Berjuang Bersama
September 29, 2026 · Retnoningsih
Seiring berjalannya waktu yang sudah kami lewati, kami sudah mulai berdamai dengan semua keadaan yang terjadi pada anak kami. Dan kami percaya bahwa anak kami adalah titipan dari Allah untuk keluarga kami, agar kami menjadi orang tua yang lebih hebat dan lebih kuat lagi. Dan kami akan selalu berkomitmen mendampingi anak kami menjadi anak yang mandiri.
Kami mempunyai anak disabilitas tuna rungu (tuli). Semua bermula di tahun 2016, ketika anak kami berusia 2 tahun ada rasa kecurigaan yang muncul pada anak kami ketika tak kunjung bisa berbicara. Menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi anak kami, kemudian kami membawa anak kami ke dokter tumbuh kembang anak di RS Sardjito untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, anak kami juga harus menjalani beberapa tes pendengaran yang disebut BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) dan melakukan cek darah untuk mengetahui jenis virus apa yang menjadi penyebab rusaknya pendengaran anak kami, cek CMV dan Rubella.
Setelah hasil BERA keluar, hasilnya ambang pendengaran anak kami tidak terdeteksi, dan harus melakukan cek yang lebih akurat, yaitu ASSR (Auditory Steady State Response). Dan waktu itu, hanya RS Panti Rapih yang bisa melaksanakan cek tersebut. Kemudian kami dirujuk ke RS Panti Rapih untuk melakukan pemeriksaan ASSR (Auditory Steady State Response).
Sebagai orang tua, kami sebenarnya merasa tidak tega melihat kondisi anak kami yang harus menjalani banyaknya proses pemeriksaan. Sebagai contoh, harus mengambil sampel darah dengan proses yang sangat menyakitkan. Bahkan di usia yang sekecil itu, anak kami sudah harus merasakan meminum obat tidur untuk melakukan tes BERA dan ASSR. Pernah terjadi, anak kami harus minum 2 dosis obat tidur, karena dosis 1 tidak mempan. Setelah berhasil tertidur dengan pulas, kemudian barulah kepala anak kami harus ditempeli banyak alat selama proses pemeriksaan yang berlangsung hampir 1 jam. Setelah hasil ASSR keluar, anak kami didiagnosa profound hearing loss dengan ambang pendengaran 105 desibel untuk telinga kanan dan 110 desibel untuk telinga kiri. Setelah semua rangkaian cek tersebut selesai, tibalah kami pada sesi konsultasi dengan Dokter THT yang sudah menangani proses pemeriksaan anak kami dari awal. Kemudian dokter tersebut menyarankan untuk memakai ABD dan menjalani terapi wicara.
Dan di titik inilah kami merasa benar-benar hancur dan terpuruk. Bahkan sampai kami mempertanyakan mengapa Allah begitu tidak adil kepada kami. Mengapa kami yang harus diberikan ujian yang begitu berat. Seberdosakah itu kami di mata Allah. Di saat itu, kami masih sering menangis dan menyalahkan diri kami. Kami masih terus dan terus bertanya-tanya mengapa Allah memberikan ujian yang begitu berat untuk keluarga kecil kami. Kami membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk kami bisa bangkit dari keterpurukan, dan bisa menerima dengan lapang dada semua keadaan yang sudah terjadi.
Dan setelah semua yang terjadi barulah kami memutuskan untuk mencari informasi tentang harga ABD yang ternyata harganya sangat mahal, yang satu buahnya bisa mencapai belasan juta rupiah. Di situ, kami harus mengambil keputusan besar untuk pertama kali dalam kehidupan rumah tangga kami. Akhirnya kami memberanikan diri untuk mengambil pinjaman di tempat kerja sebesar 30 juta dengan jangka waktu tiga tahun. Kemudian kami mencari informasi toko yang menjual ABD di Yogyakarta.
Kami mendatangi satu per satu toko untuk membeli ABD yang sesuai dengan kondisi anak kami. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya kami memilih membeli di toko Melawai yang berada di Jalan Solo-Yogyakarta. Menurut kami, di toko tersebut harganya lebih terjangkau dengan harga satu buahnya sebesar 11 juta. Dan akhirnya kami pun memutuskan membeli sepasang ABD.
Dengan seiring berjalannya waktu, ternyata belum ada dua tahun ABD anak kami yang satu sudah mengalami kerusakan. Dan setelah berkonsultasi, akhirnya harus dikirim ke Jakarta untuk mengetahui jenis kerusakannya dan kami harus menunggu satu minggu. Setelah menunggu satu minggu, kemudian kami dihubungi bahwa ABD anak kami tidak bisa diperbaiki di Jakarta, dan harus dikirim ke Singapura dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan.
Di sinilah tantangan baru kami dimulai, ternyata hanya dengan menggunakan satu buah ABD saja kemampuan mendengar anak kami menurun drastis. Kami harus berjuang lebih keras dalam mendampingi proses belajar anak kami. Dan pada saat itu, kami juga merasa sangat frustasi. Bagaimana kami harus memikirkan biaya servis yang begitu mahal sedangkan kami masih ada angsuran yang masih berjalan untuk pembelian ABD tersebut.
Dan akhirnya kami memutuskan mengambil pinjaman baru lagi. Setelah menunggu satu bulan lamanya, alhamdulillah akhirnya anak kami bisa menggunakan ABD sepasang lagi. Dan barulah dari kejadian tersebut kami menyadari bahwa ABD itu sama saja dengan alat elektronik yang lainnya, yang bisa mudah rusak sebab berbagai situasi dan kondisi. Jadi, kami harus benar-benar menjaga ABD tersebut dengan sebaik mungkin.
Kemudian kami juga mencari informasi sekolah untuk anak kami dari sesama orang tua yang memiliki anak tuli. Alhamdulillah, ada teman yang sudah mendaftarkan anaknya ke sekolah yang menerima anak tuli. Kemudian kami mendatangi sekolah tersebut untuk mendaftarkan anak kami. Sekolah tersebut bernama Little Tree yang beralamat di Mantrigawen Kidul, Yogyakarta. Setelah di-assesment dan mengikuti trial class selama satu minggu akhirnya anak kami diterima di sekolah tersebut di usia 2,5 tahun. Dan anak kami resmi mulai bersekolah.
Di sekolah, anak kami diajari tentang kemandirian, bersosialisasi, kasih sayang, dan juga berbagi. Sebagai contoh, toilet training, memakai sepatu dan baju sendiri, makan dan minum sendiri, dan masih banyak lain sebagainya. Dengan bersekolah, anak kami juga mulai terbiasa rutin menggunakan ABD-nya dengan bantuan para Miss. Di sana, anak kami mulai paham bahwa menggunakan ABD itu sangat penting untuk pendengarannya.
Kemudian kami juga mencari informasi tentang tempat terapi wicara yang umum berbayar selain di rumah sakit yang sudah kami ikuti. Dari teman sesama orang tua tuli, kami akhirnya mendapatkan alamat tempat terapi wicara tersebut. Bermodalkan Google Maps yang kami dapatkan, kemudian kami mencari alamat tersebut, sampailah kami di Rumah Kata yang beralamat di Kalitirto, Berbah, Sleman. Setelah di-assesment, anak kami mendapatkan jadwal terapi sebanyak 2-3 kali dalam seminggu.
Di Rumah Kata tersebut, kami mendapatkan teman yang sudah seperti saudara sendiri. Kami saling berkeluh kesah tentang perjalanan yang selama ini kami lalui dan hadapi dalam proses mendampingi anak yang dinyatakan tuli, yang secara tiba-tiba dan tidak pernah disangka-sangka. Kami juga saling menguatkan ketika tengah dilanda rasa putus asa yang tiba-tiba menghampiri.
Alhamdulillah, dengan berjalannya waktu, setelah anak kami rutin terapi di Rumah Kata, anak kami menunjukkan proses pembelajaran yang sangat bagus. Anak kami sudah mulai bisa mengucapkan dan menghafal huruf a-z, dibantu dengan menggunakan gestur. Dengan metode pembelajaran menggunakan kertas gambar, gunting dan spidol, anak kami juga dilibatkan secara langsung dalam pembuatan materi pembelajaran yang akan diberikan.
Anak kami diajari menggunting dan memberikan tanda centang di kolom yang dibuat setelah anak berhasil menyebutkan materi dengan benar. Dengan metode tersebut, anak kami bisa lebih mudah menerima pembelajarannya, merasa senang dalam mengikuti proses terapi. Dengan metode tersebut, anak kami sudah bisa mengenal huruf, angka, warna, nama hewan, nama benda, nama anggota tubuh, nama alat transportasi, dan masih banyak lagi materi lainnya. Dan PR kami sebagai orang tua adalah mendampingi anak kami untuk mengulang kembali semua materi yang sudah diberikan di rumah.
Kemudian kami juga mencari informasi tentang komunitas anak tuli dari media sosial. Dan akhirnya, kami menemukan komunitas yang disebut DTLS (Dunia Tak Lagi Sunyi). Di komunitas tersebut, kami mendapatkan banyak informasi dan juga ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami sebagai orang tua yang mempunyai anak tuli. Komunitas ini sering sekali menyelenggarakan acara dan kegiatan yang sangat positif. Sebagai contohnya adalah mengadakan acara seminar dengan menghadirkan narasumber dokter THT atau psikolog dan dibarengi dengan acara bersih-bersih telinga gratis, atau melakukan kunjungan ke museum-museum yang ada di Yogyakarta, dan masih banyak lagi kegiatan yang sudah dilakukan.
Dan dengan berjalannya waktu, dengan tidak disangka-sangka, di tahun 2020, terjadilah kasus virus Covid-19 yang membuat semua orang harus dikarantina atau mengisolasi diri, tidak boleh beraktivitas di luar. Di rumah dan sekolah pun harus memberlakukan pembelajaran secara daring.
Dan setiap seminggu sekali, kami harus mengambil dan mengumpulkan materi pembelajaran ke sekolah. Semua aktivitas terapi di rumah sakit pun harus dihentikan secara total, begitu juga dengan terapi yang anak kami lakukan di Rumah Kata juga harus berhenti.
Dan dari situlah kami kembali menghadapi tantangan yang begitu besar. Dengan semua hal yang terjadi tersebut kemampuan anak kami benar-benar menurun secara drastis karena anak kami lebih sering melihat TV dan bermain HP di rumah. Banyak sekali materi pembelajaran anak kami yang tiba-tiba lupa dan kami harus mengulang semua materi dari awal untuk membantu mengingat kembali semua materi yang sudah dipelajari anak kami.
Dan setelah masa Covid berakhir, anak kami dinyatakan lulus dari TK Little Tree. Dan kami harus mencari sekolah di jenjang berikutnya. Banyak sekali pertimbangan yang harus kami ambil ketika mau memutuskan mencari SD untuk anak kami. Banyak juga yang memberi saran kepada kami agar menyekolahkan di SD negeri umum. Pada saat itu, mental kami sebagai orang tua masih sangat lemah. Selain itu juga masih banyak faktor yang menjadi pertimbangan kami sebagai orang tua. Karena kami merasa kemampuan komunikasi anak kami belum lancar. Dan kami juga mempunyai kekhawatiran bahwa anak kami akan mengalami perundungan jika disekolahkan di SD negeri umum.
Akhirnya, kami memutuskan menyekolahkan anak kami di SLBN 1 Bantul. Kemudian, kami datang ke sekolah tersebut untuk mencari informasi tentang bagaimana proses pendaftaran dan apa saja syarat yang harus disiapkan. Dan kami berbincang-bincang dengan guru yang bertugas di loket pendaftaran. Dan kami diberi tahu bahwa proses pendaftaran saat itu hanya dilakukan secara online. Jadi, kami pun harus menunggu pendaftaran tersebut dibuka. Setelah pendaftaran dibuka, kami pun segera bergegas mendaftar. Setelah menunggu seminggu, kami dihubungi pihak sekolah untuk melakukan assessment pada anak kami.
Saat itu, kami menunggu pengumuman dengan hati yang tidak tenang. karena kami diberitahu sebelumnya bahwa murid yang diutamakan diterima itu dari murid TK yang bersekolah di SLBN tersebut. Dan saat itu, jumlah siswa yang diterima harus dibatasi, karena keterbatasan ruang kelas dan pengajarnya. Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya anak kami dinyatakan diterima di SLBN 1 Bantul. Di usianya yang ke-7 tahun, dia memasuki jenjang pendidikan di SDLB kelas 1. Dan sekarang anak kami sudah berusia 12 tahun, dan berada di jenjang SDLB kelas 6.
Dan belum lama ini, tepatnya pada bulan Juni tahun 2026 kemarin, kami dipertemukan dengan komunitas yang bernama Ba(Wa)yang dari teman-teman orang tua wali murid di SLBN 1 Bantul yang sudah lebih dulu bergabung dengan komunitas tersebut untuk dapat belajar bahasa isyarat dari kakak-kakak tuli yang ada di komunitas tersebut. Dengan bergabung komunitas tersebut, banyak sekali hal positif dan pengalaman baru yang kami dapatkan. Walaupun anak kami baru bergabung di komunitas tersebut, anak kami selalu diikutsertakan dalam kegiatan apa pun. Sebagai contoh, belum lama ini anak kami diikutsertakan dalam pentas di acara PBD yang diselenggarakan di SLBN 2 Bantul. Kemudian pentas lagu bahasa isyarat yang dilaksanakan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Kemudian diajak melukis untuk pameran yang dilaksanakan di GIK UGM Yogyakarta. Menurut kami, dengan anak kami selalu aktif diikutsertakan dalam semua kegiatan yang diselenggarakan tersebut, akan berdampak sangat positif untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya serta dapat menambah rasa percaya diri pada diri anak kami.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang pernah ikut andil dan terlibat secara langsung dalam seluruh proses, dari awal membersamai sampai saat ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan Anda semua dan menggantinya dengan kebaikan dan keberkahan yang berlipat ganda.
Dan beruntungnya di era teknologi yang sudah sangat berkembang seperti sekarang ini. Kita bisa dengan mudah mendapatkan berbagai informasi yang kita butuhkan. Sebagai contoh untuk mencari informasi tentang berbagai komunitas yang sesuai dengan kondisi anak kita atau tempat-tempat terapi yang dibutuhkan untuk anak kita. Semua hal tersebut sudah sangat mudah dilakukan hanya dengan menggunakan HP. Semua informasi tersebut bisa kita dapatkan dengan sangat mudah. Bahkan di zaman seperti sekarang ini orang-orang di luar sana sudah mulai memiliki pikiran yang lebih terbuka tentang anak berkebutuhan khusus (disabilitas).
Kami berharap semoga pengalaman hidup yang sudah kami lalui dalam proses membersamai dan juga mendampingi anak kami yang berkebutuhan khusus (disabilitas) dapat menjadi inspirasi bagi orang tua di luar sana agar tidak mudah menyerah dengan apa pun kondisi yang sedang dihadapi. Dan teruslah berjuang dan tetap semangat untuk selalu mendampingi putra-putri teman-teman semuanya.
Peluk hangat dari kami di sini untuk semua orang tua hebat yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus (disabilitas) di luar sana.
Dan yang terakhir teruntuk putri kecil kami tersayang, Aqilla Ramadhani, terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan Ayah dan Ibu, terima kasih sudah mengajarkan kepada Ayah dan Ibu arti kesabaran, tanggung jawab, dan perjuangan yang sesungguhnya. Semoga Aqilla bisa bertumbuh jadi anak yang solehah serta jadi anak yang beruntung di dunia dan akhirat. Amin.

Retnoningsih
Retnoningsih adalah seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun yang mempunyai anak disabilitas tuna rungu (Tuli). Ia tinggal di Bantul, Yogyakarta, dan menjadi anggota aktif di komunitas DTLS, Sadar Belajar, dan Ba(Wa)Yang.
Baca Biografi Selengkapnya →