Lewati ke konten

Peristiwa

Ia yang Tak Beranjak Dewasa Pergi Lebih Jauh

July 1, 2025

Kredit: Kanya Kiarra.

Ini catatan kecilku dari perbincangan tentang buku-buku yang tokohnya selalu mati dan tentang penulis yang tak pernah benar-benar jadi dewasa.

Jauh dari ingar-bingar kota tak lantas membuat Melek Huruf yang beralamat di Magelang itu berhenti bergerak. Jika dilihat kalender kegiatannya, hampir selalu ada yang berlangsung.

Jumat sore, 20 Juni 2025, lalu misalnya. Pekan Buku Magelang tengah berlangsung di ruang baca publik ini. Di antara deretan jadwal kegiatan, muncullah nama bintang tamu yang panjangnya seperti judul novel dua jilid: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Ya, namanya panjang dan daftar penghargaan sastranya enggan kalah panjang. 

Rendy Padmanaba duduk sebagai moderator. Kulihat matanya masih basah oleh Kita Pergi Hari Ini yang ia tamatkan pagi sebelumnya. Ia mengaku sedih dan tidak berusaha menyembunyikannya. Tapi, ia bersyukur karena masih ada satu pelarian lagi: Mari Pergi Lebih Jauh. Itu sekuel Kita Pergi Hari Ini. 

(Selanjutnya, aku akan banyak menyebut Kita Pergi Hari Ini dan Mari Pergi Lebih Jauh masing-masing dengan singkatannya, yaitu KPHI dan MPLJ)

Ziggy duduk di samping Rendy dan tertawa kecil. Ia sudah biasa dimarahi pembacanya karena tokoh-tokohnya selalu mati. Kadang mati sungguhan, kadang cuma hilang, kadang cuma tidak ada.

Ziggy tidak membela diri. Ia tahu pembacanya hafal kebiasaannya: selalu ada yang patah dan selalu ada kejutan. Pengolahan plot yang efeknya mirip kucing nyelonong itu sudah ia hadirkan sejak menulis 30 buku Fantasteen semasa remaja dulu.

Kini, seorang peserta, katanya mahasiswa, menulis skripsi tentang Semua Ikan di Langit yang memenangi Sayembara Novel DKJ itu. Ziggy tidak tahu harus bangga atau bingung. Ia tak pernah memikirkan majas ketika menulis. Semua metafora adalah jaring untuk menangkap hal-hal yang terlalu rapuh jika diceritakan langsung. Jadi, ia biarkan pembaca menafsir sesukanya.

Kalimat-kalimat di novel Ziggy sering terasa berulang, seperti doa yang dirapal di antara tidur dan bangun. Ziggy belajar gaya tulis itu dari buku anak-anak, juga dari hukum.

Ya, ia kuliah hukum. Kata ayahnya, kalau ingin menulis dengan jernih, belajarlah dari pasal-pasal. Jangan berputar-putar! Karena, penulis pemula biasanya cerewet, tapi kalimatnya tidak jelas mengarah ke mana.

Pun demikian dalam serial KPHI. Dunia KPHI yang diciptakan Ziggy itu, menurut hemat Rendy, berkisah tentang anak kecil yang tak pernah benar-benar punya rumah. Rumahnya ada, tapi tak pernah terasa aman.

“Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang harmonis,” Ziggy menimpali sambil menyeringai, “Makanya bagiku genre novel ini horor.”

Ya, katanya seperti melihat kegelapan lewat kaca jendela rumah sendiri, dengan lampu ruang tamu masih menyala.

Ziggy bilang, pembaca kadang seperti penonton sinetron yang berharap penulisnya hidup mengenaskan. Padahal, Ziggy merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tapi, ia punya telinga. Sejak kecil, ia mendengar orang-orang dewasa datang ke rumahnya untuk curhat.

Suara mereka pelan. Badan mereka terbungkuk-bungkuk. Ziggy kecil hanya mondar-mandir minta permen, berpura-pura tak peduli. Tapi, semuanya ia rekam. Lalu, saat dewasa, ia tulis ulang, ia rakit ulang, ia tambal-tambal dengan kesadaran baru yang tumbuh diam-diam seperti jamur dalam botol kaca yang tak sengaja disimpan.

Seri kedua KPHI, Mari Kita Pergi Lebih Jauh, lebih lantang membicarakan identitas. Di MKPLJ ada tokoh Petronella yang tidak diberi gender. Ada juga Mo yang masih bayi sehingga relatif tidak dikotakkan dalam gender mana pun.

Ilustrasi hadir di buku ini meskipun Ziggy kadang menolak ilustrasi. Baginya, gambar bisa jadi cara melawan anggapan bahwa buku bergambar itu bukan buku serius. Lagi pula, sampulnya memang mirip buku anak-anak. Tapi, usia bacanya 15+. Kalau ada anak-anak di bawah umur membacanya, bagi Ziggy, itu urusan orang tua mereka.

Sekarang, Ziggy lebih memikirkan anak-anak yang menulis. Banyak dari mereka tidak jadi penulis ketika dewasa. Tidak apa-apa, katanya. Bimbingan menulis untuk anak-anak, bagi Ziggy, bukan soal melahirkan sastrawan kecil, melainkan soal mendukung proses eksplorasi mereka.

Ziggy tidak ingin jadi patron sastra anak-anak. Tapi, ia tahu: agar bisa masuk ke dunia yang membingungkan itu, diperlukan seseorang yang sudah berada di dalamnya untuk membukakan pintu.

Lantas, di mana buku terbaiknya? Ziggy menjawab cepat, “Buku terakhir.” Karena, itu versi terbarunya dan karena menulis adalah taman bermain. Tiap kali sebuah bukunya terbit, Ziggy merasa itu buku jelek. Penghakiman itu diperlukan supaya ia bisa terus belajar. Ia selalu membaca ulang novelnya sendiri dan menggarisbawahi bagian yang payah. Kemudian, ia akan menambal kepayahan itu di buku berikutnya.

Itulah mengapa Kita Pergi Hari Ini dijadikan berseri: supaya kegagalan bisa diperbaiki tanpa harus malu dan minta maaf.

Boleh jadi, itu juga alasan pembaca terus kembali meski mereka tahu tokohnya akan mati.  Di media sosial, orang-orang pun membanjiri kolom komentar dengan pujian yang dibungkus dalam ketidakpercayaan: “Wah, ini orang pasti pakai nih waktu menulis! Bagi dong jenisnya!” 

Ziggy, yang mengaku tidak merokok, tidak minum, dan tidak memakai narkotika, hanya menjawab dengan wajah datar, “Pakai apa? Ya, pakai tangan.”

Jawaban itu seketika menghadirkan sunyi. Mungkin peserta yang kebanyakan adalah pegiat sastra muda itu baru sadar bahwa mereka juga punya tangan, tapi tak kunjung berangkat menulis.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.