Lewati ke konten

Peristiwa

Catatan Harian Kegiatan: Satu Hari Bersama Teman-Teman di Ba(Wa)Yang

September 29, 2026 · Mad Muflihun

Catatan harian kegiatan peluncuran buku menolak hening suku sastra

Kami –saya, Alvin, dan Polancho— berjalan mengular dengan mata masing-masing yang tertutup kain. Saya tak merasakan matahari sore, baik panas atau cahayanya, karena waktu sudah surup sedang rembulan masih malas buat ganti sif. Di depan kami hingga radius belasan meter jauhnya, hanya ada gelap. 

Kami disuruh berjalan maju entah sampai ke mana. Alvin sering langkahnya terlalu cepat sehingga pegangan tangan saya ke pundaknya hampir selalu terlepas, dan karenanya saya memegang pundaknya semakin kuat. Bahkan terkesan menariknya ke belakang. Begitu juga tangan Polancho di pundak saya, seolah-olah terlepas berarti tertinggal ribuan tahun cahaya, atau lebih lama dari itu, atau selamanya.

Sekilas, saya bayangkan beginilah ketika Soekarno dan Hatta digiring ke Rengasdengklok. Atau, karena ini September, Gestapu (setidaknya begitulah yang saya lihat di film yang terakhir kali saya rutin tonton saat SMP). 

Tapi suara Broto Wijayanto yang seolah tak mau kalah dengan keramaian apapun itu selalu mengingatkan kami bahwa apa yang kami lakukan adalah semacam langkah untuk merasakan apa-apa yang dirasakan kawan-kawan Netra.

“Yo, jalan terus!” kata Broto. Tanpa ampun.

Sesampainya di dalam ruangan, kaki saya terbentur sebuah kursi berangka besi. Jangkrik, umpat saya. Kemudian sebuah tangan tiba-tiba membalik punggung saya dan dengan cepat memaksa pantat saya untuk menempel di atas kursi. Ampun. Seperti diculik saja kami ini. 

Berpindah posisi menjadi duduk nyatanya tak membuat saya mendingan. Saya mulai merasakan mual dan kepala saya berkunang-kunang. Saya menunduk dan berdoa semoga penderitaan ini akan segera berakhir.

“HAHAHA, ada alam yang hijau, langit yang biru. Kau tak bisa melihatnya, kan?”

Astaga, itu suara sangat mengerikan yang pernah saya dengar sepanjang hidup saya. Bukan karena intonasinya yang menggelegar, melainkan karena saya mendengarnya sambil tak bisa melihat dan hanya ada gelap. Bayangkan, kata saya kepada diri saya sendiri, jika kain itu tak bisa dilepas hingga kapan pun. Atau, kain itu bisa hilang dari mata saya tapi tidak dengan retina yang masih tertutup gelap.

Kemudian suara tongkat yang dibentur-benturkan ke lantai keramik membuat saya terkejut dan ketakutan setengah mati. Seolah-olah itu sangat dekat dengan kami dan meleset sedikit saja maka ujung tongkat itu bisa membuat tulang kaki saya habis dalam sekali tepuk.

Saya hampir selalu ketakutan dengan suasana yang ada di situ jika saja tak ingat bahwa itu hanyalah sebuah pertunjukan. Bagaimana tidak, yang saya dengar saat itu kalau tidak suara isak tangis, tentu saja suara tawa jahat yang dibuat terbahak-bahak sekencang mungkin dan suara keramik yang dihantam dengan seribu kali amarah.

Setelah pertunjukan selesai, penutup mata saya dibuka. Rasa takut hilang. Saya terkesima. Di depan sana, hanya ada ruang sempit yang difungsikan sebagai panggung. Tak ada level. Penonton, panggung, dan aktor semuanya setara. Seseorang yang bernama Arman, volunter dari Komunitas Ba(Wa)Yang, memperkenalkan dua aktor yang tadi menakut-nakuti saya.

“Yang pakai batik Nawal, satunya lagi Huda,” kata Arman. “Dua-duanya Netra dan bergiat di Teater Braille.”

Saya terkesima karena dengan panggung sesempit itu, tongkat yang mereka jedar-jedorkan tak membentur apa pun (selain lantai) di sekitar mereka.

Setelah penglihatan saya kembali membaik, saya menyapukan pandang ke seluruh ruangan. Tampak tembok-tembok yang membatasi ruangan itu dipenuhi berbagai kanvas 

“Semua hasil lukisan ini karya teman-teman,” kata Arman saat saya menahannya untuk tidak ikut bubar bersama audiens.

Arman kemudian menunjukkan saya sebuah lukisan yang tertempel di dinding. Saya sangat awam soal seni lukis, tapi saya tebak itu adalah lukisan seekor semut. Kemudian entah di latar belakangnya ada apa. Yang unik adalah semut itu tak dibuat dengan kuas, melainkan paku yang disusun berkelok-kelok hingga membentuk seekor semut.

“Ini karya teman-teman Netra”, katanya. Saya baru sadar bahwa itu adalah lukisan braille. Teman-teman Netra butuh objek yang dapat diraba.

Arman kemudian menunjuk beberapa lukisan lain yang tak menggunakan braille. “Ini dari teman-teman Tuli,” katanya. Saya lihat betapa menakjubkannya teman-teman Ba(Wa)Yang dalam berkarya.

Dan pertunjukan itu hanyalah satu dari beberapa rangkaian acara dalam Peluncuran Buku “Menolak Hening: Memoar Cinta dalam Keluarga” pada Sabtu (26/9). Bertempat di Kafe Susu dan Tuli (Kasuli), Broto Wijayanto sebagai tuan rumah menyambut semua orang yang ada di sana.

“Hari ini adalah hari bersejarah,” kata Broto. Jika selama ini Ba(Wa)Yang lebih berfokus pada pengungkapan ekspresi lewat seni pertunjukan, maka saat ini adalah kali pertama mereka mengungkapkannya lewat bahasa tulis. 

Hadirin menyimak dengan khidmat, baik mereka yang Dengar maupun yang Tuli dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat di samping panggung.

“Dan itu sangat berat, tapi juga pengalaman yang berarti,” tambahnya. 

Buku itu tentunya bukan produk semalam jadi. Rangkaian yang sebenarnya dimulai sekitar satu bulan sebelumnya dalam lokakarya yang bertajuk “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas” yang diselenggarakan oleh Suku Sastra di gedung DPD RI DI Yogyakarta. Dalam lokakarya itu, dua puluh orang yang mengalami singgungan dengan dunia difabel, di dalamnya ada orang tua dan guru, diberi pelatihan menulis yang intensif selama beberapa pertemuan oleh para ahli. Ada yang tergabung di Ba(Wa)yang, ada juga yang dari WKCP (Wahana Keluarga Celebral Palsy).

Fairuzul Mumtaz dari Suku Sastra kemudian mengenang hari-hari itu. “Itu adalah pertama kalinya kami, Suku Sastra, mendampingi orang-orang yang tidak melulu memfokuskan hidupnya untuk menulis.”

Dan itu adalah sebuah tantangan, katanya, di samping juga keberanian.

Sedangkan Hilmy Muhammad, anggota DPD RI DI Yogyakarta, melihat kegiatan itu dari kacamata yang lebih religius. “Ini adalah kegiatan ibadah,” ungkapnya. “Manfaatnya tidak hanya bagi penulis, tetapi juga pembaca”

Ia juga mengutip sebuah syair dari penyair Arab untuk memberikan semangat bagi anak-anak difabel dan orang tua mereka. “Jika Anda rela dengan apa yang Allah anugerahkan kepada Anda, Anda akan hidup bahagia. Dan sebaliknya”.

Di akhri sambutannya, ia mendorong agar momentum untuk mengakomodasi kaum difabel dalam dunia kepenulisan dapat terus terjaga. 

Hal itu pula yang menjadi fokus dari Ratun Untoro sebagai Plt. Kepala Balai Bahasa Yogyakarta.

“Air mengalir, teman-teman Netra tak bisa membayangkan. Begitu pun dengan suara gemuruh halilintar bagi teman-teman Tuli,” ungkap Ratun. Karena itu, katanya, dunia kesusastraan bisa didorong untuk mendobrak batasan bagi para penikmat yang tergolong difabel.

Setelah berbagai sambutan itu, tampillah teman-teman komunitas Ba(Wa)Yang bersama dengan orang tua mereka. Ada Putu Daisy Khristanti dengan anaknya, Andra, yang mengidap Down Syndrome. Andra ini adalah seorang penari yang pengalamannya telah banyak dan tampak bahwa ibunya tak ingin kalah begitu saja.

Penampilan itu kemudian diikuti tiga penampilan lain. Dua di antaranya adalah menyanyikan lagu dengan bahasa isyarat dan pantomim.

Yang terakhir, sekaligus menjadi penutup, adalah penampilan pantomim dari Wahyu. Dalam hal ini, bisa saya bilang bahwa semua sanad keilmuan pantomim di Ba(Wa)Yang bersumber dari orang yang satu ini. Ia, saya taksir, berumur sekitar 20-an akhir dan setiap geraknya adalah umpan bagi tawa penonton. Bahkan saat ia tak berniat untuk tampil sekalipun.

Maka, secara tak sengaja, saya baru menyadari bahwa rumah yang penuh teman-teman difabel bukanlah rumah yang melulu diliputi kesedihan. Ada banyak cerita di sana, dan itu cerita yang sama dengan yang dialami manusia di seluruh muka bumi ini. Ada sedih, susah, senang, ketawa. Tapi lebih banyak ketawanya, sih.

Di belakang sana, saya lihat teman-teman Netra, Nawal dan Huda, yang pastinya tidak bisa menikmati lucunya Wahyu melalui penglihatan mereka. Tapi, di belakang keduanya, Arman dengan telaten menerjemahkan pertunjukan panggung itu dengan bahasa lisannya. Dengan itu, Nawal dan Huda bisa merasakan apa-apa yang kami semua rasakan. 

Ketika saya mencuri dengar sepotong demi sepotong, kemampuan story telling Arman nyatanya lebih lucu dari yang saya bayangkan. 

“Oh, Wahyu kemudian melepas bajunya,” kata Arman. Ada raut sedikit kaget di muka Nawal. 

“Tapi tidak melepas beneran, dong,” tukas Arman buru-buru.

Huda dan Nawal tertawa, saya ikut tertawa, teman-teman Bawayang tertawa, dan kami semua tertawa. 

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.