Kategori
Puisi
o, Dewa Asmara! kau buat Janaka linglung kepala melompat pagar pembatas, dicurinya permata raja: /mampus kau, si Maling Rupa!/
pejam mata dalam dengung perunggu dan janturan. imaji telah bekerja: dengarlah! ada taman raja yang berhiaskan bunga menur dan bunga kanigara.
dan Ibu Kunthi tetap memanggilku Suryatmaja—mengapa? apa karena hangat rahimmu pernah menyatu dengan mani Dewa Surya?
engkau yang kerap menimang dan berkisah tentang sebuah kampung yang tak pernah kusinggahi-- dan hanya meninggalkan bekas peta di dalam kepala.
aku terus berjalan, bersamamu. melalui juli demi juli. menyimpan cahaya teduh yang kerap berjatuhan dari matamu.
kerumunan langkah manusia. berebut ke simpang jalan, seperti mematuki pembuluh tubuhmu. di antara udara putus asa, kecemasan meronta.
di antara limbung tubuh lelah, remah amarah yang keruh. kita ingat, untuk tetap bertahan pada riuh kota, memasuki setiap simpang jalan.
Ada ledak-ledak lagu lawas bersahutan dengan petir dan guntur, sesekali memanggil penyiar yang kabur bersama hujan.