Lewati ke konten

Peristiwa

Para Penulis Pertama di Tabula Rasa

September 6, 2025

Para penulis pertama di tabula rasa JBF 2025.

Pada 1689, John Locke mengamati bahwa anak manusia dapat diibaratkan sebagai tabula rasa atau kertas kosong. Alam memberikan kelengkapan fisik dan intelektual ketika anak lahir. Kelengkapan itu masih harus diolah sedemikian rupa melalui pendidikan sehingga anak tumbuh menjadi manusia yang utuh.

Pendidikan itu berlangsung sejak dalam buaian hingga tepi liang kubur. Tulisan pertama pada kertas kosong itu berpengaruh sangat besar pada perjalanan anak di usia-usia berikutnya. Tulisan pertama itu di Indonesia belakangan ini disistematisasikan sebagai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Ada buku baru yang membahas PAUD. Judulnya PAUD Indonesia Catatan Profesor Sofi. Buku ini ditulis oleh Profesor Sofi Hartati dan diterbitkan oleh MD Publisher. Selain aktivis gender, Profesor Sofi Hartati memang juga berkecimpung di dunia pendidikan PAUD. Ia bahkan punya sebuah laboratorium PAUD di kampusnya.

Adinda Rizki Fitriana sebagai moderator mendiskusikan buku itu bersama Zulfa Salman, jurnalis KumparanWOMAN, di panggung tenant Jogja Book Fair 2025 di halaman Grhatama Pustaka Yogyakarta pada Jumat (5/9/2025). Kegiatan ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Sayangnya, Profesor Sofi batal hadir. Namun, the show must go on.

Para pengunjung booth kuliner lalu lalang. Beberapa pengunjung berhenti dan duduk untuk menyimak, terutama ibu-ibu yang membawa anak-anak.

Buku PAUD Indonesia ini bukan hanya membahas parenting, melainkan juga sistem PAUD di Indonesia yang masih memerlukan banyak perbaikan, terutama dalam segi administratif.

Zulfa terkesan dengan buku setebal 123 halaman ini. Tidak melulu berisi biografi penulisnya, buku ini juga banyak menjelaskan teori-teori psikologi anak, mulai bayi nol bulan sampai dengan masa remaja, dengan bahasa yang ringan.

Buku ini cocok menjadi buku awal atau pemantik bagi ibu-ibu muda untuk membaca lebih banyak buku. Selain itu, buku ini juga bisa memberikan motivasi kepada guru PAUD.

Zulfa sendiri inisiator Permata (Perempuan Mandiri, Tangguh, dan Berdaya) yang membersamai ibu-ibu pengajar PAUD di Sleman. Ia teringat dalam sebuah pertemuan, guru-guru PAUD menyatakan hampir berhenti karena menanggung dua beban, yaitu domestik dan eksternal.

Di ranah domestik, para guru PAUD yang sebagian besar ibu muda harus mengasuh anaknya sendiri sekaligus anak-anak orang lain. Di luar itu, mereka juga harus mengerjakan kewajiban administratif yang sangat berat. PAUD diwajibkan memiliki izin, memberikan pelaporan, dan memiliki akreditasi.

Tanggung jawab pendidikan memang bukan hanya di sekolah, melainkan juga keluarga dan lingkungan sosial yang melingkupi anak. Tetapi, guru PAUD punya peran lebih karena dialah yang mengajari anak sebelum memasuki jenjang pendidikan formal di TK.

Zulfa bahkan mengungkapkan kutipan menarik yang tertulis di dalam buku, yaitu bahwa guru PAUD adalah agent of change.

Profesor Sofi menjelaskan dalam bukunya, guru PAUD-lah yang mampu mengenali potensi dan karakteristik anak, media belajar yang dibutuhkan, pakaian yang tepat, dan sebagainya. Lalu, sang guru mengarahkan anak usia dini sehingga memiliki landasan pemahaman yang tepat seiring pertumbuhan usianya.

Salah satu poin menarik adalah penjelasan tentang sensor indrawi pada tubuh anak dan kaitannya dengan media pembelajaran. Salah satunya adalah media pembelajaran kinestetik yang berkaitan dengan praktik menggunakan tangan dan anggota badan lain.

Guru PAUD dan orang tua harus saling percaya dan bekerja sama dalam mendidik anak, baik selama berada di lingkungan PAUD maupun ketika anak berada di rumah. Misalnya, setelah guru PAUD mengajar anak di PAUD melalui permainan, orang tua di rumah diharapkan melanjutkannya dengan permainan yang dirancang khusus untuk di rumah.

Perlu diperhatikan bahwa orang tua di rumah harus waspada terhadap misinformasi. Misalnya, menonton video-video parenting secara tidak utuh sehingga menerapkan standar-standar yang berbeda untuk anak yang memiliki karakteristik yang juga berbeda-beda. Dalam jangka panjang, anak akan bingung dengan standar yang berbeda-beda.

Zulfa juga menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada ketentuan legal yang mewajibkan guru PAUD dijalankan oleh perempuan. Bahkan, dalam praktik, pernah ada laki-laki yang menjadi guru PAUD. Hanya, jumlah laki-laki guru PAUD memang sangat sedikit. Mungkin karena perempuan memiliki naluri lebih kuat dalam pendidikan anak.

PAUD di Indonesia masih memerlukan perjuangan besar, terutama di segi sistem. Misalnya, anak PAUD semestinya tidak dituntut untuk berprestasi dalam akademik atau calistung. Tetapi, pemerintah menuntut demikian dan menerapkan sistem akreditasi. Inilah salah satu beban berat yang harus ditanggung oleh guru PAUD.

Tiap hari, bayi-bayi baru lahir ke dunia. Kertas-kertas kosong itu menunggu ditulis dengan aksara dan makna yang baik dan benar. Guru-guru PAUD selalu siap menggerakkan pena dengan gembira. Orang tua, lingkungan sekitar, dan pemerintah harus mendukung mereka.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.