Lewati ke konten

Peristiwa

Dramatic Reading sebagai Pengalaman di JBF 2025

September 13, 2025

Dramatic Reading sebagai Pengalaman

Sepanjang perjalanan menuju Grhatama Pustaka pada Rabu (10/10/2025), ia mengingat-ingat lagi pengalamannya menekuni seni pertunjukan selama bertahun-tahun. Sejak di kampus hingga sekarang, ia masih senang berakting, baik di panggung maupun di depan kamera perekam video–juga ketika yang menyaksikan hanya dirinya sendiri.

Ia mengamati, beberapa tahun terakhir para seniman sedang menggalakkan dramatic reading. Barangkali karena bentuk-bentuk seni pertunjukan konvensional dirasa sudah perlu disegarkan atau memang karena para seniman sedang bersemangat mengeksplorasi bentuk-bentuk baru saja.

Dalam dramatic reading, yang ditekankan adalah pengalaman membacakan bahan bacaan di sisi pembaca/aktor, dan pengalaman mendengarkan atau menyimak dan menonton di sisi audiens. Biasanya, bahan yang dibacakan dalam dramatic reading adalah naskah drama atau cerpen.

Oleh karena itu, dramatic reading biasanya, tetapi tidak selalu, didukung oleh set yang biasa dijumpai di panggung teater konvensional. Misalnya set dekor, tata lampu, tata rias, kostum, dan properti. Set tersebut terasa lebih minimal dalam dramatic reading.

Rabu malam itu akan menyaksikan sekaligus mencatat pertunjukan dramatic reading. Telah cukup lama ia absen dari produksi pertunjukan, dan malam itu mungkin ia bisa menemukan inspirasi ketika tiba saatnya untuk berakting lagi.

Ketika ia tiba di lokasi, panggung di teras gedung perpustakaan megah itu masih kosong. Pada waktu-waktu lain, terutama pada saat hari masih terang, panggung itu lebih sering menjadi tempat diskusi buku rangkaian Jogja Book Fair 2025 yang diselenggarakan sebagai kolaborasi IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Maharani Khan Jade selaku pembaca acara mengumumkan bahwa yang akan tampil pada malam itu adalah Warga Wargi. Kelompok ini diinisiasi oleh penulis, aktor, dan art handler Febrinawan “Giant” Prestianto.

Mereka akan membawakan naskah lakon Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan karya Puthut Buchori. Naskah lakon itu sendiri sebenarnya adaptasi dari cerpen legendaris karya Pak Kunto yang berjudul sama dan menjadi judul dari buku Cerpen Pilihan Kompas 1997.

Dramatic reading malam itu diawali dengan musik disko. Ada tiga belas aktor yang muncul satu demi satu dari area penonton. Ia sudah sering melihat trik ini dalam pertunjukan teater konvensional, yang menjadikan aktor seolah-olah merupakan bagian dari penonton dan penonton juga merupakan aktor.

Dramatic reading sering bisa dibedakan dari poetry reading dari jumlah aktor itu. Sering kali, pembacaan puisi hanya melibatkan sedikit pementas, bahkan hanya satu orang. Dalam dramatic reading, jumlah aktor bisa banyak, tergantung jumlah aktor dalam naskah yang dibacakan.

Para aktor malam itu mengenakan kostum, kalau boleh disebut demikian, yang ala kadarnya. Namun, jelas dimaksudkan untuk memberikan clue yang memudahkan identifikasi. Sebagian besar kostum mereka berupa pakaian rakyat kecil yang lazim dikenakan ketika sudah waktunya beristirahat.

Misalnya, sarung, baik yang dikalungkan di leher maupun yang dikenakan sekadarnya, dan mengidentifikasi laki-laki desa di waktu malam. Daster rumahan menandai identitas ibu-ibu kampung ketika hendak tidur.

Lakon Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan menceritakan seorang rakyat kecil yang ingin menjadi kaya dengan cara mencuri mayat wanita yang mati pada Selasa Kliwon. Seorang dukun telah menanamkan kepercayaan yang membuat si pencuri mayat bertindak nekat.

Apesnya, saat si pencuri mayat menjalankan aksinya, anjing-anjing merebut barang curiannya. Setelah kelelahan melawan anjing-anjing itu, ia ditangkap warga dan para peronda yang sebelumnya mendengar suara gonggongan anjing di area kuburan.

Ketiga belas aktor membacakan naskah lakon dengan apik. Seorang narator memandu penonton untuk memahami cerita. Ada pula dua orang lain, masing-masing berperan sebagai penata musik yang memberikan efek musikal pada pembacaan dan operator yang menampilkan gambar-gambar pelengkap di layar besar di panggung.

Disutradarai Septi Wulandari, dramatic reading ini ingin menyampaikan pesan kepada penonton bahwa orang kecil selalu menjadi korban. Di layar monitor, diperlihatkan berbagai peristiwa akhir-akhir ini yang menunjukkan bahwa “orang besar” selalu menindas “orang kecil”.

Ada peristiwa pembantaian massal di Palestina, demonstrasi yang mengakibatkan banyak demonstran mati, dan peristiwa-peristiwa lain yang berkaitan dengan kekuasaan yang jahat.

Menutup cerita, si pencuri mayat berkata: Nasib tidak pernah berpihak pada orang susah. Roda memang bisa berputar, tetapi roda milikku macet. Sehingga aku selalu di bawah.

Si pencuri mayat sendiri, seorang laki-laki, tergeletak di tangga serambi Grhatama Pustaka untuk menunjukkan adegan setelah ia dihajar habis-habisan. Sarung hijaunya, yang sedianya untuk menutupi wajahnya, berlumuran darah.

Ia menikmati pementasan dramatic reading itu sekaligus tetap berusaha mengamati dan mencermati. Salah satu hal yang membuatnya bertanya-tanya adalah perkara term atau istilah. Dengan format seperti itu, apakah penampil dalam dramatic reading lebih tepat disebut sebagai “aktor” atau “pembaca”?

Ia mengemasi peralatan liputannya dan menunda jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan serupa. Teori memang penting, tetapi yang lebih penting adalah pengalaman yang diberikan oleh dramatic reading. Dan ia tak sabar ingin merasakan pengalaman serupa lagi.

Mungkin bukan sebagai penonton atau pencatat, melainkan sebagai aktor–atau pembaca?***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.