Lewati ke konten

Mekar di Tempat yang Tepat

September 28, 2026 · Novi Rahmawati

Novi adalah seorang ibu muda berusia 34 tahun. Ia memiliki anak semata wayang bernama Eyza. Eyza kini berusia delapan tahun dan memiliki kebutuhan khusus, yaitu Cerebral Palsy, ADHD, disabilitas intelektual, dan autoimun. Kebutuhan-kebutuhan khusus ini sangat menentukan arah kehidupan Novi, Eyza, dan orang-orang terdekat mereka.

Semua ini dimulai dengan ketika Novi hamil. Sejak awal kehamilan, Novi sudah merasakan ada sesuatu yang memang tidak baik-baik saja pada janin yang dikandungnya. Kehamilan ini memang mengubah hidupnya 180 derajat. Puncaknya adalah saat trimester ketiga, dokter mendeteksi ada kelainan pada janin. Sesuai arahan dari dokter fetomaternal, Novi melanjutkan pemeriksaan di rumah sakit pusat. Dokter fetomaternal adalah dokter kandungan subspesialis yang khusus menangani kelainan janin.

Sebelumnya, Novi adalah wanita pekerja yang aktif di salah satu perusahaan swasta di Sleman, Yogyakarta. Setelah mengetahui bahwa calon bayinya akan menjadi anak spesial, Novi memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan.

Pada 2018, ketika hari kelahiran itu tiba, Novi mengalami preeklamsia. Preeklamsia adalah kondisi berbahaya pada usia kehamilan tua yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, kelebihan protein dalam urin, edema, dan gangguan penglihatan. Saat itu, Novi sedang kontrol untuk keputusan melahirkan secara normal atau bedah sesar. Sembari menunggu hasil laborat dan obat jadi, Novi duduk di kursi depan loket pendaftaran, menunggu suaminya mengambilkan obat di loket farmasi.

Saat itu, pandangannya menjadi gelap dan berganda. Novi bertanya-tanya, ada apa? Kenapa pandangan ini terasa gelap? Rasanya ingin pingsan. Lalu Novi menelepon suaminya yang sedang mengantre obat agar segera mendatanginya. Tubuhnya sudah lemas saat ia didorong melalui lorong poli rawat jalan menuju IGD.

Sesampainya di IGD, dokter jaga langsung memeriksa Novi dan detak janin yang sudah melemah. Tensi Novi semakin tinggi dan hasil laborat Novi menunjukkan bahwa Novi sudah masuk preeklamsia dengan proteinuria sudah positif dua. Saat itu juga, dokter menjadwalkan Novi untuk segera operasi.

Di dalam ruang operasi, tubuh Novi menggigil, dan ia juga mual hebat hingga akhirnya muntah-muntah. Rasanya Novi sudah pasrah dengan kehidupan saat itu karena merasa tubuhnya tidak karuan. Namun, Eyza berhasil dilahirkan.

Tapi, mana Eyza? Kenapa tidak menangis? Kenapa wajah Eyza tidak diperlihatkan kepada Novi?

Saat itu, Eyza memang tidak menangis. Wajahnya biru. Seketika dokter anak memberikan pertolongan kepada Eyza. Eyza harus berada di ruang perawatan Perina. Ya, Eyza berada di NICU, ruang ICU khusus bayi, dan menggunakan alat bantu pernapasan.

Eyza lahir dengan asfiksia, bilirubin tinggi, dan dengan beberapa kelainan lainnya.

Hari demi hari telah dilewati dengan perjuangan. Terkadang tangis itu pecah, di kala mendapati ada diagnosis-diagnosis baru untuk Eyza, yang mana Novi masih awam dengan diagnosis tersebut. Hal yang wajar bukan, jika seorang ibu bersedih dengan kondisi anak?

Setiap minggu sebanyak dua kali, Eyza menjalani terapi. Belum juga setiap minggunya ada saja poli yang harus dikunjungi. Tidak apa, semua yang lelah akan berbuah manis di kemudian hari. Novi meyakini setiap anak pasti memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam hal apa pun karena setiap anak itu unik. Sebagai seorang ibu, Novi berusaha mengupayakan terapi dan pengobatan apa yang dibutuhkan demi tumbuh kembang yang lebih baik.

Tiba waktunya Eyza masuk dalam dunia sekolah. Eyza sekolah sejak usia 4 tahun. Saat Eyza masuk ke dalam dunia PAUD, dia amat senang. Guru juga sangat menyayangi Eyza, begitu pula dengan teman-temannya. Ketika sudah masuk usia TK, Eyza pindah bersekolah di TK umum. Saat itu Eyza memasuki usia 5 tahun.

Hari demi hari dilalui. Novi menaruh curiga ada hal yang tak biasa pada Eyza saat berangkat ke sekolah di TK. Novi merasakan hal yang sangat berbeda ketika Eyza bersekolah di PAUD. Setiap kali Eyza berangkat, ia selalu menolak untuk masuk dan selalu menangis saat mau masuk ke dalam kelas.

Novi berpikir, itu hal biasa dan hanya mencari-cari celah untuk tidak sekolah. Mungkin Eyza jenuh? Saat itu Novi masih denial.

Saat mengantarkan Eyza untuk terapi, Novi menceritakan hal ini kepada terapis psikolog Eyza. Dan terapis membantu Novi untuk meyakinkan ke Eyza, bahwa sekolah itu menyenangkan, dan bahwa Eyza harus sekolah agar kelak bisa mandiri.

Suatu ketika, Novi mendapati saat Eyza akan berangkat ke sekolah ia menyebut salah satu temannya, panggil saja Bumi. Ia selalu berkata tidak mau bermain dengan Bumi. Eyza selalu melontarkan kata-kata, “Bumi nakal, Eyza tidak mau sama Bumi. Eyza tidak mau sekolah.” Deg! seketika Novi bertanya-tanya, ada apa ini? Kenapa dengan Eyza? Kenapa dengan Bumi? Tapi, Novi tak menghiraukannya. Novi tetap mengantarkan Eyza berangkat ke sekolah. Dan setiap berangkat, ketika sudah sampai pintu gerbang, Eyza selalu ketakutan. Eyza menangis ingin pulang. Tapi, lagi-lagi Novi abai. Karena Eyza ada gangguan emosi, Novi mengira itu hanya akal-akalan Eyza saja untuk tidak mau mengikuti pelajaran sekolah.

Tiba waktu acara Outing Class, Novi mendapati Bumi merundung Eyza, hingga Eyza teriak dan merasa ketakutan. Beberapa kali terjadi perundungan yang Novi lihat. Puncaknya Novi melihat ketika hendak bermain perosotan, Eyza didorong oleh Bumi hingga jatuh dan menangis. Dari situ, Novi langsung merenung, ternyata ucapan Eyza benar. Eyza tak ingin bersekolah karena anak itu. Akhirnya, Novi dan suami memutuskan untuk stop di sekolah tersebut demi kesehatan mental Eyza. 

Sebagai seorang ibu, Novi merasa bersalah. Kenapa tidak dari awal menyadarinya? Kenapa harus menunggu Eyza seperti itu?

Dan Novi memutuskan untuk mencari sekolah lain. Novi meyakini bahwa suatu saat Eyza mampu mandiri melawan perundungan di lingkungan Eyza dengan porsi yang ia miliki. Sembari mencari sekolah lain, Novi fokus pada terapi dan pengobatan dulu, dan menambahkan durasi terapi untuk memaksimalkan kemampuan Eyza.

Akhirnya Novi menemukan kembali sekolah yang dirasa cocok untuk Eyza. Akan tetapi, Eyza tidak bisa langsung bersekolah, dan harus menunggu tahun ajaran baru. Alhamdulillah, Novi sangat bersyukur karena dengan kondisi Eyza yang seperti ini, guru mau menerima dan mendidik Eyza.

Eyza memang memiliki keterbatasan melakukan aktivitas sehari-hari dalam kemandirian dan pengelolaan emosi. Ketika Eyza merasa terancam, Eyza akan memberikan refleks yang memang di luar kendali. Kadang kala Eyza juga bisa mengelola emosi,sehingga ia bisa dikendalikan. Dalam belajar materi sekolah pun, terkadang Eyza bisa sangat fokus dan kadang ada kalanya saat melakukan kegiatan bisa dengan mudah terdistraksi, bahkan menolak untuk melakukan kegiatan tersebut. Ini sangat menjadi perhatian penuh bagi Novi sebagai ibu, untuk terus mengajarinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, serta berkolaborasi dengan guru agar bisa memberikan yang terbaik untuk Eyza.

Hal-hal berkait kemandirian sederhana masih sangat perlu dilatih terus-menerus, terutama dalam hal membela diri agar Eyza bisa menghadapi perundungan. Koordinasi antara tangan dan kaki masih Novi latih terus secara berulang dan rutin ketika di rumah dengan memainkan bola lempar tangkap dan sepak bola. Novi harus bisa mengukur tingkat kelelahan Eyza, mengingat ia juga dengan kondisi autoimun yang memang harus dijaga agar tidak flare-up. 

Ada kalanya Novi sedih ketika Eyza belum bisa merasakan keadaan tubuhnya yang mana sedang dalam kondisi flare-up atau sedang baik (remisi) karena Eyza masih dalam proses tahap belajar mengungkapkan perasaan dan keadaan tubuhnya. Eyza masih sangat membutuhkan latihan terus dalam kemandirian dan terapi untuk menunjang kemandiriannya. Eyza juga perlu pendampingan dan Novi harus ekstra membaca tanda bahwa Eyza sedang dalam kondisi flare-up atau remisi. Di sini, kepekaan Novi sebagai ibu bermain. Feeling tidak bisa bohong saat kondisinya memang sedang tidak baik.

Di TK yang baru, Eyza sangat enjoy. Akhirnya Eyza bisa mempunyai teman dekat, panggil saja Langit. Eyza selalu bercerita kepada Novi bahwa ia sangat senang bermain dengan Langit. Ibu Guru yang mengampu juga sangat sabar dan menyayangi Eyza, hingga sangat dekat sekali dengan Eyza. Novi tersenyum bahagia. Dalam hati Novi, “Kenapa tidak dari dulu ya Eyza di sini? Terima kasih, Tuhan, akhirnya Eyza bisa mempunyai teman dekat.”

Tiba waktu kelulusan Eyza, semua harus berpisah. Begitu cepat satu tahun berlalu, tangis pecah antara Novi, Eyza, Ibu Guru, dan teman-teman saat mengucapkan perpisahan. Ucap rasa terima kasih yang tak terhingga dari Novi karena sudah menerima Eyza dengan penuh kasih dan sayang.

Tahun 2025, Eyza memasuki usia SD. Akhirnya Novi memutuskan untuk menyekolahkan Eyza di sekolah yang memang khusus untuk anak berkebutuhan khusus seperti Eyza. Iya, Eyza kini bersekolah di SLB. Tempat yang sangat ramah, aman, dan nyaman bagi Eyza. Kini, seolah itu telah menjadi rumah kedua untuk Eyza.

Begitu banyak perubahan Eyza setelah masuk di SD ini. Eyza yang dulu di TK ketika pelajaran belum bisa mengikuti arahan sesuai mata pelajaran yang diajarkan, kini mulai bisa mengikuti. Eyza yang dulu makan harus disuapi ketika masuk SD, kini mau belajar makan sendiri. Dulu Eyza yang belum bisa menulis, bahkan memegang pensil untuk menggambar belum bisa, kini sudah bisa menebalkan. MasyaAllah, hati Novi sungguh terharu bahagia. Terima kasih tak terhingga Novi ucapkan kepada Bapak-Ibu Guru. Ternyata, ketika anak berkebutuhan khusus berada di lingkungan yang tepat, ia akan merasa aman dan nyaman. Seperti bunga yang mekar di lingkungan yang tepat.

Tahun 2025 juga penuh tangis, harus menerima bahwa anak berkebutuhan khusus ini juga memiliki autoimun dan ADHD. Yang awalnya Cerebral Palsy ringan dan disabilitas intelektual, mengapa ada tambahan diagnosis baru? Seperti dunia Novi hilang arah. Mengapa Eyza bisa terkena autoimun? Ada apa ini? Perasaan Novi sebagai ibu sangat tidak karuan. Marah, sedih, dan menyalahkan diri sendiri pun menghantui pikiran Novi.

Hari demi hari telah dilalui. Novi sekarang mengerti, ternyata selama ini Eyza tantrum bukan hanya karena disabilitas intelektual saja, tapi juga ADHD-nya yang masih sulit dalam mengelola emosi. Tapi, Novi harus tetap semangat dan tersenyum, bukan, demi Eyza?

Alhamdulillah, dengan ikhtiar terapi yang tepat, Eyza jauh lebih baik dan bisa dikondisikan. Novi membatasi screen time pelan-pelan, hingga akhirnya menghentikan screen time, dan benar membuat banyak perubahan yang sangat baik. Tidur mulai teratur, mau diarahkan, belajar lebih rajin, dan pengelolaan emosi juga lebih baik. 

Sebenarnya, anak berkebutuhan khusus, jika mendapatkan terapi yang tepat, ia juga bisa hidup dalam kemandirian sesuai porsinya. Dan tak lupa untuk pengobatan autoimun juga sangat berpengaruh pada Eyza, yang mana dulu dia sering makan ultra processed food dan jajanan yang banyak pengawet, kini sudah bisa mengubah pola hidup Eyza menjadi jauh lebih sehat, lebih terkontrol juga dalam mengelola emosinya, karena ternyata makanan tinggi gula juga dapat memicu tantrum.

Dengan Cerebral Palsy yang dialami Eyza, koordinasi geraknya masih sangat terbatas antara tangan dan kaki. Untuk melakukan rutinitas harian seperti mandi, buang air besar, dan naik turun tangga masih perlu pendampingan. Hipersensori yang ia alami juga belum teratasi. Sentuhan-sentuhan tangan orang terasa geli bagi tubuhnya dan ia malah jadi tertawa. Baik pemeriksaan dokter, maupun saat sedang terapi, ia merasa sensitif terhadap sentuhan itu.

Kondisi autoimun juga kadang kala membuat ia tiba-tiba dalam kondisi down. Tubuhnya lunglai, mual, tak nafsu makan, bahkan terkadang demam hingga menggigil. 

Dengan berjalannya waktu pengobatan dan terapi, besar harapan Novi agar Eyza dapat mandiri. Bermain bersama teman tanpa pendampingan, tanpa ada perundungan, dan hipersensori yang bisa menurun derajatnya, bahkan besar harapan untuk bisa hilang, adalah hal yang sangat Novi cita-citakan sebagai seorang ibu. 

Semoga, seiring berjalannya waktu Eyza bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, terutama kondisi badan yang seperti apa yang sedang dirasakan, agar orang tuanya dan orang lain paham betul dengan keadaan Eyza. Tak ada lagi trauma dan perundungan dalam diri Eyza lagi menjadi harapan besar bagi Novi.

Novi sebagai ibu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik, berkoordinasi dengan keluarga, guru, dan tenaga medis, agar bersinergi memberikan terapi, pengobatan, dan ikut berperan langsung dalam tumbuh kembang dan kesehatan Eyza, serta tak lupa, yang paling penting, yaitu campur tangan Tuhan, Allah yang bisa membantu Novi dalam membersamai anak spesialnya.

Pada kehidupan yang akan datang, khususnya ibu dengan anak berkebutuhan khusus, tidak pernah tahu sejauh apa ibu akan menemani anaknya. Dengan memberikan pengobatan dan terapi yang tepat, sangat penting agar kelak, ketika orang tua tidak di samping si anak, si anak sudah mulai bisa dan terbiasa untuk sendiri dan mandiri dan sudah bisa melawan para perundung, tanpa rasa takut.

Salah satu cara Novi dalam membantu keseharian Eyza yaitu dengan membuat sebuah jadwal rutinitas dalam sehari selama seminggu yang dapat membantu Eyza untuk melatih kedisiplinan. Eyza memang lebih suka dengan jadwal yang cenderung sama setiap harinya. Kemandirian sederhana dalam sehari-hari seperti memakai celana kolor, kaus, kaus kaki, dan memakai sepatu, selalu Novi latih untuk bisa melakukan sendiri tanpa bantuan. Memang proses itu butuh waktu yang lama, tapi Novi selalu yakin pada akhirnya Eyza mulai terbiasa dengan tangannya untuk melakukan kegiatan tersebut dengan senang hati, bahkan tanpa bantuan.

Penting bagi Novi sebagai ibu dengan anak yang memiliki hambatan koordinasi tangan dan kaki memberikan anak terapi kepada ahlinya (terapis) agar dapat membantu dalam proses tumbuh kembangnya terutama mengurangi tantrum, membela diri ketika dirundung, melatih keseimbangan tubuh, dan mengurangi hipersensorinya. Seperti halnya ketika Eyza belajar menulis masih belum bisa dengan sendirinya, Novi mencoba membuat titik-titik lalu Eyza mengikuti alur titik-titik tersebut sehingga bisa menjadi rangkaian kalimat.

Eyza juga diberi stimulasi oleh Novi dengan beberapa cara belajar agar menarik perhatiannya. Seperti benda-benda yang menarik dapat membantu ia belajar dengan fokus. Permainan lego, clay, buku belajar yang terdapat gambar-gambar menarik, sentuhan-sentuhan dengan lagu sambil mempraktikkan sangat membantu agar Eyza bisa fokus dan mengingat ketika Eyza belajar.

Namun, tidak setiap hari berjalan sesuai dengan yang diharapkan, bukan? Ada kalanya jadwal yang sudah diatur belum sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Itu adalah hal yang wajar. Perlu memberikan ruang sejenak untuk Novi sebagai ibu, dan Eyza sebagai anak, untuk merelaksasikan diri masing-masing. Setiap saat akan dikaji ulang semua. Berusaha untuk memperbaiki, tanpa berekspektasi tinggi dengan hasilnya, dan tak lupa selalu tawakal kepada Allah SWT. 

Novi juga sangat membutuhkan dukungan untuk membersamai anak semata wayangnya. Oleh sebab itu, Novi berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan suami, keluarga, guru, dokter dan terapis, agar semua berjalan dengan baik. Terima kasih dari Novi untuk mereka yang telah membantu proses Eyza hingga sejauh ini. Dan semua ini pasti ada campur tangan Tuhan. Tanpa Allah, Novi bukanlah siapa-siapa. Keluar dari zona trauma yang pernah dialami Eyza adalah hal yang paling Novi syukuri.

Rasa syukur selalu Novi ucapkan karena telah berada pada lingkungan yang sekarang ini, yang membuat perkembangan Eyza semakin meningkat drastis. Memang anak ADHD yang mengalami kesulitan dalam konsentrasi dan mengelola emosi membutuhkan kesabaran dalam mengajarinya. Seiring berjalannya waktu, sekarang Eyza jauh lebih baik dalam mengelola emosi. Tantrum-tantrum kecil memang masih ada, tetapi masih bisa ditoleransi. Dalam konsentrasi belajar juga kini jauh lebih baik. Perasaan Novi sangat senang sekali dan merasa terharu dengan pencapaian yang telah Eyza perlihatkan. Hipersensorinya memang masih cukup tinggi. Setidaknya, sekarang Eyza sudah mulai mau disentuh ketika diperiksa sambil diajak berbicara agar lebih tenang. Terima kasih kepada Eyza karena sudah berusaha.

Dengan banyaknya rangkaian stimulasi yang sudah diberikan, kini Eyza sudah mulai bisa naik turun tangga walau masih anak tangga sederhana yang tidak terlalu tinggi tanpa bantuan maupun pegangan. Ketika ia ingin berkemih pun, ia sudah bisa melepas dan memakai celana kolornya sendiri tanpa bantuan. Traumanya kini sedikit demi sedikit mulai berkurang. Perasaan dalam mengelola emosinya lebih sering bisa dikendalikan. Ternyata, berada di lingkungan yang tepat, sangat memengaruhi tumbuh kembangnya.

Sekarang Eyza juga sudah mulai bisa mengutarakan apa yang ia rasakan. Eyza kini bisa bercerita kepada Novi tentang kegiatan apa saja yang dilakukan dalam sehari tersebut dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pelafalan huruf sudah semakin hari semakin jelas, dan ketika orang lain mengajaknya berbicara pun sudah mulai mau menjawab dengan sederhana.

Proses belajar yang tidak sebentar, bahkan mungkin seumur hidup bagi anak berkebutuhan khusus, harus disyukuri. Dari yang dulu belum bisa melakukan kegiatan sederhana seperti kemandirian dalam berkemih, kini Eyza sudah dapat berkemih sendiri dan mulai terbiasa sendirian ketika berada di toilet rumah. Makan juga sudah tidak lagi disuapi. Eyza sekarang bisa makan dengan sendok sendiri, bahkan kadang ia berusaha mencuci piringnya sendiri setelah selesai makan.

Memiliki anak berkebutuhan khusus ini hal yang sangat luar biasa. Dari sini, Novi bisa belajar sabar tanpa batas. Keikhlasan merawat dan menyayangi, tanpa mengharapkan kembali. Menjadi tantangan tersendiri sebagai seorang ibu, untuk bisa melatih dalam kemandirian membutuhkan hati yang lapang dan ekstra energi. Banyaknya istilah-istilah dalam dunia medis menambah wawasan baru bagi Novi. Bertemu dengan sesama orang tua hebat juga menjadi support system bagi Novi, seorang ibu baru yang memiliki anak berkebutuhan khusus, bisa saling sharing ilmu dan pengalaman membersamai anak spesial yang dimiliki para orang tua hebat. 

Ternyata, di tempat yang tepat, Eyza bisa mekar dan berkembang lebih baik. Begitu juga Novi, ikut mekar bersama Eyza.

Terima kasih Eyza, sudah belajar sejauh ini.

Eyza adalah guru yang sesungguhnya bagi Novi.

N
Tentang Penulis

Novi Rahmawati

Lahir: Sleman, 1992

Novi Rahmawati, S. E. lahir di Sleman pada tahun 1992. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menjadi bagian yang sangat berarti untuk Novi, tempat ia belajar dari pendidikan dasar hingga bekerja di sini juga. Kini ia memutuskan untuk memilih membersamai anak berkebutuhan khususnya.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.