Lewati ke konten

Peristiwa

Catatan Kecil tentang Mengulas Abad Sembilan Belas

September 16, 2025

Catatan Kecil tentang Mengulas Abad Sembilan Belas

Seni tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya. Ia selalu terikat dengan medan pergumulan di mana dan kapan karya seni itu lahir. Di beranda DPAD DIY (08/09/2025), A. Anzieb M.Hum. dari Institut Sejarah Seni Indonesia (ISSI) dan M. Iqbal S.Sn., mengulas tema tersebut, terutama soal seni rupa pada abad ke-19 dan riwayat sosial pada zaman itu.

Tema gelar wicara ini lahir dari buku Mengulas Abad Sembilan Belas, yang merupakan semacam antologi esai perihal sejarah seni rupa di Indonesia. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

“Mengapa abad sembilan belas?” tanya Rahma selaku moderator.

Kau melempar jauh ingatanmu, mengeja ulang abad itu berbekal buku-buku yang pernah kau baca. Namun, Pak Anzieb punya jawabannya sendiri. Baginya, abad ke-19 adalah tonggak setidaknya dalam sejarah seni rupa pribumi. Tersebutlah nama Raden Saleh (1811-1880), yang kau tahu adalah maestro di bidang itu.

Pak Anzieb memijat kepala. Ia seolah membuka data-data dan arsip pada laci usang terkait biografi Sang Maestro. Pak Anzieb kemudian memaparkan, “Raden Saleh melakukan pameran tunggal pertamanya pada tahun 1865 di sebuah studio. Ada juga yang menulis, memang benar Raden Saleh melakukan pameran pada tahun itu, tetapi tidak di studio, melainkan di gedung yang sekarang menjadi kantor Kementerian Keuangan.”

Perbedaan versi sejarah seni memerlukan serangkaian pengecekan ulang. Hal itu membuat para penulis sejarah seni harus senantiasa teliti dan tidak sembrono. “Sebanyak mungkin kita harus membuat pertanyaan yang kreatif. Misalnya ada siapa sebelum Raden Saleh dan siapa setelahnya,” ujar Pak Anzieb.

Dari keresahan tentang minimnya kelas penulisan sejarah seni, Pak Anzieb mendirikan ISSI. Kelasnya sudah berjalan dua tahun dan pesertanya berasal mulai dari semenanjung Thailand sampai ujung New Zealand. Kadang-kadang ia harus menyesuaikan jadwal karena perbedaan zona waktu. Tantangan lain baginya adalah masih banyaknya orang yang terjebak dengan mitos menulis sejarah.

Begini tanggapan Pak Anzieb mengenai mitos itu: “Banyak orang menganggap menulis sejarah itu seram dan takut dulu sebelum melakukan, padahal tidak seperti itu. Ya, memang tantangan menulis sejarah itu lebih ketat daripada menulis yang lain. Orang menulis kuratorial atau kritik bisa jumpalitan ke mana-mana, tetapi kalau menulis sejarah nggak bisa—dia harus berdasarkan data. Harus data A, data B, data C, dan seterusnya. Itu yang sebenarnya melatarbelakangi ISSI.”

Mas Iqbal–salah satu penulis Mengulas Abad Sembilan Belas–punya pandangan lain tentang Raden Saleh. Ia berangkat dari kajian perbandingan tokoh dengan menyandingkan Sang Maestro dengan maestro lainnya dari Prancis, yaitu Gustave Courbet (1819-1877). Alasannya, ada kesamaan zaman dan gaya melukis keduanya.

Raden Saleh dan Courbet menganut aliran realisme, yang sangat mengutamakan cerminan kondisi sosial. Namun, yang paling menonjol dari keduanya adalah semangat perlawanan. “Kalau Raden Saleh kan semangat antikolonial, sementara Courbet mengangkat perlawanan terhadap dominasi kerajaan sebelum revolusi Prancis,” ucap mas Iqbal.

Bagi Mas Iqbal, kedua maestro itu mungkin juga saling terpengaruh mengingat Raden Saleh pernah lama melanglang buana di Eropa. Ia juga menawarkan tafsir alternatif atas penggambaran sejarah sosok Raden Saleh. Ia menempatkan Raden Saleh bukan sebagai seorang nasionalis, melainkan sebagai seorang yang kosmopolitan, yaitu percaya akan kebebasan manusia dalam lingkup yang lebih luas.

“Courbet juga mengangkat sosok Joseph Proudhon, dengan tema-tema anarkisme, di mana anarkisme tidak mengakui batas-batas negara. Dari sana bisa disimpulkan kemungkinan kedua seniman itu saling berkorelasi,” ujar Iqbal, tampak penuh percaya diri dengan tafsirnya.

Dari segi metode, penulisan sejarah seni dan sejarah umum tidak jauh berbeda. Bagi Pak Anzieb dan Mas Iqbal, terjun ke lapangan dan mendapatkan data primer adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Penting sekali untuk mengecek langsung material karya seni dan memperhatikan narasi sekitar yang menyelubunginya.

Pak Anzieb mengatakan bahwa masa lalu tetaplah masa lalu jika tidak ditulis, termasuk arsip dan semacamnya. Ia bukan sejarah selama tidak ditulis. Menurut Pak Anzieb, sejarawan itu cenderung bergerak menuju dua arah: konservator dan performatif. “Ada arsip, ada data, ditulis, maka dia menjadi sejarah,” kata Pak Anzieb.

Tentunya menulis sejarah seni tidak semudah menumis kangkung, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Pelacakan terhadap karya seni secara langsung, melihat pandangan politik si pengkarya, dan tegangan zaman menjadi fokus yang tidak bisa diabaikan. “Sama saja kamu kuliah di sastra. Belum tentu jadi sastrawan kalau tidak membuat puisi atau cerpen. Sarjananya ya tetap sarjana sastra,” ujar Pak Anzieb.

Mengenai narasi yang melingkupi karya seni, kau bertanya dalam hati soal sejarah sastra. Sastra di negaramu hanya persoalan angkatan yang selama ini seperti terhenti di tahun 2000-an awal. Selepas itu, tidak ada lagi pembabakan sejarah sastra yang cukup serius.

Orang-orang begitu takut untuk berpolemik dalam sastra. Barangkali nanti kau dan kawan-kawanmu yang akan memulai itu.

“Ah, siang-siang begini memang enaknya untuk tidur dan bermimpi,” ucapmu dengan dada basah seraya meninggalkan bangku penonton.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.