Lewati ke konten

Peristiwa

Di Antara Akar yang Terputus

March 20, 2025

Kredit: Kanya Kiarra

Aku, yang terasing dari kampung halaman, tak pernah bisa sepenuhnya menaruh hati pada fiksi atau karya sastra etnografis. Namun, entah mengapa, kemarin itu aku mendapati diriku melangkahkan kaki ke Jual Buku Sastra. Barangkali hanya silaturahmi. Rokok, obrolan, dan wajah-wajah yang lama tak kujumpai lebih dari cukup sebagai alasan.

Hari itu, Jumat, 14 Maret 2025, dua buku puisi bertema Batak dibedah di sana. Mamak, Andung-andung Petualang karya Saut Situmorang diulas oleh Mutia Sukma, sementara Tarombo dikupas langsung oleh penyairnya, Roy Simamora. Aku datang, duduk, dan membiarkan diri larut dalam alur diskusi yang melingkar dan sesekali terputus oleh gelombang pikiran yang terlalu deras.

Ketrin Aswawinata, yang lebih sering dipanggil Keke, menjadi moderator. Ia menyatakan dirinya Batak, tetapi lahir di perumahan yang temboknya terlalu kokoh untuk membiarkan cerita mengalir di antara tetangga. Ada kekosongan yang menjelma dalam bahasa, barangkali juga dalam identitas. Barangkali, ucap Keke, Batak yang tercerabut seperti dirinya, ketika berhadapan dengan keluarga besar, merasa seolah “terbuang”—kata yang menggantung di udara tanpa siapa pun yang berani menangkapnya.

Sukma, dengan antusiasme yang sedikit bergetar, berbicara tentang buku puisi Saut. Mamak, Andung-andung Petualang adalah kumpulan puisi tentang ibu—dengan cinta yang kritis, cinta yang tak sekadar berkobar, tetapi juga melawan. Saut, dalam puisinya, membalikkan hierarki yang sudah lama dianggap mapan. Kata-kata yang mengacu pada ketuhanan ditulis kecil, sementara kata-kata tentang Mamak ditinggikan, seperti monumen yang dibangun di atas abu negara yang mengecil di kaki-kakinya sendiri. Simbol perlawanan yang halus, tetapi tajam.

Saat gilirannya tiba, Roy menyebut Keke dengan “Itok”—sapaan akrab untuk saudara perempuan dalam budaya Batak. Aku membuka Tarombo dan membaca sepotong-sepotong. Ah, bahasa ibu dan lanskap kampung halaman selalu menjadi pusaran yang menarik kembali siapa pun yang tersesat terlalu jauh.

Tarombo, sebagaimana dijelaskan Roy, bukan sekadar silsilah. Ia adalah jaring halus yang menghubungkan nama-nama yang bahkan tak pernah saling bertatap muka, seutas benang yang ditenun oleh tangan-tangan yang sudah lama menjadi abu. Di dalamnya terkandung sesuatu yang lebih tua dari ingatan pribadi, lebih mengikat dari sekadar kebiasaan. Namun, meski nama-nama itu berbaris rapi seperti catatan dalam arsip yang berdebu, hubungan di antara mereka seringkali samar—terpisah oleh percabangan generasi.

Silsilah diwariskan dengan kepastian yang hampir mekanis, turun dari satu ayah ke anak laki-lakinya, mengabaikan yang lain seakan-akan mereka hanyalah cabang yang patah. Amanah untuk menjaga garis itu tak pernah tertulis, tetapi lebih nyata daripada hukum yang dikeluarkan oleh penguasa mana pun. Di mana pun seseorang berpijak, marga tetap mengikuti—seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan, seperti kewajiban yang tak pernah benar-benar dimengerti.

Kadang-kadang, untuk memastikan hubungan itu tetap hidup, diadakan pertemuan-pertemuan yang terasa lebih seperti ritual daripada reuni. Sebuah kesepakatan yang diwariskan dari leluhur yang namanya hanya terdengar dalam upacara adat, sebuah janji yang harus ditepati meskipun maknanya telah lama pudar. Ada marga yang terikat oleh perjanjian. Simamora dengan Marbun, Debataraja dengan Lumbangaol, sebagaimana roda gigi dalam mesin tua yang tetap berputar meskipun tak ada lagi yang mengingat siapa yang pertama kali menyusunnya.

Bagi Roy, begitulah amanah itu berjalan—bukan sesuatu yang dipilih, melainkan sesuatu yang tak bisa dihindari. Ia bukan sekadar cerita yang diceritakan kakek pada cucunya, tetapi sebuah keharusan yang tak boleh dilupakan. Roy mungkin tidak tahu mengapa ia masih mengikuti jejak yang telah digariskan sejak lama, tetapi tetap saja ia melangkah mantap dalam labirin yang dibangun oleh tangan-tangan yang telah lama hilang.

Meski demikian, Roy tak ingin membangun generasi yang kembali ke akar. Ia hanya ingin mengingat: cerita rakyat yang dibacakan oleh kakeknya dan nyala lampu minyak di rumah tua yang tak lagi berdiri.

“Lebih sakit dibilang tidak beradat daripada tidak beragama,” ujar Roy.

Keke menolak, dengan suara yang terdengar lebih tenang daripada pikirannya. Ia berbicara tentang perempuan Batak, yang sering kali memilih meninggalkan adat karena di dalamnya ada sesuatu yang menggigit mereka dari dalam. Dan entah bagaimana, kata-kata itu memanggil Saut naik ke panggung. Saut berbicara panjang tentang feminisme, sampai azan maghrib menyela. Namun, aroma jamuan berbuka yang dimasak Mutia Sukma perlahan membaurkan percakapan.

Seperti pemandangan yang memudar dalam kabut, diskusi itu menjadi samar. Aku beranjak masuk, meninggalkan percakapan yang kini tak lebih dari gumam jauh di telingaku.

Aku membiarkan suara mereka terurai seperti benang kusut yang tak lagi ingin kuurai. Feminisme, adat, perlawanan—semuanya telah kehilangan daya pikatnya di mataku. Mereka berbicara tentang akar, tetapi aku telah lama tercerabut. Mereka berdebat tentang identitas, tetapi aku bahkan tak tahu lagi dari mana aku berasal.

Sementara itu, aroma masakan menyelimuti ruang seperti selimut tua yang melupakan siapa yang pernah bernaung di bawahnya. Dan aku, tanpa tujuan, hanya berjalan menjauh.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.