Aku, Kamu, dan Rajutan Tuhan
September 29, 2026 · Kurnelia S.R.
Seorang laki-laki Tuli berkata padaku dengan bahasa isyarat, “Aku suka kamu, pacar mau?’’ Penerimaanku, “Aku mau teman kamu.’’ Naaah…, dengan level pemahaman isyaratku yang masih cetek, kujawab dengan percaya diri, ‘“Ya, mau.” Setelah percakapan itu, dia selalu mengirimiku SMS dengan panggilan sayang yang masih kuanggap friendly. Sampai satu bulan kemudian, kami berkumpul dan ada teman laki-laki lain yang mendekatiku, merangkulku dari samping. Tiba-tiba “Pacar Sepihakku” marah. Dalam pemahamanku yang sudah level up ini, baru kusadari, ah…, miskom ini sungguh indah. Kami hanya tertawa setelah tahu POV dari masing-masing. Sampai saat ini kami masing-masing memiliki julukan ‘“Sepasang Mantan Sepihak’’.
Semua itu berawal dari sepupuku yang sudah tergabung lebih awal menjadi volunteer DAC (Deaf Art Community) yang bermetamorfosa menjadi Ba(Wa)yang. Dia mengajakku yang ketika itu masih SMP dan sedang mengalami gejolak keluarga broken home menonton sebuah pertunjukan gado-gado dari sudut pandang anak Muntilan yang hanya tahu kesenian tradisional saja. Ada pantomimnya, ada rapnya, ada hip-hopnya yang terajut dalam harmoni teatrikal.
Saat pertunjukan berlangsung, aku sangat menikmatinya, tapi begitu usai aku hanya plonga-plongo, serasa masuk ke dunia lain yang riuh namun sunyi. Gejolak muda untuk bisa ngobrol dan berteman dengan mereka sangat berkobar, tapi apa daya aku tanpa sepupuku yang sudah meninggalkanku sedari awal untuk menjadi bagian dari pertunjukan tersebut.
Di titik “apalah dayaku”, seorang perempuan yang tadi berperan di panggung datang menghampiriku dan mengajakku berbicara dengan bahasa isyarat yang kuperkirakan maksudnya adalah mengajakku berkenalan. Lalu, kurespons lagak sok tahu menggunakan bahasa tubuh yang terbata-bata, mengeja namaku dengan gestur yang kuciptakan bersama teman-temanku untuk mencontek.
Dia hanya tersenyum, memaklumi sepertinya, seharusnya sih. Karena setelah pertemuan itu, kami belum banyak mengobrol, Tuhan menjemputnya berpulang terlebih dahulu. Lalu, dia mengambil HP yang saat ini disebut HP gebug maling untuk berkomunikasi dengan ketikan. Setelah itu, dia mengajariku alfabet dalam bahasa Isyarat. Semenjak itu, aku mengeja semua kata yang kutemukan di mana-mana sampai jari-jari ini keriting. Perjumpaan dan belajar Isyaratku seingatku hanya sampai di situ karena terpisah dengan kapabilitasku berkendara Muntilan-Jogja.
Ternyata semesta bersamaku untuk menghentikan era kekritingan tangan. Aku dipertemukan dengan teman-teman Tuli dari SLB Magelang yang membuka lapak di sebelah lapak TBM-ku. Aku belajar banyak kosa isyarat, dan berhasil melafalkan satu kalimat sederhana tanpa mengeja lagi. Yeay…!
Memang menjadi manusia tidak boleh sombong, yang kupikir aku sudah mahir ternyata bahasa isyarat seperti bahasa pada umumnya memiliki struktur kalimat, konsep bahasa yang waktu itu njlimet bagiku. Misalnya, nih, dalam bahasa Indonesia “Aku makan pisang”, dalam bahasa Isyarat berubah menjadi “Aku pisang makan”. Tak hanya itu, karena metode pengajaran di SLB belum tepat, metodenya mempengaruhi pemahaman dan kemampuan bahasa teman-teman Tuli. Sehingga, ketika berkomunikasi dengan tulisan pun masih sangat rawan miskom.
Terbatasnya teman-teman Dengar yang bisa bahasa isyarat membuatku di awal sudah menjadi jembatan komunikasi, atau kalau sekarang ya namanya Juru Bahasa Isyarat untuk teman-teman Tuli, di beberapa kegiatan sederhana di Magelang. Sangat-sangat wiuuu-wiuuuu rasanya di awal-awal, seperti mati lampu, ya, Sayang… (Siapa yang melafalkan dengan nada? Wkwkwk). Otakku seperti dipaksa bekerja berkali-kali lipat untuk mengubah bahasa Isyarat yang per Tuli aja beda-beda ke bahasa verbal Indonesia yang baik dan benar agar dimengerti orang Dengar.
Namun, dengan jam terbang yang semakin terbang, ciellaah, aku mulai terbiasa dan semakin dipertemukan dengan teman-teman Tuli yang bervariasi. Mulai dari teman Tuli yang bersekolah dan berkomunitas sehingga bahasa isyaratnya mudah kumengerti hingga teman Tuli yang tidak pernah sama sekali duduk di bangku sekolah dan menggunakan gestur yang awalnya hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya aku punya motor dan SIM. Perjalanan Muntilan-Jogja-Muntilan menjadi perjalanan favoritku. Aku kembali bergabung di DAC, sampai akhirnya berubah menjadi Ba(WA)yang, membuatku semakin merasakan kehangat cinta sebuah keluarga. Seiring berjalannya waktu, keluarga ini tidak hanya berisi teman Tuli dan Dengar, namun juga mulai menambah keluarga baru yaitu teman Netra, Daksa, Autis, Down Syndrome dan segala macam Difabel yang bisa kami rengkuh.
Dengan segala dinamikanya yang kadang membuatku menggertakan gigi dan menahan napas, karena bagaimanapun Difabel juga manusia dengan segala macam wataknya, sering kali langkahku terhenti. Lelah dan ingin menjalani hidup ‘“normal”, meniadakan mereka di hidupku. Namun, rasa itu selalu pudar karena toh “normal” hanyalah kata. Tergantung kacamata yang kita gunakan untuk melihatnya. Kisah keluargaku dengan dinamika roller coaster, toh, juga pada akhirnya “normal” versiku. Aku tidak memilih untuk berkubang dalam kesedihanku, tapi aku memilih untuk menjalani hari dan berusaha untuk menjadi bermanfaat.
Ada kalimat dari seseorang tetua yang kusayang. Kalimat itu kujadikan mantra dan sudah kubuktikan kemanjurannya. “Jika kamu tidak berkubang lama pada kesedihanmu dan hadir untuk orang lain, maka sebenarnya kamu sedang menyembuhkan dirimu sendiri.” Ini adalah “jalan sunyi panjang yang kupilih”. Jalan untuk membangun “jalan tol’’ (inklusivitas) untuk teman-teman Difabel di masa mendatang. Menabur benih inklusif sedari pikiran. Memberdayakan, berteman, dan bukan mengasihi. Membumikan Difabel kepada seluruh elemen masyarakat. Membuat akses dengan perspektif dan kemampuan tubuh yang dimiliki. Tanpa harus menunggu pemerintah. Ya, jalan itu yang kupilih. Radar itu tertangkap dengan sayang oleh orang tua anak-anak difabel di Ba(Wa)yang, yang kupanggil mamak dan bapak.
Mamak-mamak keren itu, terutama menurutku “gila”, mendobrak semua stigma di masyarakat dengan satu pegangan “aku melakukan apa yang layaknya seorang Ibu atau orang tua lakukan”. Hal itu juga yang membuatku tetap merasa hangat berada di Ba(WA)yang. Dengan segala macam “negara api yang sudah menyerang” kehidupan mereka, cinta dan kasihnya untuk orang lain tetap terasa, utuh. Mantra yang kupegang di atas, kutemukan juga praktiknya di mereka.
Kebersamaan kami yang masih terhitung dengan jari satu tangan ini, semakin menguatkan pembuatan “jalan tol bebas hambatan” untuk teman-teman Difabel. Terwujudnya the real of inclusive entah kapan, tapi kami akan terus menebar virus cinta ini. Setiap makhluk berhak dicintai apa adanya.
Bersama mereka, segala macam air bah yang datang dari ikatan darah tak lagi menenggelamkanku. Semakin membuatku menyadari kisah yang Tuhan rajutkan sangat indah. Kehilangan figur orang tua dan keluarga secara utuh, namun diganti dengan cinta dan kasihnya mereka. Jackpot banget, kan, Gaes! Real kalau “sajege urip nderek Gusti”.
Mamak-mamak, teman-teman, dan adik-adik Difabel…, terima kasih telah mengizinkanku mendekap hangatmu. Lukamu telah terasah menjadi mutiara yang sangaaaat teraaaang…. Cintamu menguatkanku untuk tetap berjalan bersamamu. Mari berpelukan erat bersama di atas rajutan kisah Tuhan sambil makan, makan, makan, tertawa, menggembel, wiu-wiu, gibah, menangis, dan menggila. Keyakinanku takkan berubah, semua pemberian Tuhan bukan milikku sendiri. Mataku untuk teman Netra, kaki dan tanganku untuk teman Daksa, telingaku untuk teman Tuli, hatiku untuk kalian semua. Ini caraku bersyukur.

Kurnelia S.R. atau Nelsi dengan panggilan sayang ‘gembel’ kelahiran 1998 ini, lulus S1 dari Sastra Indonesia USD Yogyakarta. Bekerja = bermain itulah prinsipnya. Keilmuan sastra hanya berkelebat, namun prinsip Humanis selalu dibawanya. Ini menjadi tulisan pertamanya yang dibukukan. Akan selalu menjadi anggota keluarga ba(WA)yang dan menebar virus inklusi.
Baca Biografi Selengkapnya →