Kolaborasi Setara dalam Kerja Antarkolaborator Difabel dan Nondifabel
September 30, 2026 · Jay Afrisando
Saya seorang seniman, peneliti, edukator, dan kurator dengan kondisi neurodivergen. Terry Perdanawati, pasangan saya dengan kondisi neurodivergen, juga banyak terlibat dalam proses saya berkarya. Kami termasuk dalam kriteria low support need atau yang dulu sering disebut dengan istilah high-functioning. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari kami tidak terlalu banyak mengalami hambatan, kondisi ketubuhan yang berbeda dan cara kami berfungsi sehari-hari dan/atau cara berpikir kami yang cukup berbeda dari orang kebanyakan sering kali membuat kami merasa terasing dan bahkan “diasingkan” karena dianggap aneh atau tidak umum.
Hal tersebut menjadi tantangan bagi kami, terutama karena sejak awal berkesenian saya sering terlibat dalam proses kolaborasi. Sejak tahun 2011, saya berkarya dengan menggunakan beragam metode kolaborasi dan partisipasi, baik dengan sesama seniman, kurator, maupun dengan penonton dan pihak-pihak dengan peran lainnya. Dalam kerja-kerja kolaborasi, tentu dibutuhkan negosiasi dan penyesuaian antarkolaborator, serta akses agar kolaborasi dapat berjalan lancar. Hal ini sering kali tidak terakomodasi dalam kolaborasi-kolaborasi pada umumnya, sehingga kerja-kerja kolaborasi menjadi kurang aksesibel.
Sebagai seniman dengan disabilitas tidak nampak (invisible disability) dan low support need, saya justru banyak belajar dari kolaborasi-kolaborasi saya dengan seniman-seniman difabel dan rekan-rekan lainnya yang tidak mendefinisikan diri mereka sebagai seniman maupun difabel dalam kegiatan kolaborasi yang inklusif. Dengan meyakini bahwa kolaborasi semestinya dapat menciptakan kerja yang setara, saya selalu memposisikan diri dalam peran dan hierarki yang fleksibel. Dalam kolaborasi yang demikian, kolaborator dapat saling mendukung, mendampingi, memahami, melengkapi, dan mengisi satu sama lain.
Crip Time: “Waktu difabel” dan “mendifabelkan” waktu
Satu hal yang penting diamati dalam kerja kolaborasi setara adalah bahwa waktu yang dialami oleh tiap orang, baik difabel maupun nondifabel, berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing individu. Dalam kajian disabilitas, hal ini disebut sebagai crip time. Kata crip, yang disadur dari istilah negatif crippled, diklaim balik oleh rekan-rekan difabel/disabilitas di Amerika Serikat sebagai istilah yang kuat. Dalam konteks crip time, kata crip digunakan sebagai penanda kuasa orang-orang difabel/disabilitas atas waktu.
Ellen Samuels, yang mengutip rekannya, Alison Kafer, dalam artikel “Six Ways of Looking at Crip Time”, menjelaskan bahwa crip time merupakan masa ketika orang difabel hidup dengan “membengkokkan” waktu, alih-alih “membengkokkan” tubuh mereka terhadap waktu. Tiap individu memiliki waktu yang tidak pernah linear dan seragam. Namun, hidup ini masih dirancang sedemikian rupa oleh segelintir kelompok untuk mendukung kapitalisme. Semua terasa mesti dilakukan dengan cepat, dalam tenggat waktu yang kaku, dan tanpa memperhatikan kebutuhan diri sendiri maupun orang lain.
Untuk mewujudkan kolaborasi setara, kita perlu memahami bahwa setiap individu memiliki “waktunya” masing-masing. Waktu difabel. Ada yang memerlukan waktu lebih lama untuk memulai hari, memproses pikiran dan perasaan, dan menyiapkan segala sesuatunya agar kerja kolaborasi menjadi lancar. Hal ini berlaku tidak hanya untuk difabel, tetapi juga untuk identitas yang umumnya tidak terkait dengan difabel/disabilitas, seperti ibu hamil, orang tua, anak-anak, orang dari suku dan kebangsaan yang berbeda, dan lainnya. Namun, crip time tidak berarti slow time, di mana kerja seorang individu selalu dimaknai sebagai “lambat”. Crip time berarti setiap individu memiliki potensinya masing-masing dalam memproses kehidupannya, sehingga tidak bisa “dibengkokkan” melalui cara-cara kerja kapitalis. Di sini, saya memaknai crip time sebagai “waktu difabel” karena kata difabel—yang disadur dari differently abled oleh aktivis disabilitas Indonesia pada dekade 1990an—sesuai untuk mewakili istilah crip time yang dialami oleh individu yang beragam.
“Waktu difabel” dan “mendifabelkan waktu” merupakan langkah yang semestinya tidak terpisahkan dari kerja kolaborasi setara. Cara menerapkannya beragam, tergantung pada konteks individu dan kelompok masing-masing. Contohnya, pahami komunikasi yang paling dikuasai oleh kolaborator, entah itu bahasa isyarat, tulisan, nonverbal, atau bahasa yang mudah dipahami. Komunikasi yang tidak terpusat pada moda tertentu saja juga akan mempermudah pertukaran ide antarkolaborator. Contoh lainnya, tentukan waktu-waktu proses berkesenian yang sesuai dengan tubuh masing-masing kolaborator. Mengadakan pertemuan atau perhelatan kesenian pada jam-jam yang tidak ideal, seperti menjelang tengah malam bagi perempuan, orang tua, dan anak-anak, atau pada pagi hari ketika beberapa orang neurodivergen belum memulai hari, adalah hal yang kurang bijaksana.
Akses dan negosiasi
“Waktu difabel” dan “mendifabelkan waktu” akan memungkinkan jika akses tersedia. Akses ini tidak melulu berupa fasilitas yang tampak, seperti juru bahasa isyarat (JBI), aplikasi komunikasi tertulis, braille, dan informasi yang mudah dipahami, tetapi juga kesadaran tiap individu—baik difabel maupun nondifabel—untuk berempati terhadap diri sendiri dan orang lain.
Empati bentuknya bisa bermacam-macam. Paling sederhana, kolaborator bisa membantu memudahkan dan tidak mempersulit kolaborator lain untuk memperoleh akses terkait. Bagi yang masih punya “PR” karena belum tahu tentang disabilitas atau cara berinteraksi dengan teman-teman difabel, empati bisa dibangun melalui pembelajaran. Bagi yang ber-privilege—dan tergantung pada konteks peran dalam skena kolaborasi dan kesenian—empati bisa berupa sikap dan perilaku yang memudahkan akses. Contohnya: mendesain kebutuhan dan perhelatan kesenian yang aksesibel, menggalang dana untuk memungkinkan tersedianya akses, hingga merancang peraturan institusional dan perundang-undangan yang mengikat warga negara untuk menyediakan akses dan menghormati akses warganya.
Sikap dan perilaku yang memudahkan akses adalah bentuk akses yang paling tidak nampak dan sering terabaikan, sekalipun di dalam masyarakat yang diatur oleh peraturan disabilitas. Kehadiran fasilitas yang aksesibel akan percuma jika masyarakat tidak berempati. Di sisi lain, tidak semua tempat dan skena kesenian memiliki atau dilengkapi dengan akses yang memadai. Di sinilah negosiasi penting untuk dilakukan agar akses tetap diusahakan, sekalipun bentuknya disesuaikan dengan kapasitas kolaborator dan penyelenggara kolaborasi. Sebagian akses memang hanya bisa diusahakan melalui jalur finansial, namun sebagian akses lain bisa diusahakan melalui kepedulian dan kerja kolektif. Semangat antikapitalisme dalam kolaborasi setara dapat berarti penolakan terhadap cara pandang dan cara kerja yang semata-mata berorientasi pada produktivitas kapital. Melalui perspektif ini, kolaborator dapat menciptakan akses yang kreatif dan terjangkau. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa pemerintah dan institusi bisa saja “mencuci tangan” dengan melepas tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aksesibel dan menggeser sebagian besar peran-peran struktural kepada warga. Tentu saja, menyediakan akses adalah bentuk kerja yang tidak bisa disepelekan. Namun, hal ini berarti bahwa kepedulian dan kerja komunal dapat melahirkan strategi akses yang tidak kalah efektif dan efisien.
Akses bukan lain merupakan bentuk cinta kepada diri sendiri dan sesama manusia. Sehingga, mengusahakan dan menghargai akses merupakan sikap dan perilaku manusia yang sewajarnya dilakukan.
Akses sebagai sumber artistik
Setelah crip time dan akses, satu elemen penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam kolaborasi setara adalah akses kreatif. Dalam kegiatan artistik, akses dapat menjadi medium kesenian. Akses dapat dihadirkan dalam beragam cara, sehingga kolaborator dapat menawarkan cara yang beragam bagi pendengar/pengunjung/penikmat untuk menyimak sebuah karya.
Di sinilah akses sebagai sumber artistik tidak hanya berhenti pada level fasilitas, tetapi juga dapat membawa kolaborasi ke level yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan. Dengan empati, kerja kolektif, dan negosiasi, kolaborator dapat menciptakan sesuatu yang dapat mengajak pendengar/pengunjung/penikmat untuk melihat kemungkinan artistik akses yang luas, tidak kalah dengan medium dan pendekatan kesenian yang sudah terlegitimasi melalui bidang-bidang seni konvensional.
Misalnya, bagaimana memunculkan bahasa isyarat sebagai medium utama dalam karya? Bagaimana bidang miring dapat menjadi bagian artistik dalam arsitektur bangunan? Bagaimana menjadikan deskripsi visual/suara lebih “personal” (dalam arti luas) dan lebih dari sekadar “berfungsi”? Bagaimana menggunakan elemen nonverbal dan komunikasi difabel dalam strategi berkarya? Bagaimana menjadikan “waktu difabel” sebagai cara artistik untuk melahirkan karya? Bagaimana kita dapat menempatkan akses ke dalam konteks yang lain, seperti politik, lingkungan, sejarah, atau teknologi? Bagaimana kolaborator dapat menjangkau pihak-pihak lain untuk menciptakan akses yang lebih komunal dan ramah lingkungan?
Akses sebagai sumber kreatif—didukung oleh empati, kerja kolektif, dan negosiasi—dapat memusatkan kolaborasi pada kerja yang setara antarkolaborator dan menggeser paradigma kolaborator difabel sebagai kolaborator yang inferior. Sering kali, kolaborator atau pemangku kepentingan nondifabel menganggap kaum difabel sebagai inferior dan kurang layak kontribusinya dibandingkan dengan yang nondifabel. Cara pandang ini berbau kapitalisme yang menganggap tubuh-tubuh ‘normal’ sebagai tubuh yang paling sempurna dalam melahirkan produktivitas, sehingga melahirkan apa yang dianggap layak dan tidak layak dalam kolaborasi.
Akses sebagai sumber kreatif juga dapat menggeser paradigma “kasihan”. Sering kali, kolaborator difabel dianggap “luar biasa” karena kemampuannya dalam kerja kolaborasi dipandang sebagai upaya yang ‘melebihi’ kapasitas kolaborator nondifabel. Padahal, jika akses sebagai sumber kreatif dikedepankan, kita tidak lagi melihat akses sebagai tempelan belaka dan kolaborator difabel sebagai kolaborator inferior, melainkan memandang karya yang penuh kreativitas yang diciptakan melalui kolaborasi setara.
Referensi:
Samuels, E., (2017) “Six Ways of Looking at Crip Time”, Disability Studies Quarterly 37(3). doi: https://doi.org/10.18061/dsq. v37i3.5824

Jay Afrisando
Jay Afrisando merupakan seniman, peneliti, edukator, dan kurator neurodivergen. Karyanya berfokus pada keragaman aural (aural diversity), disabilitas, dan dekolonisasi seni, yang diwujudkan melalui pendekatan multisensoris dan antidisipliner, seperti musik-teater, film, instalasi, serta pengalaman lintas genre. Ia memproduksi pameran arsip dan kontraarsip kolaboratif Menaut Waktu. Merekam Jejak. bersama Ba(WA)yang Production, Teater Braille, SAPDA, dan Sedikit Terlibat. Saat ini, ia menjadi Assistant Professor of Music di University of California, Santa Cruz. Baru-baru ini, Jay—bersama pasangannya, Terry Perdanawati—menjadi anggota keluarga baru di Ba(WA)yang Production, komunitas yang menebar semangat inklusivitas.
Baca Biografi Selengkapnya →