, selain apa-apa yang telah kau tanam–kau menyebutnya wawasan, pengetahuan, kebijaksanaan, atau apa saja asal kau suka sebutan itu–dalam memorimu.
Setelah menyapa, Wijil mempersilakan Gus Awaluddin G Mualif untuk membaca doa. Dengan Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW dan semua leluhur Ngayogyakarta Hadiningrat, sang gus memanjatkan doa dalam bahasa Arab, tetapi dengan langgam Jawa yang syahdu dan menambah khusyuk.
Lalu urut-urutan yang biasanya dalam seremoni negara. Hadirin dan tamu undangan berdiri ketika Indonesia Raya diperdengarkan. Semua berdiri sebagai tanda penghormatan dan penghargaan terhadap negara, pahlawan, dan nilai-nilai kebangsaan sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009.
Kemeriahan JBF 2025 secara resmi dimulai. Penari dari Sanggar Sekar Niti Mataya Yogyakarta mementaskan Tari Pudyastuti. Ini adalah tari penyambutan tamu karya K.R.T. Sasmintadipura. Tari ini juga perwujudan rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar acara berjalan lancar dan dijauhkan dari mara bahaya.
Seperti biasa dalam kegiatan literasi, di sela-sela rangkaian acara, sesekali Wijil meminta hadirin untuk bersaut salam: “Salam Literasi!” Segera setelah Wijil bersalam, hadirin menyahut: “Ayo Membaca, Ayo Berkarya!”
Kepala Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Daerah DIY, Kurniawan S.Sos., S.E., Akt., M.Ec.Dev. berharap kegiatan JBF, yang dimulai Kamis (4 September 2025), semakin mendekatkan literasi kepada masyarakat, mendekatkan dengan kearifan lokal, memperkuat identitas, dan mendukung berputarnya roda perekonomian, terutama UMKM.
Dengan gembira, Kurniawan melaporkan bahwa JBF 2025 ini diselenggarakan dalam rangka Hari Literasi Internasional yang jatuh pada 8 September. Dengan tema “Literasi, Inklusi, dan Kesejahteraan”, JBF adalah kolaborasi antara DPAD DIY, IKAPI DIY, Dinkop UKM DIY, Dinpar DIY, penerbit-penerbit buku DIY, mitra swasta, media massa, seniman dan budayawan, dan didukung Dana Keistimewaan DIY.
“Setidaknya ada 30 rangkaian kegiatan,” ungkap Kurniawan. “Di antaranya talk show, bedah buku, workshop, rangkaian lomba anak, diskusi komunitas, dan pertunjukan seni.”
JBF akan ditutup pada 14 September 2025, bertepatan dengan Hari Kunjung Perpustakaan.
Wawan Arif, ketua IKAPI DIY, membicarakan satu hal yang hilang dalam hidup kita, yakni kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu, menurut Wawan, datang dari pengetahuan para pemikir, filsuf, dan sastrawan. Kita bisa belajar martabat dari Pramoedya Ananta Toer, pengabdian dari Ki Hajar Dewantara, kearifan dari Ronggowarsito, kedalaman jiwa dari Fyodor Dostoevsky, penderitaan rakyat dari Maxim Gorky, dan kegigihan ideologi dari Tan Malaka.
Wawan mengingatkan bahwa semua sumber kebijaksanaan itu bisa di dapat di JBF. Oleh sebab itu, Wawan mengapresiasi para punggawa penerbit buku yang sudah berjibaku dan bekerja keras menghadirkan kebijaksanaan dalam bentuk buku orisinal yang bisa diakses siapa saja dengan harga murah.
Dalam sambutannya, Ketua Komisi D DPRD DIY, R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd, M.Si., menegaskan lagi hubungan antara literasi, inklusi, dan kesejahteraan. Menurutnya, Sukarno adalah pembaca buku autentik. Setelah membaca, Sukarno mengelaborasi bacaannya di tengah berbagai persoalan, dan kemudian menciptakan teori baru untuk kesejahteraan rakyat. Seperti itulah Sukarno menulis Di Bawah Bendera Revolusi. Membaca adalah asupan bergizi bagi otak. Ketika otak tidak berdialog dengan buku, gagasan menjadi nihil.
Sekda DIY, Aria Nugrahadi, S.T., M.Eng, membacakan sambutan Wakil Gubernur DIY sekaligus membuka secara resmi JBF 2025. Wagub menekankan bahwa JBF adalah agenda literasi terpenting di DIY. Melalui buku, manusia dapat menembus ruang dan waktu, menjelajahi sejarah peradaban, memperkaya wawasan, serta menemukan inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Menurut Wagub, buku merupakan sumber pengetahuan yang mendalam. Maka, ia mengajak seluruh elemen untuk memperkuat kolaborasi dalam menumbuhkan budaya membaca. Sambutan ditutup dengan ajakan: “Mari, kita jadikan membaca sebagai kebutuhan hidup, gaya hidup, bahkan sebagai sumber kebahagiaan.”
Sebelum rangkaian acara pembukaan JBF 2025 ditutup, Wijil mempersilakan para pejabat yang hadir dalam acara ini untuk secara simbolik melakukan rebutan gunungan buku. Setelah itu, gunungan buku dibawa ke area pengunjung JBF untuk diperebutkan. Ramailah sorak sorai para pengunjung yang gembira mendapatkan buku gratis dari rebutan gunungan buku.
Sang angin mengabarkan peristiwa ini kepadamu. Dan kau akan mengunjungi Grhatama Pustaka, dan kau akan membawa pulang sumber-sumber kebijaksanaan dalam buku-buku orisinal dan murah.***