Peristiwa
Bertahan dan Bertumbuh: Literasi sebagai Jalan Santri Menguatkan Diri
September 15, 2025
Di udara yang belum seberapa terik proses pun mulai. Seorang laki-laki melangkah pelan dari tempat parkir motor Grhatama Pustaka. Dari penampilannya orang tak akan salah menduga: sarung dan pecinya mengumumkan bahwa ia seorang santri.
Pukul sepuluh pagi pada hari itu (Kamis, 11/92025), kursi-kursi yang dinaungi tenda besar telah semuanya ditempati. Santri laki-laki itu menoleh ke sana kemari. Tempat yang tersisa untuknya tinggal petak-petak kecil di sekitar bambu hias. Ia membenahi pecinya dan berdiri di sana.
Gelar wicara–padanan apik untuk talk show–di panggung acara hari itu akan membahas hubungan antara santri dan literasi. Acara ini adalah rangkaian dari Jogja Book Fair 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY. Panggung itu sendiri pada hari-hari biasa adalah teras Grhatama Pustaka atau Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY.
***
Moderator Muyassarotul Hafidzoh memperkenalkan dua narasumber, yaitu Maya Fitria dan Sri Widayanti. Keduanya adalah dosen. Bu Maya mengajar di Departemen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan mengasuh Pondok Pesantren Krapyak, sementara Bu Widi di STPMD APMD DIY.
Moderator memulai dengan mengajukan pertanyaan tentang cara memunculkan potensi santri, juga cara menggairahkan literasi di pesantren agar santri mampu mengembangkan potensi itu dan meningkatkan kepercayaan diri.
Bu Maya menanggapi dengan menceritakan program sorogan buku di pesantren yang diampunya. Program ini mengadopsi metode belajar di pesantren yang berupa sorogan kitab.
Sorogan kitab adalah proses membaca kitab kuning atau kitab turot di depan seorang guru yang disertai penyampaian makna. Santri dipersilakan memilih buku apa yang akan dibaca dan kemudian menyampaikan interpretasinya kepada guru.
Bu Maya juga mencermati kondisi masyarakat terkini. Ia menyebut generasi saat ini sebagai scrolling generation.
Scrolling generation ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, aktivitas scrolling adalah aktivitas yang melulu menerima informasi, tetapi tidak melakukan komunikasi. Akibatnya, seseorang akan sulit mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan orang lain atau kenyataan.
Selain itu, aktivitas scrolling yang dilakukan terus-menerus akan menghilangkan kepekaan. Padahal, kepekaan terhadap diri sendiri dan kepekaan terhadap orang lain adalah tahap awal dari kesehatan mental.
Solusi untuk masalah tersebut, menurut Bu Maya, adalah delay scrolling. Delay scrolling bisa berupa aktivitas membaca buku maupun aktivitas mengobrol. Dengan membaca, seseorang bisa memiliki kemampuan rasio, perencanaan, dan berpikir kritis.
Dari keterangan Bu Maya, moderator menyimpulkan bahwa pikiran kita harus dirawat agar tidak dikuasai oleh emosi. Sebab, emosi hanya akan membuat daya nalar tidak berfungsi sehingga kesehatan mental terganggu dan kepercayaan diri bisa lenyap.
Bu Widi membuka pembicaraan dengan membedah arti literasi. Menurutnya, literasi pada awalnya memang berarti huruf, tetapi kemudian dimaknai sebagai membaca dan menulis.
Kedua kegiatan itu membutuhkan kemampuan memaknai yang dalam dunia santri diasah melalui ngaji sorogan. Selain itu, dibutuhkan pula kemampuan kritis yang di kalangan santri dilakukan melalui kegiatan bahtsul masail yang dikaitkan dengan aktivitas dialektika. Membaca dan menulis bukan hanya berkaitan dengan melek huruf, tetapi juga melek konteks sehingga keduanya dapat berdialektika agar hasil pemaknaan tidak sempit.
Bu Widi melanjutkan dengan menjelaskan empat aspek belajar, yaitu nilai, nalar, moral, dan norma.
Nilai adalah sesuatu yang abstrak dan diyakini kebenaranya. Misalnya nilai kemanusiaan. Membaca dan menulis akan memperlihatkan kecenderungan (keberpihakan) individu pada nilai tertentu.
Nalar adalah logika atau cara berpikir. Ketika seseorang sudah meyakini kebenaran dari nilai kemanusiaan, logikanya akan bekerja. Setiap produk tulisan dan analisis bacaannya akan ditujukan pada nilai tersebut.
Moral adalah sebagai kebenaran yang menjadi modal refleksi diri, sementara norma adalah hukum yang akan menjadi landasan untuk bagaimana seseorang bersikap atau bertindak.
Nilai dan nalar membentuk cara berpikir dan moral dan norma membentuk cara bertindak. Dengan demikian, literasi bukan hanya melulu tentang membaca dan menulis untuk memproduksi pengetahuan atau sekadar aktivitas intelektual. Literasi juga merupakan aktivitas spiritual dan moral yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum, baik di dunia maupun di akhirat.
Bu Widi menyimpulkan paparannya dengan menyatakan bahwa literasi santri dalam tradisi pesantren membentuk cara berpikir, cara bertindak, keberanian untuk kritis, dan berani berjuang bagi kemanusiaan.
Teori dari kitab-kitab klasik sangat relevan untuk dimaknai sesuai kondisi terkini. Maka, dialektika dengan realitas bakal membentuk pemahaman yang luas dan mendalam bagi santri dan membentuk positioning atau keberpihakan.
Demikianlah literasi membentuk keberanian berpikir dan bersikap. Ini pula yang menjawab pertanyaan tentang bagaimana santri bisa lebih percaya diri ketika berbaur dengan masyarakat akademik. Karena, ilmu yang diajarkan di pesantren adalah ’ilmu amaliyah dan ‘amal yang ‘ilmiyah.
***
Santri laki-laki itu telah mengikuti gelar wicara dengan setia. Ia tetap di depan panggung, terlindung di bawah teduhan bambu hias, hingga tiga pertanyaan dari peserta tuntas dijawab. Ia baru beranjak setelah moderator menutup acara secara resmi.
Berbeda dari saat ia datang tadi, ini kali ayunan kakinya lebih cepat ketika ia melangkah ke tempat parkir. Matahari memang sudah tepat di atas kepala, sementara langit membiru tanpa awan.***