Lewati ke konten

Peristiwa

Kedukaan yang Menguar Perlahan-lahan pada Suatu Siang

September 12, 2025

Kedukaan yang Menguar Perlahan-lahan pada Suatu Siang

Blup. Laptop saya mati suatu malam. Mendadak. Tiba-tiba. Ada tulisan yang hampir rampung dan satu transkrip utuh untuk tulisan lain. Saya kehilangan begitu saja. Duh, batin saya. Untung saja masih ada kersik-kersik ingatan yang tersisa, yang segera saja saya pindahkan ke dalam ponsel.

Memang pengalaman kehilangan begitu terlampau sepele.

Ketika hal itu saya ceritakan kepada orang lain, saya kira tidak akan terlalu diperhatikan meski pada kenyataannya saya menerima kesan simpatik. Untuk itu, saya perlu berterima kasih kepada banyak orang.

Tetapi, yang saya sadari kemudian adalah bahwa kehilangan memang begitu personal. Ia memang selalu bisa dirasakan orang lain. Kita mengenal kata empati untuk itu. Namun, selalu ada limitasi. Ada garis tegas yang membatasi antara yang merasakan dan orang lain di sekitarnya.

Meskipun begitu, semua orang toh merasakan kehilangan. Ia bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia. Kehilangan selalu menguntit, diam-diam, sepanjang waktu, sepanjang nasib bergulir pelan. Maka, kehilangan selalu merupakan bahasa universal, yang dapat diterjemahkan ke semua bahasa dan sanggup dimengerti siapa saja.

Buktinya, kita selalu mengalami dan merasakan kehilangan kolektif. Baru-baru ini kita kehilangan beberapa orang waktu aksi. Setiap Kamis kita selalu merasa kehilangan dan beberapa orang mengenangnya dengan berdiri bersama di depan Istana. Ketika ada berita yang mengabarkan sebuah bom sedang diledakkan sekitar delapan ribu kilometer dari sini, kita selalu bergidik ngeri dan panas air mata langsung saja membasahi pipi.

Siang itu (11/09/2025), langit meleleh. Rintik meluncur pelan. Titik-titik air tercetak di sana-sini meski belum cukup membikin basah. Panggung utama Jogja Book Fair 2025 di teras Grhatama Pustaka pelan-pelan menguarkan kesedihan yang memaksa saya mengingat-ingat kehilangan.

Gelaran itu terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Kali itu, Urfa Qurrota Ainy bakal berbagi cerita soal kedukaan, rasa sedih, dan perasaan kehilangan yang ia tulis dalam buku Rumah Ini Tak Lagi Sama, bersama Lya Fahmi, seorang psikolog bidang klinis, dan dimoderatori Wanda Alifa Ramadani.

Di luar, gerimis masih gemericik, tetapi tak menghalangi orang-orang untuk memadati kursi-kursi kosong yang tersedia. Tempat itu sesak. Saya terpaksa mengalah dan mendengarkan dari pinggir.

Kehilangan, pada dasarnya, memang selalu identik dengan perasaan sedih, rasa duka, atau segala kebalikan dari rasa senang maupun gembira.

Namun, kadang kala kita tak mengerti. Bagaimana perasaan itu bisa muncul? Bagaimana kita menghadapinya? Dan juga tak kalah penting: bagaimana perasaan itu didefinisikan? Apa itu duka?

Kedukaan, kata Urfa, bukan hanya berupa kehilangan seseorang dan tak melulu kehilangan yang “besar”. Banyak kedukaan yang sifatnya general. Misalnya kehilangan peluang, kesempatan, atau sesepele kehilangan file tulisan.

Lya turut menambahkan bahwa kehilangan itu bagian dari identitas kita sebagai manusia. Dan kedukaan adalah fase adaptasi, perasaan yang muncul ketika kita menghadapi identitas baru. Itu reaksi alami untuk semua pelepasan rasa kehilangan.

Berangkat dari kedukaannya, Urfa menuliskan buku Rumah Ini Tak Lagi Sama atas pengalamannya merasakan kehilangan. Menurut Urfa, kedukaan itu berat dituliskan. Butuh energi besar ketika menuliskannya. Tetapi, penting untuk keperluan melepaskan dan mengekspresikan bentuk kedukaan. Sebab, seperti yang dikatakan Lya kemudian, kedukaan itu penting untuk disaksikan dan disediakan ruang untuk mengekspresikan duka kita.

Menulis dalam fungsinya sebagai usaha mencapai katarsis memang sangat ampuh untuk melepaskan beragam emosi, tak terkecuali rasa duka. Urfa menyebut bahwa menulis itu merapikan sesuatu yang berantakan dalam kepala kita. Memori-memori duka yang mengganggu pikiran diarsipkan, dipilah-pilah dalam folder khusus, memiliki judul, dan punya tempat ketika dituliskan. Dalam prosesnya ia selalu beriringan dengan memori yang datang dan pergi. Dan setelah selesai, selalu ada perasaan lega yang hadir. Persis seperti habis minum obat sewaktu sakit.

Yang paling penting kemudian adalah bagaimana kita mengenali emosi kita, termasuk rasa kehilangan dan kedukaan. Kita perlu sadar bahwa apa yang kita rasakan itu valid. Tak perlu memendam atau merasa bersalah ketika merasakannya.

Enam tahap duka (grief) yang disinggung Wanda–yakni penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, penerimaan, sampai menemukan makna dan harapan–mesti dilewati dengan kesadaran meski, seperti kata Urfa, semua tahap itu tidak linier, bukan anak tangga yang dilangkahi satu persatu.

Perasaan-perasaan itu, ketika disadari, memberi kita makna. Bukan berarti membiarkannya berlarut-larut. Emosi itu pembawa pesan. Tugas kita adalah menerima pesan itu, merasakannya, lantas membiarkannya pergi perlahan-lahan sebagaimana tamu yang berkunjung ke rumah kita.

Emosi, tambah Lya, selalu hadir karena sebuah alasan, sebagai sinyal yang memberi tahu kita apa yang sedang terjadi. Setiap kali muncul sebuah perasaan, pasti akan ada respons yang muncul. Ada yang ingin disampaikan. Ada sesuatu yang kemudian butuh dipahami lebih dari sekadar emosi itu.

Namun, pengenalan, pengakuan, dan penerimaan kita terhadap emosi yang kemudian menjadi persoalan. Sebab, sejak kecil kita selalu diajari untuk memendam emosi. Maka, sekali lagi, penting untuk mengenali perasaan dan emosi-emosi kita.

Dan perlu digarisbawahi bahwa emosi adalah mekanisme manusia untuk bertahan hidup. Ketika perasaan itu disangkal, kita kehilangan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.

Dua-tiga orang peserta diskusi kemudian menanggapi, menceritakan pengalaman masing-masing tentang kedukaan, sementara satu-dua peserta lain mengutarakan keresahan, kebingungan, menuntut penjelasan lebih lanjut, dan mengajukan pertanyaan.

Di luar gerimis sudah usai meski mendung masih menggantung. Sedikit gelap. Ah, tiba-tiba saja saya teringat satu puisi, dan ingin membacakannya lirih-lirih. Puisi itu soal kehilangan. Kehilangan lain yang dihadirkan secara kontras serta perasaan memiliki sesuatu di depan mata, tetapi sesuatu itu jauh dalam genggaman. Izinkan saya kutipkan sepotong di sini:

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang Bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

(Cintaku Jauh di Pulau, Chairil Anwar)

Jadi, sementara, biar, biarkan saya merasakan kehilangan, memproses kedukaaan pada sepotong file yang tersangkut di laptop yang mati. Biar, biar saja saya mengenang kedukaan saya yang lain dan kehilangan-kehilangan lain. Sebab, yang sepele juga perlu dirasakan, bukan saja karena itu bagian dari diri kita, melainkan pula untuk segera sadar bahwa ada kedukaan lain, yang lebih besar, yang lebih butuh kita perhatikan. Kehilangan fungsi negara, misalnya.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.