Lewati ke konten

Peristiwa

Dua Berita pada Satu Malam

September 6, 2025

Gejog Lesung

Malam itu (Jumat, 5/9/2025), di serambi Grhatama Pustaka, beberapa orang laki-laki berlengan kekar mengusung lesung ke atas panggung.

Dan sosok Wiranggaleng, hero problematik dalam Arus Balik, segera terbayang. Galeng juga kekar karena keadaan memaksanya menjadi pahlawan–sayang seribu sayang, orang baik itu kemudian “dipulangkan” tanpa kenang-kenangan.

Baik. Bayangkan saja Galeng sedang berada di sekitar serambi itu dan menyaksikan tiap langkah prosesi seni setelah lampu-lampu menyala terang.

Fairuzul Mumtaz selaku pembawa acara membuka pentas seni tradisi gelaran Jogja Book Fair (JBF) 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Sosok-sosok yang mengenakan pakaian khas jelata Jawa naik ke panggung. Mereka melepas alas kaki sebelum menginjak karpet: bentuk penghormatan kepada tempat di mana mereka memainkan peran yang lain.

Fairuz memperkenalkan kelompok kesenian tradisi Gejog Lesung bernama Laras Tigowelas. Kelompok itu terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu warga RT 13 Dusun Ngentak, Pelem, Baturetno, Banguntapan, Bantul.

Laras Tigowelas menyanyikan tembang-tembang khas Jawa yang dibawakan para petani masa lampau pada saat mereka menumbuk hasil panen padi.

Dulu kala, jarang sekali ada kabar gembira bagi petani jelata Jawa. Maka, pada masa panen, mereka menciptakan hiburan bagi mereka sendiri. Pada saat nggejog (menumbuk) padi menggunakan lesung—lumpang kayu untuk menumbuk padi—mereka melahirkan pertunjukan berupa nyanyian atau tetembangan dan candaan yang teatrikal.

Dipimpin seorang sinden berjilbab putih, Laras Tigowelas merekonstruksi ekspresi kesenian dari masa lalu itu. Mereka membuka dengan tembang Caping Gunung karya Gesang Martohartono. Dengan bahasa yang lugas, tembang itu mengkritik para pemuda desa yang lupa membangun kampung halamannya.

Lagi-lagi Wiranggaleng: seorang pemuda yang “dicerabut” dari lahan pertaniannya demi mempertahankan negara. Seharusnya Galeng seperti anak lanang dalam tembang itu, yang melupakan kampung halaman, dan namanya pasti akan tercatat dalam sejarah.

“Hai Galeng, kalau kau sukses menjadi Panglima, kau bisa membangun desamu!”

Galeng tidak mendengarkan bisikan itu.

Gejog lesung, menurut Sapto Susilo selaku penggiat Laras Tigowelas, merupakan kesenian rakyat untuk rakyat. Bentuknya hampir seperti teater rakyat, tetapi dominan musik dan tembang.

Sapto memaparkan, “Lirik tembang tidak menggunakan bahasa puitik. Sebab, gejog lesung adalah kesenian yang lugas. Namun demikian, nilai atau pandangan hidup dalam setiap tembang tetap kuat.”

Tidak ada patokan khusus untuk tembang-tembang yang dinyanyikan dalam kesenian ini. Permainan musiknya tidak bernada. Asal bertempo 4/4, semua tembang bisa dimainkan. Pada mulanya, lagu yang dinyanyikan adalah tembang Jawa. Pada perkembangannya, lagu berbahasa Indonesia juga dinyanyikan.

Di sela-sela tetembangan, dua orang bermain peran. Mengingat pentingnya literasi, mereka membaca buku tentang bagaimana mengolah lahan pertanian agar hasil panen optimal. Permainan peran ini termasuk dalam tembang kedua, Entit. Tembang ini diilhami oleh sebuah cerita yang terdapat dalam Cerita Panji Asmorobangun, prosa berbahasa dan beraksara Jawa.

Prau Layar dinyanyikan penuh kegembiraan untuk menutup penampilan.

***

Pukul delapan lebih tiga puluh lima malam, lesung dan para pemainnya undur diri dari panggung. Panggung kemudian diisi dengan instrumen musik konservatif Jawa, seperti kendang, gender, dan lainnya. Para penyanyi duduk bersila di depan pemain musik. 

Fairuz mengumumkan, “Inilah penampilan Sholawat Jawi, Emprak!”

Penyanyi utama mengucap salam, dan kemudian Fatihah memulai pertunjukan. Setelah itu, musik Jawa mulai diperdengarkan. Bersamaan itu pula, di panggung muncul seorang penari berbaju dan kerudung putih. Ia menari di posisi paling depan, cukup dekat dupa yang meruapkan wewangian.

Galeng tidak lagi tampak. Bayangan rakyat jelata pudar dan berganti puji-pujian untuk laki-laki pilihan: Muhammad SAW.

Ah, adakah berita gembira selain lahirnya Baginda Nabi?

Ini adalah bulan Rabiul Awal tahun Hijriah, bulan kelahiran sang utusan terakhir, ujung tombak syariat Islam. Sudah sepatutnya menyajikan kebahagiaan atas hadiah terbesar Tuhan kepada hamba-Nya ini!

Kelompok Sholawat Jawi bernama Emprak berasal dari Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta. Pesantren nyentrik ini diasuh oleh KH. Jadul Maula, salah satu ketua PBNU bidang kebudayaan.

Danu Anggada Bimantara, pemain kendang, menjelaskan bahwa kata “emprak” berasal dari posisi duduk ngelemperak (Jawa) yang dilakukan penari. Selama pertunjukan, tarian dilakukan dengan duduk bersimpuh.

“Posisi itu adalah esensi dari simbol tarian. Secara tidak langsung, tari itu meditatif,” kata Danu. “Sama halnya dengan prinsip joget Mataram, yang nantinya menjadi sarana meditasi yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip nilai Islam. Sebab, joget emprak diiringi oleh Sholawat Jawi yang mengandung nuansa nilai Islam.”

Lirik dalam Sholawat Jawi Emprak diambil dari Thulada, salah satu karya yang diserat langsung oleh Patih Yudhanegara, sahabat karib Hamengkubuwono I. Bahasa yang disadur adalah bahasa puitis dan mengedepankan prinsip-prinsip pembentukan metafora Jawa yang disebut pasemon. Emprak menggunakan teknik ini khusus untuk men-candra Rasulullah Muhammad SAW dalam ekspresi kebudayaan Jawa.

Dalam pertunjukan, kurang lebih ada 6 nomor yang disajikan selama 45 menit. Semua berisi nasihat dan puji-pujian kepada Rasulullah SAW sebagai teladan umat dan pemberi syafaat.

Demikianlah malam itu dibuka dengan berita yang tak selamanya menggembirakan bagi kaum petani jelata Jawa pada masa lampau, dan ditutup dengan berita gembira tentang kelahiran Rasulullah SAW.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.