Peristiwa
Catatan Harian Kegiatan: Pembukaan dan Kontrak Belajar
September 4, 2026 · Admin Suku Sastra
Seharusnya acara dimulai pukul 10.00 WIB. Seorang peserta bertanya di grup WA, mengapa acara belum dimulai. Tak ada jawaban dari panitia. Fairuzul Mumtaz sendiri baru meraih mikrofon setengah jam kemudian. Ketua Komunitas Suku Sastra ini menjalankan tugas sebagai pemandu acara.
Selasa (2/9/2026) di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung DPD DIY itu memang belum “panas”. Belum semua peserta hadir. Panitia masih menunggu kehadiran para peserta lain agar informasi tersampaikan secara utuh. Kami sendiri selaku penyelenggara juga belum sepenuhnya panas. Bienial Sastra Indonesia Modern, yang diselenggarakan satu rangkaian dengan Festival Sastra Yogyakarta 2026, baru kelar kemarin lusanya!
Syukurlah, acara pembukaan berlangsung lancar dan khidmat. Dr. Hilmy Muhammad, M.A., anggota DPD DIY sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, memberikan sambutan yang, alih-alih terdengar sebagai seremonial belaka, lebih terasa sebagai penguatan landasan kegiatan dengan perspektif agama.
Pak Hilmy memulai dengan mengutip Surat al-Isra’ Ayat 70. Ia menegaskan bahwa esensi dari memuliakan manusia adalah menempatkan sesama manusia dalam keadaan setara, menjamin berlakunya hak asasi mereka, serta menghindarkan segala bentuk kesewenangan dan perlakuan aniaya di antara sesama.
Kepada para orang tua yang hadir, Pak Hilmy berpesan agar senantiasa berjiwa besar dalam menerima takdir, yang dimaknai sebagai pengetahuan mendalam atas ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah Ta’ala. Ia juga menekankan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana menyikapi takdir itu, terutama dalam menghadapi bullying dari teman-temannya.
Pak Hilmy memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya mendokumentasikan dan menuliskan pengalaman nyata yang dialami oleh keluarga. Langkah menulis ini dinilai krusial untuk menghilangkan stigma negatif di masyarakat terkait literasi disabilitas yang saat ini masih sangat kurang. Melalui catatan dan kisah pengalaman tersebut, masyarakat luas diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas secara manusiawi.
Melalui penulisan pengalaman nyata oleh para orang tua, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami cara penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat, sehingga stigma yang melekat pada penyandang disabilitas dapat dikikis secara bertahap. Stigma negatif ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi mengenai disabilitas.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan sederhana. Pak Hilmy mengetukkan jari di atas meja.

Dalam sesi pembahasan tata tertib dan kontrak belajar, Fairuzul Mumtaz dan para peserta membuat beberapa kesepakatan. Salah satunya, memajukan waktu acara dari rencana semula pukul 10.00 WIB menjadi 09.30 dengan pertimbangan kesibukan orang tua–yang tentu saja sangat bisa dipahami.
Program “Resiliensi Tanpa Henti: Lokakarya Penulisan Bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas” diselenggarakan di gedung DPD RI DIY selama sekitar satu bulan. Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Mitra yang bekerja sama adalah Bawayang yang dikoordinasi oleh Broto Wijayanto, dan Studio Pintalsari.
Admin Suku Sastra
Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.