Peristiwa
Diskusi Buku The Meaning dan Makna Hidup Sonni
September 17, 2025
“Aku lulusan SMSR, Mas,” tutur Sonni, “ambil Kriya.”
Sonni menceritakan pengalaman kerjanya bertahun lalu sambil jemarinya telaten meladeni konsol pencampur. Kabel-kabel sengkarut di sekitarnya sama sekali tak membikin ia risau. Sebagai kru yang menanggungjawabi soalan pengeras suara, FOH benar-benar seperti rumah keduanya akhir-akhir ini.
Siang itu Jogja Book Fair 2025, kolaborasi antara IKAPI DIY dan DPAD DIY, membedah sebuah buku berjudul The Meaning yang diterbitkan oleh penerbit Forum. Diskusi tersebut seakan sengaja diletakkan di hari terakhir rentetan agenda Jogja Book Fair ini, seakan penyelenggara mengajak semua untuk bertanya, “Setelah sebelas hari, apa sebenarnya arti book fair-book fair ini?”
Ade Maaruf memimpin forum di atas panggung. Dengan lihai ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada dua narasumbernya. Mereka adalah Afthonul Afif, penulis buku yang sedang didiskusikan, dan Lya Fahmi, seorang psikolog.
“Krisis makna hidup terjadi karena krisis identitas,” ujar Afthonul Afif. Dalam dunia digital, paparnya, identitas yang semula solid kini jadi cair sekali. Akibatnya, kini manusia kesulitan mencari parameter nilai yang permanen. Pasalnya, apa yang benar hari ini belum tentu benar minggu depan.
Sebagai contoh, ia mengambil kasus Ferry Irwandi. Sebelumnya, pemengaruh itu dianggap sebagai sosok yang akan memulai, katakanlah, revolusi. Tetapi, beberapa hari kemudian, oleh netizen ia dianggap mengecewakan sebab telah berkompromi untuk damai dengan tentara yang sebelumnya mencoba melaporkannya kepada polisi.
Setelah Sonni bercerita soal ketidaksesuaian jurusan dengan pekerjaannya, kiranya wajar saya menoleh kepadanya. Mas-mas ini, batin saya, adakah merasakan krisis identitas? Saya perhatikan dirinya yang duduk sebelah saya. Ia tak menoleh kepada saya. Ia tengah bermain ponsel. Saya intip sedikit, ia sedang berkirim foto anak kecil. Ah, rupanya ia sudah punya istri dan anak.
Sejurus kemudian, Afthonul Afif melanjutkan, “Kebanyakan persoalan makna hidup amatlah bias kelas.” Rata-rata, lanjutnya, orang memperbincangkan makna hidup ketika ia berada di kelas menengah ke atas. Seakan-akan, orang-orang menengah ke bawah tidak punya urusan dengan makna hidup.
Kembali saya menoleh kepada Sonni. Sekali ini ia sadar. Ia balas menoleh kepada saya. Untung saja ia tersenyum, alih-alih tersinggung. Malahan sayalah yang jadi tersinggung. Saat itu ia langsung memberi tahu berapa upahnya sehari menjadi operator. Dan, upahnya sebagai buruh suara itu jauh di atas saya selaku buruh tulis.
Tak ingin berlarut-larut, saya todong saja Sonni dengan sebaris pertanyaan.
“Tapi, makna hidupmu apa sih, Mas?”
Sonni tertawa lagi. Enteng, tetapi bergema di telinga. Ia seolah menaikkan level echo dalam dirinya.
“Makna hidup?” ia mengulang dengan sisa sedikit kekeh. “Makan, minum, tidur, sudah!”
Duh, batin saya. Jawaban yang begitu memperkuat pernyataan Afthonul Afif.
“Oh iya,” tambahnya, “sama ngising!”
Jawaban yang tidak menjawab. Tetapi, sebagai manusia mestinya kita sabar. Sebenarnya, kalau kita mau mendengarkan—dengan “kan”—sejatinya tak ada yang bisa benar-benar tidak menjawab. Saya putuskan untuk merenungkan jawabannya, tetapi nanti-nanti saja.
Ketika saya mengembalikan perhatian ke arah panggung, diskusi tahu-tahu sudah sampai pada tema childfree saja. Lya Fahmi mengatakan, “Childfree itu reaksi anak muda terhadap circumstances hari ini.” Sebagai bukti, ia ceritakan bahwa pada medio ’90-an, fenomena menolak punya anak ini tak ada.
Gayung bersambut, Afthonul Afif menyambung, “Soalnya, pada akhirnya, semua akan menjadi problem struktural.” Fakta akan betapa sulitnya membayangkan punya rumah bagi anak muda di zaman sekarang adalah akibat dari negara yang selalu alpa. Negara, menurut Afthonul Afif, tak pernah hadir dalam rangka pemenuhan hajat hidup warga negaranya.
Tentu saya tak bertanya negara manakah yang dimaksud. Lagi pula ini sudah sedikit ngalor-ngidul. Kembali saya mengganggu Sonni, tetapi ia sibuk berkabar dengan istri. Terpaksa, saya menyimak Afthonul Afif dan Lya Fahmi lagi sampai selesai.
Seusai diskusi, Sonni pamit pulang. Sebelumnya, ia titip pesan kepada saya. Nanti, katanya, kalau kaus sudah dibagikan, saya disuruhnya menghubungi. Kaus yang dimaksud adalah kaus Jogja Book Fair 2025.
Apalah pentingnya kaus itu, batin saya. Kaus cumalah kaus, bukan? Toh mengapa pula saya mesti mengabari. Nanti malam masih ada acara penutupan. Dia wajib datang.
Dan malam itu tak ada yang bertanya apa makna hidup Soni. Tetapi, agaknya, orang tahu belaka kebenarannya.
Malam itu Sonni datang bersama anak lelakinya. Usianya kira-kira masih balita. Dengan bangga, Sonni berkata pada saya, “Mirip bapaknya, ya. Anteng, pendiam.” Saya tertawa saja. Anak kecil itu menggemaskan sekali. Tangan mungilnya menggendong sebungkus kaus milik bapaknya.
Begitu acara penutupan dimulai, sambil memangku anaknya, Sonni duduk di depan konsol pencampur. Tombol-tombol dipencetnya, kadang diangkat ke atas, kadang ditarik ke bawah. Demikian setiap pengunjung pada saat itu bisa menikmati tiupan syahdu dari Komunitas Suling Bambu yang menjadi penampil. Lantaran pengalaman, Sonni jelas mengerti bagaimana meracik komposisi suara sampai pas, harmoni, serta berterima di telinga.
Dan bukankah demikian hidup itu? Sonni seolah mengajari saya, sejatinya semua adalah perkara menaikkan dan menurunkan, menambah dan mengurangi, sampai mencapai taraf pas, harmoni, dan berterima.
Dan seperti kata Afthonul Afif siang tadi, hal tersebut membutuhkan dua modal utama.
“Hidup,” tutur penulis buku The Meaning itu, “hanya perlu jujur dan tanggung jawab!” Saya kira Sonni adalah orang yang jujur dan bertanggung jawab.***