Peristiwa
Bagaimana Mengalami Puisi dan Pertanyaan Lain yang Mesti Dijawab Sendiri
September 16, 2025
Katakanlah Anda seorang mahasiswa sastra. Suatu waktu, Anda ditugaskan pula menulis liputan soal pembacaan puisi. Bagaimana Anda bakal menuliskannya?
Anda mungkin berpikir untuk berangkat dari definisi puisi. Misalkan, Anda meminjam Wellek-Warren yang menyebut puisi sebagai karya imajinatif bermedium bahasa yang unsur seninya dominan. Atau, mengutip Dunton yang bilang puisi adalah wujud pemikiran konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Atau, Anda menulis definisi yang sering dikutip, yakni puisi sebagai kata-kata terindah dalam susunan terindah sebagaimana ujar Coleridge. Dan lain sebagainya.
Bisa pula Anda bertolak dari kajian puisi untuk memahaminya. Ada banyak jalan untuk itu. Menaiki tangga strata, seturut Roman Ingarden, dengan lima lapis normanya, misal. Menelisik kata, kalimat, bait, keterkaitan antarunsurnya, atau dari bunyi yang terdengar ketika dibacakan. Mungkin juga dengan menjelaskan analisis struktur, semiotik, hermeneutik, dan semacamnya.
Namun, Anda pikir hal-hal semacam itu bukan untuk semua orang. Itu sulit untuk dijangkau dan diserap khalayak.
Lantas, Anda berpikir bakal menuliskannya dari pengalaman.
Ada beragam cara mengalami puisi. Dua yang disebutkan lebih dulu memang termasuk, tetapi cukup rumit, perlu jalan panjang untuk sampai ke sana. Untuk hal-hal begitu biar saja jadi urusan orang-orang teks, manusia-manusia sastra, seperti Anda.
Bagi kebanyakan orang, sebagai warga sastra biasa, ada banyak lagi yang lebih sederhana, dan mungkin jauh lebih penting, terutama dalam ekosistem puisi itu sendiri. Misalnya membeli buku puisi, menceritakannya ke orang lain, membacanya lirih-lirih atau keras-keras, mencoba menulisnya sesekali, atau mendengarkannya dibacakan.
Seperti yang terjadi di Malam Puisi, Sabtu malam (13/09/2025) pada rangkaian acara Jogja Book Fair 2025. Malam itu, sejak pukul tujuh, teras depan Gedung Grhtama Pustaka DPAD DIY diguyur puisi. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Anda kemudian memilih duduk di depan panggung, di tengah-tengah deretan kursi berwarna putih yang berjejer rapi. Mulanya, Anda sangsi. “Memang sebanyak apa sih orang-orang yang ingin mengalami puisi?” Anda membatin.
Tetapi, anggapan itu segera sirna. Sebentar saja, orang-orang segera menyusul Anda. Mereka ikut duduk di kursi-kursi yang berjajar rapi itu meski tak penuh-penuh amat dan beberapa kursi masih dibiarkan tak terisi. Ketika Anda menengok ke belakang, jelaslah bahwa tak hanya yang duduk di depan panggung yang ingin turut mengetuk pintu pengalaman puisi.
Banyak orang terlihat duduk-duduk di bagian belakang, dekat batu peresmian gedung yang berada beberapa jarak di belakang area panggung. Dan di sebelah kanannya lalu-lalang orang-orang keluar masuk bazar buku yang, Anda taksir, beberapa bersinggungan dengan puisi—entah melihat-lihat bukunya atau membawa salah satunya pulang.
Persoalannya kemudian, bagaimana Anda menuliskan pengalaman?
Seorang perempuan muda maju ke panggung acara, memperkenalkan diri sebagai Noura yang menjadi pembawa acara, dan kemudian menyebut dua-tiga kalimat pesanan: acara ini diselenggarakan bla.. bla.. bla.., kemudian menyebut nama-nama. Tiga komunitas disebut lebih dulu. Ada komunitas sekolah puisi Yogyakarta, komunitas sastra Bantul, dan komunitas Jejak Imaji. Lalu, mereka dipersilakan maju satu persatu.
Sekolah puisi Yogyakarta menjadi yang pertama naik panggung dan mempersembahkan tiga puisi. Dua yang pertama sama-sama dibacakan berkelompok. Tiga orang remaja—Manis Aryamabi Sari, Fatzilah Asri Febriyani, dan Kelsy Olivia—membawakan puisi Ziarah Tanah Jawa yang ditulis oleh Iman Budhi Santosa. Kelompok lain, empat orang kanak-kanak sekolah dasar—Putri, Zea, Kirana, dan Arsy—membacakan Mari, Mari Belajar Lagi karya Suminto A. Sayuti. Yang terakhir, Kiuhana Ilyasa, membacakan puisinya sendiri yang berjudul Menculikmu.
Puisi Kompas Waktu dibacakan penulisnya sendiri, yakni S. Arimba, perwakilan dari Komunitas Sastra Bantul. Anes Prabu membacakan Sajak Buat Anak, beranak judul Maoza, yang begitu personal dan merupakan gubahannya sendiri. Umi Kulsum melanjutkan dengan membacakan puisi Batas, yang juga ditulisnya sendiri.
Dari perwakilan komunitas, Jejak Imaji menjadi yang terakhir. Mereka mempersilakan lima orang dari komunitasnya sebagai pembaca puisi. M. Nabil menjadi yang terlebih dahulu tampil. Ia seorang anak, masih sekolah dasar, yang kemudian membacakan dua puisi, yakni Sedekah dari Joko Pinurbo dan Rumah karya Mustofa Bisri. Azizah, yang Anda taksir masih sekolah menengah, melanjutkan dengan membaca dua puisi: Bangsal Gilitrawangan yang digubah Mutia Sukma, dan puisi dari Enggar Jiwanto berjudul Seperti Yogya. Manusia Pertama di Luar Angkasa dari Subagyo Sastrowardoyo dibacakan Ahmad Syaiful. Lalu Aulia maju, membacakan puisi Perempuan Senja yang ditulis Joko Pinurbo dan Gandum-gandum Ranum karya Ira Komang Puspita. Terakhir, Bayu menutup dengan membacakan puisi Orang-orang Malioboro 1969 karya Iman Budhi Santosa.
Setelahnya, pembawa acara mempersilakan penonton untuk turut maju membacakan puisi. Fairuzul Mumtaz, sebagai salah satu anggota dewan penyelenggara JBF 2025, memulai dengan membacakan puisi panjang dari Indrian Koto berjudul Pleidoi Malin Kundang.
Sehabis membaca, ia mengajukan teknis lain, yakni orang yang disebut sehabis pembacaan puisi wajib membacakan puisi lain di panggung. Iqbal H. Saputra kemudian maju dan lantas membacakan puisi pendek, pendek sekali, kebalikan dari Fairuz, yakni Malam Lebaran-nya Sitor Situmorang.
Setelah rampung membaca, Iqbal mengajak seorang pengunjung, yang kemudian mengenalkan diri bernama Asror dan membacakan puisi Fikar W. Edha berjudul Kepada Kawanku di Jalan Keheningan.
Setelah jeda sebentar, Maharani Khan Jade mengajukan diri dan membacakan puisi saduran Chairil Anwar dari John Cornford berjudul Huesca. Jade memanggil pembawa acara, dan sesuai kesepakatan, Noura turut membacakan puisi W. S Rendra, Kesaksian Akhir Abad. Lantas, berturut-turut Bintang dan Achong yang juga termasuk jajaran penyelenggara membacakan puisi. Yang pertama membaca Negeriku gubahan Mustofa A. Bisri dan yang kedua membacakan Dalam Doaku-nya Sapardi Djoko Damono.
Malam hampir larut. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Puisi sudah reda. Pembawa acara menutup acara. Lalu, bagaimana Anda bakal menuliskan pengalaman puisi?
Anda malah angkat tangan. Setelah Anda pikir-pikir, ternyata berangkat dari pengalaman pun sulit untuk dituliskan. Jadi, Anda hanya mencatat, menyebutkan nama-nama, sembari membiarkan dan berharap pembaca mengalaminya sendiri. Sebab, sebagaimana semua pengalaman, ia perlu dialami langsung. Dan sesuatu yang perlu dialami langsung bakal menjadi sesuatu yang amat personal. Dan ketika itu dituliskan, selain karena ada batasan pada jumlah kata, Anda kira, justru malah bakal mereduksi banyak hal.
Jadi, menurut Anda, bolehlah kita sepakati satu hal untuk mengakhiri: puisi mesti hadir sebagai pengalaman dan semua orang berhak mengalami puisi. Tak hanya orang-orang sastra seperti Anda.***