Peristiwa
Menulis: Sebuah Kerumitan yang Dihidupi Bersama
September 14, 2025
Di ruang seminar Grhatama Pustaka lantai tiga, sekitar pukul sebelas, acara belumlah tuntas. Akan tetapi, kau memutuskan pamit pada seseorang di sebelahmu dan bergegas. Agaknya memang betul apa yang dikatakan Virginia Woolf dalam buku Memikirkan Kata. Menulis merupakan salah satu dari hal-hal yang paling rumit yang dilakukan oleh manusia.
***
Bayangkan, dari 87 naskah yang masuk, terpilih 15 peserta untuk mata acara yang digelar sebagai rangkaian Jogja Book Fair 2025 itu. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara Perpusnas RI, IKAPI DIY, dan DPAD DIY.
Dan semua orang yang hadir di ruang itu masih punya keyakinan pada tulisan.
Acara itu (11/9/25) dibuka dengan sambutan dari Sri Marganingsih selaku perwakilan Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Ia menegaskan bahwa Inkubasi Literasi Pustaka Nasional adalah intervensi negara untuk mengangkat martabat bangsa melalui tulisan. Kau mendengarkan kalimat itu sambil membatin: bahkan negara pun (diam-diam) masih percaya bahwa menulis adalah cara menjaga harga diri sebuah bangsa.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, Kurniawan, melanjutkan dengan menekankan kolaborasi lintas sektor. Bagimu, sambutan itu semacam tanda bahwa literasi di Jogja dihidupi bersama—oleh pemerintah, komunitas, juga para penggeraknya.
Empat narasumber berbicara silih berganti. Fairuzul Mumtaz membuka dengan laporan geliat literasi di Jogja. Hampir tiap minggu ada bedah buku, workshop, atau festival. Fairuz membabarkan fakta perihal Festival Literasi Yogya 2025, di mana 33 penggerak literasi dari berbagai daerah di Jogja berbicara tentang strategi, kolaborasi, bahkan paket wisata literasi yang bisa menyejahterakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Dari sana kau tahu, literasi di Jogja sedang diupayakan agar berdampak pada ekonomi dan keseharian.
Fairuzul Mumtaz mengingatkanmu bahwa menulis esai bukanlah perkara menjejalkan data dengan gaya ilmiah yang kaku. Ia menekankan agar naskah yang dihasilkan peserta bisa mengalir, enak dibaca, dan nyaman ketika dibukukan. Kau pun mencatat bahwa sebuah esai yang baik harus punya argumen dengan kausalitas yang jelas, logika yang runtut, dan gaya penyampaian yang ringan seolah-olah bercerita dari pengalaman pribadi.
Menurut ketua komunitas Suku Sastra itu, esai juga harus mampu melakukan persuasi dan mengajak pembaca berpikir, merenung, dan mengambil sikap. Karena itu, penulis esai perlu mengaitkan tema dengan isu aktual, memilih hal-hal yang menggelisahkan, dan menatanya dengan struktur sederhana: pembuka, isi, dan penutup. Tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran kolektif agar pembaca turut bergerak bersama dalam gerakan literasi.
Rheisnayu Cyntara memulai materinya dengan cerita sederhana tentang anaknya yang baru berusia 16 bulan. Dengan bahasa balita, anak itu berseru, “dududidutak” (buku dibukak) karena ingin mendengar ibunya membacakan cerita sebelum pergi. Kau mendengar itu dan sadar dorongan membaca sebenarnya tumbuh alami, bahkan sejak usia dini.
Dari situlah Rheisnayu menekankan, masalah literasi bukanlah rendahnya minat baca, melainkan terbatasnya akses terhadap buku. Pengalaman pribadi itu lalu ia kaitkan dengan cara menulis. Sebagaimana kebutuhan membaca harus didukung ketersediaan buku, begitu pula sebuah esai harus ditopang oleh data dan bukti nyata. Tanpa pijakan itu, tulisan hanya akan menjadi opini kosong. Kau pun menangkap apa yang diungkap editor itu, yaitu bahwa fakta di lapangan adalah bahan bakar agar esai tak hanya enak dibaca, tetapi juga meyakinkan dan menggerakkan.
Muhammad Qadhafi mengingatkanmu bahwa menemukan gaya menulis bukan proses yang instan. Untuk punya suara yang khas, kau harus membaca sebanyak mungkin karya, lalu menulis, gagal, dan mencoba lagi. Amatlah wajar bila, di fase awal, tulisanmu terasa berada di bawah bayang-bayang penulis lain. Chairil Anwar pun mula-mula tak bisa melepaskan diri dari Rilke atau Auden. Begitu pula Pramoedya Ananta Toer, yang tak lepas dari jejak Maxim Gorky dan John Steinbeck ketika meracik realisme sosialnya. Dari contoh itu kau paham, keterpengaruhan adalah bagian dari perjalanan, dan hal itu mestilah disadari.
Yang mungkin dilakukan, kata Qadhafi, adalah mengombinasikan berbagai gaya hingga perlahan lahir sebuah komposisi baru. Memang tak sepenuhnya orisinal, akan tetapi tetap memuat karakter yang kau bentuk sendiri dari hasil pinjaman dan pencarian. Kau pun belajar bahwa gaya menulis yang khas lahir dari dialog panjang dengan teks-teks lain yang lebih dulu ada.
Qadhafi juga menekankan soal menghidupkan esai dengan bercerita. Cerita memiliki logikanya sendiri. Ada peristiwa, tokoh, alur, dan sebab-akibat, yang membuat pembaca percaya. Kau lalu menyadari, gaya menulis yang khas merupakan kemampuan meramu pengalaman dan data menjadi narasi yang logis dan menggerakkan.
Damaji Ratmono menutup rangkaian materi dengan kalimat yang menancap. Penulis harus punya mentor, sama halnya ketika kau menulis skripsi, tesis, atau disertasi. Ia menambahkan editor pun diperlukan agar sebuah karya enak dibaca. Kau mendengar itu dan langsung teringat pengalaman pribadimu. Kau anggap sebuah draf sudah cukup matang, nyatanya baru terasa lebih hidup setelah disentuh orang lain.
Ya, menulis bukan kerja soliter sepenuhnya. Kau tetap butuh orang lain untuk menajamkan, menghaluskan, bahkan menegur ketika pikiranmu melantur. Mendengar Damaji, kau jadi semakin percaya bahwa setiap penulis, betapapun keras kepala, tetap memerlukan bimbingan dan mata kedua agar karyanya sampai kepada pembaca dengan utuh.
Kau menyadari betapa kerumitan menulis, seperti kata Woolf, memang tak terelakkan. Ia menuntut kejernihan berpikir yang terus-menerus dipaksa hadir. Kerumitan itu pun tak pernah bisa ditanggung seorang diri. Dari teks yang mesti berpijak pada data, logika yang jelas, dan gaya yang khas hingga menjelma menjadi tulisan yang layak dibukukan dan didistribusikan, nyatanya menulis adalah hasil dari banyak tangan. Ada mentor, ada editor, ada komunitas, bahkan negara yang (seharusnya) ikut menopang.
Kau pun paham, kerja literasi pada dasarnya adalah sebuah gotong royong pikiran agar kata-kata menggerakkan dan menjalar ke segala sisi kehidupan.
Yogya barangkali memang berhasil. Ada festival yang rutin, komunitas yang saling terhubung, juga dukungan pemerintah daerah yang terasa. Tetapi, bagaimana bila kau menengok ke kota-kota lain di luar Jogja? Di banyak tempat, kerumitan itu justru semakin nyata.
Ada TBM di kawasan timur Indonesia yang bertahan hanya dengan rak kayu dan buku sumbangan, para penulis lokal di kota-kota kecil menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian penerbit, sekolah-sekolah masih kekurangan perpustakaan layak, dan kegiatan literasi bergantung pada sukarelawan yang serba terbatas. Distribusi buku menumpuk di kota-kota besar yang membuat gairah menulis dan membaca seolah hanya milik sebagian kecil wilayah.
Kerumitan menulis yang disebut Woolf tadi, jangan-jangan bertambah rumit bukan semata karena tuntutan berpikir, melainkan juga karena ekosistem literasi nasional yang timpang dan rapuh.
Yogya memang bisa menjadi contoh semangat gotong royong yang hidup, tetapi wajah negerimu yang lebih luas memperlihatkan betapa cita-cita itu masih menghadapi jalan terjal. Antara keberhasilan lokal dan kesenjangan nasional, kerja literasi tetaplah perjuangan panjang!***