Lewati ke konten

Peristiwa

Mati Ketawa Cara Agus

September 7, 2025

Mati Ketawa Cara Agus

Ada banyak Agus di dunia. Dan percayalah, sepanjang sejarah manusia, tak pernah ada satu pun spesies Agus yang lahir untuk menjadi biasa-biasa saja.

Galius Julius Caesar Augustus adalah spesies Agus pemimpin. Ia, tentu saja, sebagaimana lazimnya Agus, bukan sembarang pemimpin. Pada 27 SM, ia mendirikan kekaisaran yang kelak kita kenal bernama Romawi. Buku sejarah mengabadikan kejayaannya dengan menjelaskan bahwa kekaisaran itu baru runtuh pada 1453 M. Artinya, kekaisaran si Agus itu berusia lebih dari seribu tahun. Sepuluh abad!

Tak sampai di situ. Sebenarnya, Augustus adalah sebuah gelar yang berarti raja. Tetapi, ia sendiri tak terlalu menganggap istimewa gelar itu. Alasannya sederhana: ia tak pernah merasa dirinya seorang raja.

Ia seakan tak peduli kalau-kalau lima menit lagi, misalnya, tanggung jawab memaksanya bertitah kepada rakyatnya. Lalu, dengan seribu sungkem para rakyat itu hanya bisa menurut sambil menjawab, “Sendhika dhawuh, Kanjeng Augustus.”

Di Indonesia lain lagi. Bulan November sepuluh tahun lalu, empat Agus, dengan latar belakang spesies yang berbeda-beda, memutuskan untuk mendirikan komunitas di Facebook. Barangkali karena ingin mengulangi kegemilangan Agus spesies pemimpin di masa lalu, mereka membayangkan, “Kalau satu spesies Agus bisa mengguncang dunia, bagaimana dengan sepuluh spesies Agus?” 

Sebulan kemudian, dihelatlah sebuah kongres di Bandung bertajuk “Brotherhood in Harmony”. Disepakatilah bahwa sejak itu seluruh Agus berhak dihimpun dalam satu ruang bernama “Agus Agus Bersaudara Indonesia”. 

Komunitas itu masih eksis hingga kini. Mereka punya logo, filosofi logo, visi, misi, dan banyak hal gayeng lainnya. Silakan periksa di laman mereka, agus.or.id.

***

Ada banyak Agus di dunia. Dan percayalah, sore ini saya diberi anugerah untuk bertemu dengan dua Agus. Anugerah itu tiba dalam seminar yang bertajuk “Menulis Lucu” di teras Grhatama Pustaka dalam rangkaian Jogja Book Fair 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Masing-masing Agus itu bernama Tri Agus Susanto dan Agus Mulyadi. Secara praktis, seminar ditujukan supaya para pesertanya tahu-menahu soalan menulis lucu. Tri Agus Susanto (TAS) sendiri, selain jurnalis, peneliti, dan penulis, adalah seorang dosen di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta. Sedangkan Agus Mulyadi (AM), selain fan aktif Manchester United, adalah seorang penulis, konten kreator, dan pengelola toko buku.

Di antara mereka berdua, AM lebih junior ketimbang TAS. Maka, terlebih dahulu AM membuka materi.

Sebagai pengantar, AM memaparkan bahwa kelucuan merupakan aspek penting dalam menulis. Ia melansir satu riset dari Square yang menyebutkan tiga alasan mengapa orang mau mengikutimu (dalam konteks media sosial): 

  1. Memang suka. 

Misalnya begini: kalau kalian fan Manchester United yang kebetulan tinggal di Klaten, dapat dipastikan kalian akan mengikuti akun yang bernama @MU_Garis_Klaten.

  1. Memberi pengetahuan baru.

Ingat saluran Calon Sarjana? Atau, siaran On the Spot?

  1. Memberi humor. 

Silakan periksa jumlah pengikut atau penonton cuplikan konten Lapor Pak. 

“Berhubung saya selalu menceritakan sesuatu yang tidak mencerdaskan, atau yang orang lain tak harus tahu,” sambung AM, “maka kewajiban saya adalah lucu.”

Melanjutkan AM, TAS menjelaskan bahwa sejatinya manusia itu Homo Ludens, makhluk yang suka bermain-main. Menurutnya, mau seserius apa pun sebuah novel, misalnya, pasti terdapat unsur main-mainnya.

AM lantas teringat pada sepetik percakapan dari cerita Sherlock Holmes.

“Untuk mengatakan ‘Aku miskin’, Sherlock ngomong ‘Aku adalah lelaki lemah dengan saldo di rekening yang jauh lebih lemah.’”

Ketika peserta tertawa, TAS ikut-ikutan teringat pada salah satu penelitiannya. Dulu, ia pernah meneliti aspek humor dalam poster-poster demonstrasi. Diceritakannya bahwa ia tertawa ketika bertemu tulisan AM yang berbunyi: Oligarki No, Oli Gardan Yes!

Lalu, bagaimanakah menulis lucu itu? Menurut AM, terdapat tiga tingkat kelucuan:

  1. Peristiwa
  2. Kosakata
  3. Pemaknaan

Masih menurut AM, ia berpendapat bahwa memang ada peristiwa yang sudah lucu dari sananya. Ia bercerita:

Tahun 2017, ada pameran puisi Wiji Thukul. Seperti biasa, pameran itu pun digerebek ormas. Mereka menyerbu sambil berteriak, dengan marah dan percaya diri, “Mana Wiji Thukul?”

Semua orang terdiam. sampai satu panitia berani menjawab, “Lah, kami juga nyari, Pak.”

Dan seakan tak mau kalah, TAS ikut-ikutan bercerita:

Salimin dan Kardiman adalah intel. Mereka bertugas di sebuah pos pinggiran Kota Dili. Waktu itu Timor Leste masih ikut Indonesia.

Maka diberlakukanlah jam malam. Barang siapa keluyuran di atas jam sepuluh, Salimin dan Kardiman diperintah untuk menembak di tempat.

Jam sembilan lebih empat lima, seseorang lewat. Tanpa basa-basi, Kardiman menembaknya.

Salimin bertanya, “Kenapa ditembak? Kan belum jam sepuluh?”

Rapopo. Aku tahu yang lewat itu Gomez. Rumahnya ada di Tasitolu. Jarak dari sini ke sana itu dua puluh menit.”

Lanjut. Dalam taraf kosakata, AM mengulang cerita Sherlock Holmes sebelumnya sebagai perumpamaan. Kemudian ia meneruskan, “Untuk mengatakan ‘Aku jelek’, Prie GS itu menulis ‘Tampangku tidak impresif!’”

Menanggapi kelihaian AM, TAS berpendapat bahwa penting juga adanya konteks dalam humor. Hal tersebut letaknya di taraf pemaknaan.

Dan pada taraf inilah begitu banyak contoh diceritakan.

TAS memulai:

Ada empat orang yang diutus Presiden Prabowo ke Vatikan untuk menghadiri upacara pemakaman Paus. Di antaranya adalah Ignasius Jonan, Thomas Djiwandono, Natalius Pigai, dan Joko Widodo.

Di bandara, petugas memeriksa mereka sebelum memasuki pesawat.

“Paspor!”

Ignasius pun mengeluarkan paspor.

“Paspor!”

Thomas juga menyerahkan paspor.

“Paspor?” tanya Natalius, sembari tangannya menyodorkan paspor.

Lalu tiba giliran Joko Widodo. Ketika ia masih sibuk mengurai isi tasnya, petugas tiba-tiba mengganti permintaan.

“Ijazah!”

AM pun membalas:

Dulu, Pak Harto sering sekali naik kapal untuk memancing. Setiap melempar tali pancing ke laut, umpan Pak Harto selalu cepat dimakan ikan. Ada rumor yang mengabarkan kalau sesungguhnya di bawah, sekompi TNI-AL sudah siap sedia melarung ikan. 

Tapi itu rumor. Yang membikin Pak Harto gampang mendapat ikan adalah umpannya. Sebab bukan cacing atau nasi, umpan Pak Harto adalah secarik kertas dengan tulisan, “Ikut saya atau ikut P4!”

Kembali, TAS melawan:

Malam-malam, terdengar suara pintu diketuk.

“Siapa?”

“Malaikat pencabut nyawa.”

“Ah, syukurlah. Saya kira ABRI. Silakan, silakan …”

Dengan buru-buru, AM menyambung:

Malam-malam, para warga mengejar maling.

“Hei, maling, maling!”

Maling itu tetap lari.

Kemudian para warga mengganti teriakannya.

“Hei, PKI, PKI!”

Maling tak hanya berhenti. Ia putar balik ke arah pengejar.

“Saya maling, Pak, tapi bukan PKI!”

Sambil tertawa renyah, TAS menimpali, “Itu tulisan saya di Mojok!” 

Semua peserta juga tertawa, sembari menyaksikan dua Agus tertawa bersama-sama. Satu Agus tertawa, semua manusia bahagia. Dua Agus tertawa, semua manusia …

***

Ada banyak Agus di dunia. Dan percayalah, sepanjang sejarah manusia, tak pernah ada satu pun spesies Agus yang lahir untuk menjadi biasa-biasa saja. Sore ini saya diberi anugerah untuk bertemu dengan dua Agus dalam seminar yang bertajuk “Menulis Lucu”. Tapi, saya rasa, tajuk yang pas seharusnya bukanlah sekadar Menulis Lucu. Melainkan, dan demikianlah, Mati Ketawa Cara Agus.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.