Peristiwa
Atmosfer Keresahan: Membaca di Ruang Liminal
September 14, 2025
Rak buku di kamar sudah penuh, tapi saya masih suka membeli buku. Bahkan masih banyak buku yang masih tersegel, belum terbaca, dan saya berencana akan terus membeli, lagi dan lagi.
“Siapa tahu sewaktu-waktu pengen baca,” kata saya setelah kalap saat berkunjung ke toko buku.
Saya suka mengoleksi buku karena selain bermanfaat, buku sangat estetis untuk menjadi hiasan dinding. Tapi, katanya, di dunia yang serba digital ini, buku-buku yang memenuhi rak itu akan berada dalam satu genggaman. Ah, yang benar saja? Masa iya hiasan dinding saya cuma satu gawai kecil, yang bahkan tidak makan space lima persen dari rak buku di kamar saya?
“Menjadikan ribuan buku dalam satu genggaman, karena di dalamnya kita siapkan rak digital, yang bisa dibaca di mana pun dan kapan pun.”
Inilah yang saya dengar dari acara bincang-bincang “Membaca Tanpa Batas: Mudah, Legal, dan Praktis bersama Bacabuku.com”, dengan pak Edi Sianturi sebagai narasumber. Gelaran ini terselenggara sebagai rangkaian Jogja Book Fair 2025, kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Platform digital bacabuku.com, kata pak Edi, menyediakan kemudahan akses pada buku-buku dengan versi digital, dan mencoba menghubungkan antara penerbit dengan para pengguna. Pasalnya, saat ini sudah ada hampir 800 penerbit yang tergabung dengan bacabuku.com. Di dalamnya sudah ada 100.000 buku yang bisa diakses dan dibaca secara offline.
Panggung acara Grhatama Pustaka Sabtu sore itu (13/09/2025) seperti bergidik ngeri dan saya sempat berpikir, “Mungkinkah bangunan ini akan diruntuhkan karena buku-buku sudah tidak perlu tertata anggun di dalam rak, melainkan dalam genggaman?” Saya tertawa kecil memikirkan kemungkinan nasibnya.
“Ah, shibal!” umpat perpustakaan Yogya itu dengan aksen Jawanya yang kental.
Saya merasakan perseteruan senyap antara perpustakaan yang gagah itu dengan segelintir inovator buku digital yang hadir, terutama ketika para inovator itu membagi-bagikan voucer e-book gratis seharga tiga ratus ribu rupiah kepada peserta.
Sementara voucer-voucer dibagikan, Novi sebagai moderator meyakinkan: “Semua buku yang ada di bacabuku.com ini melalui proses kerja sama dengan penerbit. Jadi, ini legal. Mbak dan Mas tidak perlu takut ini tuh bajakan atau apa. Tenang aja, asli kok, real.”
Atmosfer keresahan mulai terasa di bangunan perpustakaan itu. Namun, pak Edi melanjutkan.
“Saya tidak mau kalah dengan programnya Prabowo. ‘Makan Bergizi Gratis’ kan dari perut ke bawah. Kita ini makan bergizi ada buku gratisnya nih, ke atas, dan itu selamanya. Kalau makan bergizi gratis, sore dia udah laper. Tapi, kalau kita dengan membaca, ada buku-buku gratis, mungkin juga ada buku-buku promo di situ. Kita beli, ya bisa dimiliki selamanya, dan itulah yang bisa mengubah cara pandang dan cara bersikap kita dalam menghadapi setiap persoalan.”
Pak Edi resah atas kondisi Indonesia yang tampak tidak dewasa secara emosional. Apa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menimbulkan rasa waswas. Menurut Pak Edi, penyebab utamanya adalah kurangnya literasi dan membaca sehingga masyarakat perlu mempelajari cara bersikap dan mengelola emosi. Indonesia menjadi negara dengan minat membaca yang rendah. Oleh karenanya, kesempatan membaca perlu dibuka secara besar-besaran dan menyesuaikan interest generasi saat ini.
Udara semakin sejuk. Gedung perpustakaan yang sedari tadi cemberut kini menyunggingkan senyum tipisnya. Saya merasa gedung itu menyadari bahwa ia tidak akan diruntuhkan. Masyarakat masih harus membaca, bagaimana pun caranya, termasuk kerja sama antara perpustakaan seperti dirinya dengan perpustakaan digital.
Jujur saja, saya mulai suka membaca karena tertarik dengan buku-buku sastra, seperti novel, kumpulan cerita pendek, dan puisi. Membaca buku-buku akademik dan serius itu membosankan bagi saya. Pijakan pertama membaca adalah membaca cerita yang di dalamnya ada banyak kepala dengan berbagai pikiran. Membaca sastra adalah percobaan keluar dari diri sendiri dan mencoba berpura-pura menjadi orang lain setidaknya untuk sementara. Merasakan emosinya, mengenyam pahit manis hidupnya, serta menyusun kembali teka-teki pikirannya yang semula tak tertata.
Namun, pada saat itu saya mulai resah dan gelisah mengenai inovasi sastra di masa depan. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya.
“Saya punya keresahan, Pak Edi. Di sastra itu kan sudah ada sastra digital. Sastra yang dibuat dan dibaca di media digital. Itu tidak bisa dicetak seperti pdf karena salah satu perantinya menggunakan link. Jadi puisinya pakai link, cerita juga bisa. Nah, apakah akan ada inovasi baru dari bacabuku.com, misalnya mewujudkan sastra digital di Indonesia? Karena, sejauh ini tidak banyak sastra yang seperti itu di Indonesia. Yang ada hanya sastra yang dibuat pdf dan dianggap sebagai sastra digital, padahal berbeda.”
Pertanyaan itu disambut dengan sangat baik oleh pak Edi.
“Sepanjang ada teknologi, inovasi itu sangat mungkin dilakukan dengan adaptasi sesuai perkembangan teknologi. Sekarang mungkin hanya e-book digital, tapi nanti bisa saja bentuk voice hingga video. Karya-karya sastra di era digital bahkan bisa menggunakan konten-konten lokal di Indonesia.”
Bagi saya, jawaban pak Edi membawa angin segar untuk masa depan sastra Indonesia. Kini, perlahan keresahan mulai mereda. Kami–saya dan gedung Grhatama Pustaka–tersenyum bersama-sama membayangkan literasi yang benar-benar serius dan pendewasaan emosional negara yang sehat—meskipun masih berada dalam ruang-ruang liminal.***