Peristiwa
Sastra-Fesyen dalam Lomba Fashion Show Dongeng Nusantara
September 17, 2025
Barangkali Goenawan Mohamad benar ketika menulis, dalam salah satu esai Caping, bahwa fashion, atau mode, tiap kali memang memperbarui diri, tetapi sebenarnya ia merupakan cerminan pengulangan.
Dalam Lomba Fashion Show bertema “Literasi Dongeng Nusantara”, usaha untuk mengulangi sesuatu itu tidak dilakukan dengan malu-malu. Panitia Jogja Book Fair 2025, kolaborasi antara IKAPI DIY dan DPAD DIY, secara terbuka meminta para peserta menampilkan wujud fesyen yang terinspirasi oleh dongeng nusantara.
Jelaslah bahwa panitia sedang berusaha mengulangi keindahan yang ada dalam dongeng nusantara, tetapi mencoba mewujudkan pengulagan itu melalui artefak budaya yang berbeda. Sementara dongeng mewujud melalui seni bahasa, fesyen mewujud melalui seni pakaian atau tata busana.
Dan tidak ada masalah sama sekali: kolaborasi lintas disiplin seni sedang menjadi tren saat ini.
***
Sabtu pagi menjelang siang (13/9/2025), tiga juri siap menilai dua belas peserta lomba. Putri Maharani, M.Sn. Putri Maharani akan menilai desain busana dan tata rias, Alif Maharani menilai pose dan gerak di runway, dan Pak Acong yang mewakili IKAPI DIY menilai bagaimana dongeng nusantara dinarasikan melalui gaya busana, catwalk, dan pose.
Peserta nomor dua urut dua tampil pertama kali karena peserta nomor urut satu belum selesai mempersiapkan diri. Ia menampilkan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih, yang dinarasikan secara verbal oleh ibunya dengan iringan musik Jawa. Ia menampilkan kebaya putih khas Jawa dan kain jarik cokelat tua dengan bakul sebagai aksesori.
Satu demi satu para peserta menampilkan kreasi masing-masing. Narasi dongeng nusantara tidak melulu disajikan secara verbal. Ada juga yang menjadikan pose atau gerak tubuh sebagai narasi. Peserta terakhir, yang menampilkan dongeng Putri Ayu dari Desa Trunyan, Bali diiringi narasi yang dibacakan oleh Naura yang juga bertugas sebagai pembawa acara.
Dewan juri bersidang selama sekitar tiga puluh menit sebelum Naura mengumumkan hasil lomba. Juara Pertama diraih Milka Delvina Harianda yang mengenakan pakaian adat khas Minangkabau berwarna merah dan Penutup kepala yang mengingatkan pada rumah gadang juga berwarna merah dengan hiasan keemasan. Sambil berpose, Milka menarasikan sendiri dongeng Sabai Nan Aluih.
Serafim Krisantya Kanza Asmarandana menjadi Juara Dua. Ia menampilkan dongeng kepahlawanan Srikandi dengan mengenakan busana yang dominan warna hitam dan busur panah. Di kepalanya terpasang mahkota berjamang yang menunjukkan status sosial dan keberanian Srikandi. Aksesori yang menarik busana Kanza adalah jubah emas yang dikaitkan pada kedua lengan.
Juara Tiga diraih oleh Kanyaka Gantari Lituhayu. Ia terinspirasi oleh dongeng Rara Jonggrang yang dibawakannya sendiri sambil berlenggak-lenggok di catwalk. Ia mengenakan busana kreasi khas putri Kerajaan Boko. Selendang merah kuning yang menghiasi pinggangnya dimanfaatkan untuk gerakan tari. Ia melengkapi busana ini dengan penutup kepala berupa mahkota berwarna keemasan.
Dewan Juri menunjuk Nuha Sahab sebagai Jaura Harapan I dan Nabila Khairunnisa Az-zahra sebagai Juara Harapan II. Nuha menyajikan dongeng Burung Enggang dari Kalimantan Selatan yang dinarasikannya sendiri dengan iringan musik khas Kalimantan Selatan. Kepala dan jari-jarinya dihiasi bulu-bulu burung enggang yang panjang. Nabila menarasikan dongeng Nyai Rara Kidul. Ia mengenakan mahkota dan memegang tongkat berujung gunungan. Dalam setiap langkahnya, ia melakukan gerakan tarian Jawa.
***
Tema besar Jogja Book Fair 2025, “Inklusi, Literasi, dan Kesejahteraan” tecermin dalam penampilan para peserta lomba. Inklusi diwujudkan melalui kebebasan para peserta dalam memilih dongeng dari daerah lain di Indonesia walaupun acara lomba dilaksanakan di Yogya. Untuk itu, para peserta tentu perlu memahami dongeng yang akan dipilih.
Dongeng sebagai karya sastra lisan dari zaman yang sudah sangat lampau nyatanya masih dihidup-hidupi dan dilestarikan di tengah gempuran budaya massal kapitalistis saat ini. Nilai keindahan sastrawinya diulangi karena, dalam satu dan berbagai cara, dianggap relevan dengan kondisi sosial dan politik, bahkan pada era digital yang sangat dipengaruhi sains dan teknologi saat ini.
Alih wahana dari karya sastra menjadi karya kolaboratif sastra-fesyen sebenarnya bisa membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam pelestarian budaya nusantara.
Misalnya, model bisa menarasikan ulang sebuah dongeng tanpa diiringi narasi verbal. Yang penting, sang model harus memahami fabula atau cerita urut waktu sebuah dongeng. Sehingga, ia hanya bisa mengandalkan busana, pose, dan gestur khas fesyen untuk menyajikan syuzhet (fabula yang telah diolah dengan teknik sastra) atau narasi barunya. Dengan metode ini, barangkali yang akan tersaji justru persilangan dari tiga cabang seni, yaitu sastra, fesyen, dan teater.***