Lewati ke konten

Peristiwa

Lumbung Sastra di Yogya: Catatan dari Pinggir Pertemuan Penerbit

September 11, 2025

Lumbung Sastra di Yogya: Catatan dari Pinggir Pertemuan Penerbit

“Sebenarnya, di Yogya dulu, saya cukup intens nongkrong dengan teman-teman pegiat sastra. Saya jadi tahu sedikit banyak persoalan, peluang, dan tantangannya. Dan pemetaan yang kami lakukan juga tentu mendapat banyak masukan, mendengar banyak masukan dari teman-teman. Jadi, sore ini juga sebenarnya saya lebih ingin mendengar banyak masukan dan mendapat rekomendasi dari teman-teman. Apa saja yang sekiranya perlu dikuatkan dari ekosistem penerbitan buku sastra?” kata Bu Nissa.

Saya hitung, tiga tetes hujan telah mengempas atap terpal area panggung Grhatama Pustaka ketika pengakuan Nissa Rengganis itu menyambut mikrofon dari moderator Wawan Arif. Tentu, saya akan mengingat bahwa, pada 10 September 2025 sore itu, sang Staf Khusus Kementerian Kebudayaan menyebut rancangan besar: penguatan ekosistem sastra. Di dalamnya ada gagasan tentang laboratorium penerjemahan, katalogisasi, juga promotor sastra.

Saya terka dari ekspresi para hadirin, kata-kata itu melempar mereka ke masa ketika negara pernah tampil gagah dengan proyek besar bernama Komite Buku Nasional. Pada 2015, Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, dan setelah itu yang tertinggal hanya poster dan brosur. Komite Buku Nasional memang tinggal nama, tetapi, kata Bu Nissa, kini ada proyek Abu Dhabi menanti. Lantas, karya siapa saja yang akan tiba di sana?

Barangkali karena bulir-bulir hujan sudah menjadi gemuruh di atap terpal, samar-samar, saya hanya mendengar jawaban dari Bu Nissa, bahwa kerja ini sering terhalang oleh banyaknya lembaga yang ikut campur, tanpa ada satu yang betul-betul berfokus. Untungnya, gemuruh hujan hanya menyerbu sekejap.

Sehabis suara gemuruh, pembicara kedua, Salman Farisi dari Bentang Pustaka angkat suara. Baginya, penerbit adalah petani. Selalu menanam, meski musim sering tak ramah. “Sekarang,” ujarnya, “buku hanya punya dua nasib: laku atau tidak laku. Begitu tidak laku, langsung jiklek.”

Sastra, ia tahu, selalu hidup di ceruk yang kecil. Namun, justru di ruang sempit itu daya tahan bisa ditemukan. Memang, sesekali ada ledakan besar, seperti Laskar Pelangi pada 2005. Tapi, sebagian besar buku berjalan perlahan, mengalir tenang seperti air mencari jalan di celah tanah. “Sastra,” katanya, “kadang menyembunyikan kenyataan, kadang menyingkapkannya.” Dan di antara keduanya, penerbit hanya bisa menanam kembali.

Pelan-pelan, suara-suara lain muncul dari kursi belakang. Seorang penerbit kecil di Yogya mengeluhkan keterbatasan yang hampir sehari-hari. Oplahnya hanya 300 atau 500 eksemplar. Ada buku yang tak laku sama sekali. Ada yang laku, tetapi menunggu waktu lama untuk habis. Dan ketika akhirnya sampai di tangan pembaca, ironi lain datang. “Kami cetak seribu,” katanya, “tapi, bajakannya laku dua ribu lima ratus.”

Suara lain menambahkan lapisan yang lebih riang. Seseorang bercerita tentang majalah sastra untuk sekolah yang baru ia terbitkan. Responsnya mengejutkan: bakat-bakat muda bermunculan, seakan tak pernah hilang. Ia pun menggerakkan program penulis masuk sekolah, dengan keyakinan bahwa sastra, seperti benih, harus ditanam sejak tanah masih basah.

Seperti semua lumbung, Yogya tidak hanya menyimpan kelimpahan, tetapi juga benih yang gagal tumbuh. Seorang penerbit senior mengingat masa pandemi. Ia menyebut tahun-tahun itu sebagai masa ketika banyak penerbitan mati. Di saat seniman film atau pertunjukan mendapat subsidi miliaran, buku nyaris tak tersentuh. “Padahal dengan satu miliar,” katanya, “bisa lahir dua puluh judul.” Dari sana ia mengusulkan sebuah semboyan: No tax for knowledge. Pajak kertas dan royalti, katanya, seharusnya dihapus.

Namun, ia tidak hanya menuntut. Ia juga memilih jalan yang lebih senyap, yakni membuka kelas menulis gratis bagi pemula, membiayai sendiri, tanpa sponsor, tanpa sayembara. “Kalau lomba itu memanen,” ia berkata, “kami lebih memilih menanam.”

Semua suara itu, di kepala saya menyatu dalam satu arus yang lebih besar, yaitu sejarah dunia perbukuan Yogyakarta. Kota ini memang sudah lama disebut sebagai lumbung penulis. Julukan yang lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari semangat yang berulang dan terus akhirnya selalu menemukan tempat di tengah zamannya. Ada banyak contoh fenomena demikian. Salah satunya fenomena menjamurnya penerbit independen di sela puing-puing Orde Baru yang baru saja runtuh. Penerbit-penerbit ini disebut independen karena mencetak buku dengan mesin sederhana agar wacana tetap beredar.

Nama-nama penerbit independen masih yang masih disebut hadirin adalah Insist, Pustaka Pelajar, Jendela, dan Ombak. Itu mengingatkan salah satu hadirin bahwa Yogya bukan pusat industri, tetapi juga pusat daya tahan. Karena itu, ketika kata “ekosistem” kembali dilontarkan dari podium, orang-orang di kota ini hanya mengangguk tipis. Tampaknya, mereka semua paham bahwa sebenarnya dunia perbukuan Yogya sudah punya ekosistem sendiri.

Barangkali kebetulan, videotron di layar panggung menampilkan sekelebat footage angkringan, warung kopi, dan diskusi buku yang berlangsung di lumbung sempit. Sontak, saya yang bergerak di bidang susastra, terngiang kata-kata yang terdengar rendah hati, tetapi kerap jatuh pada proyek-proyek yang dibiarkan menguap dan menyisakan kebisuan panjang.

Hujan turun lagi di gelaran yang terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY. Saya dengar seorang sastrawan di samping saya menggumam. Kali ini hujan turun berdesik-desik.

“Lumbung saya bukan menunggu tangan yang mengatur, melainkan tangan yang menjaga agar benih tak lapuk oleh hujan,” gumamnya.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.