Lewati ke konten

Perlahan Ikatan Emosiku Terbangun Penuh

September 29, 2026 · Mila Anggreni

Pertama kali dalam perjalananku setelah lulus kuliah mendapatkan pekerjaan yang luar bisa tanpa kuduga. Saat itu, masa pandemi Covid-19 yang telah memasuki tahun ketiga. Pertengahan tahun 2022, aku mendapatkan pesan lowongan pekerjaan dari sahabatku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghubungi pihak sekolah untuk menyampaikan ketertarikan bergabung di sekolah tersebut. Selain alasan yang telah aku sebutkan sebelumnya, aku memang memiliki ketertarikan untuk mengenal lebih jauh anak-anak istimewa ini meskipun aku tidak memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan yang relevan di bidangnya. 

Beberapa hari kemudian, setelah aku mengirimkan surat lamaran, pihak sekolah menghubungi dan memintaku datang ke sekolah untuk melakukan sesi wawancara. Tak berselang lama sejak hari itu, aku mendapatkan kabar baik, bahwa aku bisa bergabung menjadi Shadow Teacher atau Guru Pendamping Khusus. Kala itu, yang ada di pikiranku asal mendapat pekerjaan dulu tanpa berpikir suka atau tidaknya. Dengan latar belakang pendidikanku yang tidak berkaitan sama sekali, tentu aku merasa asing dengan pekerjaan ini. 

Aku benar-benar tidak tahu apa itu Shadow Teacher. Bahkan istilah Shadow Teacher baru pertama kali aku dengar dan tidak ada bayangan dalam hati dan pikiranku. 

Baru kemudian aku mengetahui bahwa Shadow Teacher atau biasa dikenal dengan Guru Pendamping Khusus (GPK) adalah seseorang yang mendampingi anak istimewa selama pembelajaran atau aktivitas di sekolah. Shadow Teacher ibaratkan jembatan, keberadaanya sebagai perantara antara guru dan anak didik, menyampaikan kembali setiap informasi atau instruksi dengan cara dan bahasa paling sederhana yang mampu dipahami anak. Di tempatku bekerja, setiap Shadow Teacher mendampingi satu anak spesial. Namun, sistem di sekolah lain bisa berbeda-beda, tergantung kebijakan yang diterapkan oleh pihak sekolah.  

Perkenalan dan Gejolakku

Memasuki tahap perkenalanku dengan anak yang akan aku dampingi, terlebih dahulu aku dipertemukan kepada orang tuanya. Sekilas Ibunya menceritakan kondisi dan kebutuhan sang anak. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Anna sempat sekolah selama satu tahun, kelas satu sekolah dasar. Beberapa tahun kemudian, ia kembali bersekolah dan sudah duduk di level 5 setara kelas 5. Pada saat itu, usia Anna sudah menginjak 12 tahun. Kepribadiannya yang sangat ceria dan mudah berbaur dengan orang yang baru ia temui, rasanya aku tidak akan mengalami kendala yang serius. Pada fase ini, aku sama sekali belum mengalami kesulitan untuk berinteraksi, tetapi setelah mengenal lebih dekat dan mendampinginya langsung, barulah aku merasakan kelelahan secara emosional. 

Jujur, pada masa-masa awal pendampingan aku merasakan emosi yang tidak stabil sehingga berpengaruh pada kesehatanku. Dua bulan pertama, aku sering nyeri kepala, mungkin karena belum mampu mengimbangi emosi Anna dan cara mengatasinya. Bahkan, tanpa disadari aku sering melampiaskan kemarahan yang aku tekan di sekolah kepada orang-orang terdekatku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku semakin memahami kebutuhan Anna dan bagaimana harus meresponsnya. Bulan demi bulan berlalu, aku mulai menemukan kenyamanan untuk terus menyaksikan dia berkembang secara perlahan. Dari Anna yang masih membaca dengan mengeja sampai dia semakin lancar membaca kata demi kata. Perkembangan menulisnya pun sudah jauh meningkat, dari menulis per huruf sampai mampu menulis per kata dalam sekali lihat. Kini ia sudah berada di level SMP kelas 3, kemampuannya sudah jauh meningkat dan emosinya mulai stabil, meskipun harus tetap diingatkan akan beberapa hal. Salah satu kegiatan yang tidak boleh bosan dilakukan adalah “mengingatkan dan mengulang”. 

Anna dengan kesulitan fokus dalam belajar serta ingatan singkat membuatnya harus selalu diarahkan dan diingatkan. Hal ini membuatnya kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas maupun kegiatan di luar kelas. Meskipun demikian, Anna memiliki jalan lain untuk menunjukkan kemampuannya. Ia sangat berbakat dalam  menari dan kepercayaan dirinya sudah tidak diragukan lagi. Anna begitu menyukai panggung. Setiap kali ada informasi untuk pentas menari, dia tidak akan berhenti bertanya kapan waktunya pentas. Orang tua Anna juga sangat mendukung bakatnya dengan melibatkan Anna di kelas menari. Sejak awal, orang tuanya memang tidak menuntut Anna mampu secara akademis, melainkan akan mendukung kemampuannya di luar itu. Mereka juga ingin Anna mampu bertanggung jawab atas dirinya. Sebagai contoh, Anna harus bisa mengenali barang-barang yang dibawa dan melakukan hal-hal kecil sendiri tanpa dibantu dan diingatkan. Bersama Anna dengan pembawaannya yang selalu ceria, menyukai pujian, serta pengakuan dari orang-orang sekitar membuatku semakin menyadari bahwa pujian kecil yang kadang kita anggap tidak berarti ternyata sangat berarti untuk orang lain.

Apakah Benar Hanya Kesabaran?

Kesabaran menjadi kunci utama dalam perjalanan ini, meskipun pada kenyataannya aku juga sering tidak bisa menekan rasa marah, kesal, dan kadang putus asa. Perasaan marah dan kesal muncul ketika Anna sudah mulai tidak bisa diarahkan pada saat menerima pembelajaran atau fokusnya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Marah di sini tidak berarti membentak, melainkan nada suaraku menjadi lebih tegas. Kalau seperti itu, Anna mulai menunjukkan ekspresi datar dan setiap nada tinggi yang dia dengar adalah bentuk dari kemarahan. Aku merasa putus asa apabila sudah tidak menemukan cara untuk menyederhanakan sesuatu yang mampu dipahami oleh Anna. Terkadang perasaan-perasaan seperti itu tidak bisa aku tunjukkan lama-lama. Secepat kilat aku harus mengubah ekspresiku  agar suasana hatinya kembali ceria. 

Tahun demi tahun rasanya begitu cepat berlalu dan kini sudah memasuki tahun kelima aku mendampingi Anna. Menyaksikan dia berproses dan berkembang dari tahun ke tahun, tentu ada perasaan haru sekaligus bangga luar biasa bisa mendampinginya dalam proses ini. Jika kembali ke masa awal pendampingan, ada ingatan bahwa aku pernah ada keinginan untuk mengundurkan diri. Namun, karena ikatan kami mulai terbangun dan aku merasa tidak tega untuk meninggalkannya pada masa-masa dia mulai memercayai. Ada pertanyaan yang sering ia lontarkan kepadaku, “Bu Mila mau tinggalin aku, ya?”

“Bu Mila sayang aku gak?” Kata-kata yang terdengar biasa, namun penuh ketulusan dan harapan. Setiap kali pertanyaan itu mendarat di telingaku, perasaan mulai bercampur-aduk. Ingatan pada tahun-tahun pertama bersamanya mulai muncul. Bagaimana akhirnya aku mampu melewati tantangan ini dari hari ke hari dan tanpa aku sadari sudah membersamainya dalam waktu yang lama. Kata sabar tidak cukup untuk menggambarkan setiap waktu yang kami lalui. Kadang kala, ada emosi yang tidak bisa kami pendam dalam waktu yang lama. Suatu kali semasa ujian akhir semester, Anna pernah menangis dan berkata, “Bu Mila jangan marahin aku.” Menyaksikan emosi dan rasa takutnya yang meluap, aku terdiam dan merenung. “Apakah caraku selama ini terlalu tegas dan belum cukup memahami kebutuhannya?” Saat itu, aku hanya membiarkan dia menangis. Tidak lama, tangisnya pun mulai sunyi. Aku perlahan mengelus pundaknya sembari mengucapkan permintaan maaf.

“Bu Mila minta maaf, ya, sudah marahi Anna. Anna tahu kalau Bu Mila marah karena apa?” Dia pun mengangguk dan berkata sambil mengusap-usap matanya yang basah, “Karena aku tidak fokus, tidak mau mendengarkan Bu Mila.” Aku tidak pernah benar-benar memarahinya, tetapi dalam situasi seperti itu Anna akan selalu merasa kalau ada orang yang nada bicaranya meninggi tandanya marah. 

Seiring berjalannya waktu dan sekian lama aku mendampinginya, aku semakin memahami cara dan bagaimana aku harus bereaksi atas sikapnya. Cukup dengan mendiamkan dia sejenak, lalu memulai kembali instruksi dengan diimbangi candaan. Menghadapinya mau tidak mau, suka tidak suka, harus perbanyak candaan, kesabaran, ketelatenan bagaimanapun kondisi emosi kita. Jika diperlukan, kita bisa menggunakan “Topeng Ketulusan”.

Menjelang Perpisahan

Lima tahun menjadi shadow teacher Anna, tanpa sadar telah membuatku jauh lebih mengenali dan mengendalikan diriku sendiri. Aku menjadi tahu kapan aku boleh santai, kapan aku harus tegas, kapan aku harus menurunkan atau menaikkan nada bicara. Ini membuatku berpikir bahwa pendidikan, baik bagi anak tipikal maupun anak spesial, pada hakikatnya adalah proses dua arah, timbal-balik antara pendidik dan yang dididik, dan kedua pihak sama-sama belajar. Aku tak tahu bagaimana pengalaman para shadow teacher di lembaga lain, tapi itulah yang kualami bersama Anna. Kebersamaan kami selama bertahun-tahun mengajarkanku banyak hal. Namun kini waktu untuk menyaksikannya tumbuh tinggal hitungan bulan. Aku begitu bangga dan bahagia bercampur haru karenanya. Terima kasih, Anna, telah memberiku pengalaman berharga ini. Anna akan selalu menjadi bagian dari cerita perjalanan indahku yang kelak dengan bangga aku ceritakan pada anak-cucuku. Percayalah, kamu akan tumbuh menjadi anak mandiri dan hebat.

 

M
Tentang Penulis

Mila Anggreni

Lahir: Banjarasem, Bali, 10 Mei 1998

I Gusti Komang Mila Anggreni Dewi, lahir di Desa Banjarasem, Bali pada 10 Mei 1998. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Sanata Dharma angkatan 2017 dan lulus pada tahun 2021. Saat ini, ia masih bekerja sebagai shadow teacher.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.