Peristiwa
Catatan Harian Kegiatan: Hari Ke-1
September 5, 2026 · Admin Suku Sastra
Sebelum acara dimulai, seorang peserta bercerita kepada saya. Ibu tersebut belum pernah menceritakan pengalamannya sebagai orang tua dengan anak berkebutuhan khusus melalui tulisan. Lagipula, kalau harus menceritakannya, ia seperti membuka luka lama. Sekilas ia menceritakan bagaimana ia dulu sempat shock saat mengetahui keadaan anaknya.
Itulah yang diharapkan oleh Suku Sastra. Kehadiran ibu tersebut dalam program Resiliensi Tanpa Henti itu sendiri adalah bukti bahwa ia memang pernah “terluka”. Namun, ia berhasil “sembuh” dari luka itu dengan resiliensi atau kegigihannya. Tentu juga dengan cinta dan dukungan orang lain. Dan sang ibu sendiri datang ke Gedung DPD RI DIY dengan kaki kiri diperban dan sedikit pincang karena kedeklik–terkilir.
Ini kali (Jumat, 4/9/2026), acara lokakarya penulisan dimulai tepat waktu. Maharani Khan Jade dari Suku Sastra menjelaskan susunan dan maksud acara secara ringkas, lalu menyerahkan forum sepenuhnya kepada Pak Broto (Broto Wijayanto) dan Kak Icha (Ismu Chandra Kurniawati).
Kak Icha, psikolog klinis dari UGM, membuka acara dengan game. Raut wajah tegang para peserta menjadi lebih rileks setelah bisa tertawa karena “dikerjai” Kak Icha. Raut wajah mereka akan berubah-ubah seiring jalannya acara.

Hari ke-1 ini dirancang untuk membuka cerita tentang resiliensi para peserta dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Duet narasumber Pak Broto dan Kak Icha melakukannya dengan cara yang fun: peserta diminta membuat karya kerajinan. Karya itu berupa kolase potongan media cetak seperti majalah dan alat gambar berwarna, sesuai dengan apa yang dirasakan setiap peserta dan tanpa tema tertentu.
Bersama Kak Icha, Pak Broto, seniman yang telah lama concern dengan isu disabilitas, menafsirkan kolase karya para peserta, lalu “memancing” cerita dari peserta berdasarkan kolase tersebut. Dan raut wajah-wajah yang sebelumnya rileks kembali menjadi tegang, bahkan sesekali diiringi tangisan haru.

Seorang ibu bercerita bahwa ia memiliki tiga orang anak dan semuanya berkebutuhan khusus. Ia menceritakan, antara lain, bagaimana ia kesulitan mencari sekolah untuk anak-anaknya. Misalnya, di sebuah SLB, ternyata tidak tersedia guru yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan khusus anaknya.
Ibu lain bercerita bagaimana ia menghentikan semua hobi pribadinya. Ibu ini dulu gemar sekali traveling ke banyak tempat. Namun, setelah memiliki anak berkebutuhan khusus, ia memutuskan untuk memberikan waktunya sepenuhnya untuk anaknya. Tantangan pengasuhan anak berlipat ganda karena ibu dan suaminya tetap harus bekerja.
Namun demikian, ada juga seorang ibu yang telah berhasil menemukan pola treatment yang efektif untuk mengasuh anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya membayangkan, stigma dan kesulitan yang masih dihadapi serta cerita tentang keberhasilan dalam mengasuh anak inilah yang akan sangat apik dan bermanfaat ketika dituliskan.

Penulis catatan harian kegiatan ini begitu terharu sekaligus kagum dengan cerita para peserta sehingga terlupa tidak menyalakan alat perekam suara. Demikianlah catatan ini ditulis berdasarkan ingatan. Juga kesan yang kuat: para peserta adalah orang tua yang penuh cinta dan kegigihan.
Program “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan Bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas” diselenggarakan di gedung DPD RI DIY selama sekitar satu bulan. Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Mitra yang bekerja sama adalah Bawayang yang dikoordinasi oleh Broto Wijayanto, dan Studio Pintalsari.
Admin Suku Sastra
Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.