Lewati ke konten

Permata Hati yang Kutemukan Kembali

September 27, 2026 · Putu Daisy Khristanti

“Andra hilang.”

Itu SMS dari suamiku. Duniaku seakan runtuh. Dan kupandangi SMS itu, berharap berita itu berubah. Setelah tersadar, aku segera pergi ke lokasi, yaitu di Titik Nol, untuk mencari Andra, karena waktu itu Andra sedang mengikuti kegiatan Hari Down Syndrome Dunia yang diselenggarakan oleh POTADS Yogyakarta. Berdasarkan informasi yang aku dapat, Andra berlari ke utara dan masuk ke Benteng Vredeburg. Aku segera menyusuri jalan yang dilalui Andra. Setelah sampai di benteng itu, aku bertanya ke Pak Satpam, “Pak, apakah Bapak melihat seorang anak Down Syndrome pakai kaos putih.” Pak Satpam bilang, “Saya lihat masuknya, tapi nggak lihat keluarnya, Bu.” Aku kemudian masuk ke benteng, tapi hatiku merasa Andra sudah tidak ada di sana. Aku kemudian melanjutkan langkah ke timur, ke arah jalan yang akan tembus ke Taman Pintar. Ketika kakiku masih melangkah, dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil pakai kaos putih diapit oleh dua relawan. Haaah…, lega luar biasa rasa hatiku. Andra ditemukan dalam keadaan baikbaik saja, dan… tetap ceria. Di saat itu, aku pun sadar bahwa aku sungguh-sungguh sangat mencintai dan menyayangi Andra, dan aku akan tetap mencintai dan menyayangi Andra bagaimanapun kondisinya.   

Alexandra Jessica Tatianna biasa dipanggil Andra, dan Andra juga menjadi nama panggungnya. Putri cantikku ini adalah penyandang Down Syndrome yang sudah berusia 19 tahun dan Andra sangat piawai menari.

Dulu, 19 tahun yang lalu, pada tanggal 24 April 2007, sekitar jam 6.00 pagi, ketika Andra baru saja lahir, dan segera kelihatan perbedaannya, aku sempat kebingungan, apa itu Down Syndrome, apa yang harus aku lakukan, bagaimana caraku mendampinginya, dan di mana Andra aku sekolahkan. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam hatiku. 

Aku sungguh-sungguh tidak tahu kepada siapa aku harus bertanya, karena literasi tentang Down Syndrome pada waktu itu, sekitar tahun 2007, sangatlah sedikit, bahkan di internet sekalipun. Tetapi tugas seorang ibu adalah mendampingi anaknya, bagaimanapun kondisi si anak. Dan itulah yang kulakukan, sehingga akhirnya yang aku lakukan adalah mengamati dan mempelajari perilaku Andra. 

Di tahap ini, aku sungguh-sungguh belajar mulai dari nol agar bisa memahami apa itu Down Syndrome. Pemahaman awal adalah adanya trisomi 21, kromosom ke-21 yang tidak hanya sepasang tetapi ada tiga. Karena situasi itu, ada beberapa keadaan yang menyertainya, antara lain lemahnya otot. Ada pula beberapa penyakit yang menyertai, dan yang paling sering adalah jantung bocor, pneumonia, bahkan leukimia dan masih ada beberapa lagi.

Tetapi itu semua tidak terlalu aku pikirkan. Karena yang penting, selama aku melihat Andra dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, aku jadi lebih tenang. Jadi, aku bisa memikirkan hal yang lebih penting, yaitu bagaimana mendampingi Andra melangkah menuju masa depan yang indah.

Mulailah aku mengamati dan mempelajari perilaku Andra. Dalam pengamatan awalku, ada beberapa keterlambatan dalam tumbuh kembang Andra. Yang paling terasa adalah dalam hal berbicara. Kalau berjalan, Andra tidak begitu mengalami keterlambatan. Andra sangat mahir menirukan perilaku kakak-kakaknya, terutama dalam hal gerakan. Ternyata, di kemudian hari, aku tahu bahwa Down Syndrome adalah peniru lingkungan.  

Dari sini, aku kemudian berpikir, berarti Andra harus bergaul dengan teman-teman yang tidak difabel, supaya Andra bisa menirukan perilaku mereka semaksimal Andra bisa. Bahkan, bisa menambah perbendaharaan kata-katanya. Aku kemudian berpikir di mana aku mencari sekolah umum yang menerima anak berkebutuhan khusus.

Saat kebingungan, aku mendapat informasi dari teman tentang adanya sekolah inklusi, dan sekaligus direkomendasikan ke sebuah TK inklusi, yaitu Komimo. 

Aku segera ke sekolah itu bersama Andra. Setelah melalui wawancara dan pengamatan dari psikolog di sekolah tersebut, akhirnya Andra diterima, puji Tuhan. Di usianya yang 5 tahun, Andra disarankan untuk masuk ke playgroup, dan aku tidak keberatan karena yang terpenting adalah supaya secara mental Andra siap untuk sekolah.

Di Komimo, selama proses belajar-mengajar, Andra didampingi oleh seorang shadow teacher sehingga proses belajar Andra relatif lancar, dalam artian terlihat adanya kemajuan baik dalam hal kepribadian maupun tingkah laku. Andra juga sudah semakin kooperatif. 

Setelah melalui playgroup, TK A, dan TK B, mulailah Andra mencari SD. Setelah mencari beberapa waktu, Andra diterima di sekolah inklusi PKBM Jogja Green School. Setelah Andra masuk SD dan sampai sekarang SMA, Andra sudah tidak didampingi shadow teacher lagi, sesuai rekomendasi dari terapisnya, agar kemandiriannya semakin berkembang. Waktu di TK A, aku mendapat informasi dari guru tarinya bahwa Andra mempunyai talenta atau kemampuan di seni tari. Dan jika Andra diajari suatu tarian, Andra akan cepat hafal, bahkan dari teman-teman non-difabelnya.

Informasi ini sangat berharga buatku, karena dari informasi inilah aku semakin mantap dan merasa mempunyai suatu tujuan dalam mendampingi Andra ke depannya. Setelah di SD, mulailah aku mencari guru tari atau sanggar tari atau kesempatan menari untuk Andra.

Ternyata gampang-gampang susah, ya…  Karena, walaupun ada seorang guru tari bisa mengajari menari, belum tentu ia mau mengajari anak difabel untuk menari. Tapi aku tidak putus harapan. Aku percaya jika Tuhan sudah berkehendak, pasti akan terjadi dan pasti akan indah pada waktunya. 

Akhirnya, di tahun 2019, Andra bergabung di Nalitari, sebuah komunitas tari inklusi yang percaya bahwa semua orang bisa menari. Di Nalitari, Andra belajar menari dengan metode improvisasi, sehingga Andra harus mengasah kreativitas dan imajinasi serta rasa dalam menari.

Kemudian, sekitar tahun 2021, Andra bergabung di Sanggar Tari Digjaya Art Dance, sebuah sanggar tari inklusi. Di sanggar ini, Andra belajar tari kreasi baru. Dan di tahun 2023, Andra bergabung di Sanggar Tari Natya Lakshita, sebuah sanggar tari yang diasuh oleh sang maestro tari Didik Nini Thowok. Di tahun 2024, Andra bergabung di Sanggar Tari 

Tuli. 

Bergabungnya Andra di beberapa sanggar tari sungguh membuat kemampuan menari Andra meningkat sangat pesat. 

Andra dan teman-temannya mulai mendapat undangan untuk tampil di panggung-panggung kesenian. Bahkan, di Natya Lakshita Andra juga mengambil kelas privat untuk semakin mengasah ketrampilan menarinya, sehingga kini aku berani mencari panggung untuk Andra pentas sendiri dan tidak pentas bersama teman-temannya. 

Kemampuan Andra untuk menari di atas panggung semakin meningkat, kepercayaan dirinya semakin bertambah, dan sungguh bahagia aku melihatnya. Semua kelelahan dan waktu yang kuberi untuk bisa mengantar Andra ke mana pun dia latihan menari rasanya tidak sia-sia. 

Sekarang, setiap bulan aku akan mencari panggung untuk Andra menari sendiri, untuk melatih Andra semakin mumpuni dalam menari sendiri di panggung kesenian. Dan ada misi yang kurasa penting, yaitu mengedukasi masyarakat umum bahwa penyandang Down Syndrome, jika punya bakat dan kemampuan juga bisa dilatih untuk berekspresi di bidang seni, khususnya seni tari.

Selain menari, Andra juga berkesempatan untuk belajar main angklung. Selain untuk mengasah rasa di bidang musik, angklung ini juga bisa melatih Andra untuk fokus lebih lama. Selain belajar angklung, Andra juga berkesempatan belajar menjadi barista yang di kemudian hari mungkin bisa membawa peluang masuk ke dunia kerja. 

Peluang apa pun yang terbuka untuk Andra dan disukai oleh Andra akan aku coba sebagai bekal Andra untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berkualitas. Untuk mencapai hal tersebut, peran orang tua sangatlah penting karena bagi anak berkebutuhan khusus orang tualah yang membukakan jalan bagi mereka agar bisa mengembangkan diri dan bakat yang mereka miliki. 

Fokusku sekarang sebagai ibunya adalah pada pemenuhan kebutuhan Andra untuk berkembang, agar keinginanku untuk mewujudkan Andra menjadi pribadi yang mandiri dan berkualitas sungguh-sungguh tercapai. Andra anakku memang anak istimewa tetapi bukan berarti harus diistimewakan. Andra juga berbeda tapi bukan untuk dibeda-bedakan. Penting untuk Andra belajar tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Sehingga kelak, jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, Andra tidak akan menyusahkan kedua kakaknya yang akan menjadi penggantiku dalam mendampinginya.

Sudah banyak panggung yang Andra jalani, sudah banyak juga tarian yang sudah Andra tarikan, dan langkahnya tidak akan pernah berhenti.

Saat ini, Andra bersekolah di sebuah sekolah nonformal yang inklusi, yaitu PKBM Sahabat Nusantara, kelas XII dan sebentar lagi dia lulus SMA. Aku belum tahu mau ke mana setelah SMA, walaupun aku sudah punya bayangan dan rencana yang masih harus aku perjuangkan. Tetapi aku selalu percaya bahwa jika aku dianugerahi anak istimewa, maka Tuhan juga akan menganugerahi aku kemampuan istimewa untuk bisa mendampinginya. Dan aku juga percaya Andra, anak istimewaku ini, adalah anak yang mendapatkan berkat yang sungguh berlimpah dari Sang Maha Pencipta. Aku akan menggandeng Andra untuk selalu melangkah maju ke depan. Semoga, apa yang aku upayakan dan aku perjuangkan dilimpahi berkat oleh Sang Maha Pencipta. Amin…

P
Tentang Penulis

Putu Daisy Khristanti

Lahir: Denpasar, 1966

Penulis lahir di Denpasar tahun 1966. Yogyakarta menjadi kota tempatnya hidup, sekolah, kemudian menikah, dan akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu yang bahagia dengan merawat sendiri ketiga anaknya.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.