Lewati ke konten

Peristiwa

Hendak Lewat Mana Sastra Indonesia?

August 28, 2026 · Agusta Mario

Oleh kawan-kawanmu, kau sering dikatakan buta maps. Itu karena dalam beberapa kali kau malah tersesat di jalanan Jogja meski aplikasi dari Google itu memandu. Dan ketika kawan-kawanmu mengejek, kau malah mempersalahkan layar ponsel yang retak, bahkan maps turut kau kambinghitamkan.

Metode scanning adalah upaya yang kemudian kau temukan dan bagimu cukup berhasil. Metode itu kau terapkan bersama seorang kawan ketika hendak berangkat ke Embung Giwangan. Mula-mula, kau harus mencari teman untuk berboncengan agar bisa membagi tugas. Tugasnya sendiri terdiri dari dua hal, yang pertama sebagai pengendara dan yang kedua sebagai pembaca maps.

Selama perjalanan sang pembaca maps akan mengarahkan si pengendara: rute-rute mana saja yang harus dilewati. Ketika mengarahkan itu, pembaca maps akan mengajak pengendara untuk melihat-lihat sekilas objek apa yang bisa dijadikan penanda. Gedung, jumlah lampu merah, atau apa pun itu yang bisa diingat bersama.

Dalam kasusmu, metode itu berhasil, bahkan kau sampai bisa menemukan sebuah gang yang bisa memperpendek jarak tempuh menuju Embung Giwangan.

Gang itulah yang kau lewati Kamis pagi (27/08/2026) saat hendak menghadiri Seminar Nasional Sejarah Sastra Indonesia Modern: Antara Kanon dan Komunitas yang ada dua sesi itu—pagi dan siang. 

Kau mengikuti seminar itu sampai sesi kedua yang diisi oleh dua narasumber, yakni Raudal Tanjung Banua dan Muhidin M. Dahlan (Gusmuh) yang ditemani seorang moderator, yakni Rheisnayu Cyntara. Sesi kedua itu dimulai sekitar pukul satu.  

Kau masuk ke dalam ruangan tepat ketika acara dimulai. Kau mengedarkan pandangan dan melihat para peserta sudah duduk rapi sembari menyaksikan tiga sosok di depan yang kompak berbaju serba putih. 

“Sastra adalah persimpangan jalan,” ucap Raudal pelan, membuka pemaparan materinya.

Umpama Raudal tersebut berangkat dari amsal Milan Kundera yang berbunyi, “Karya seni adalah persimpangan jalan.” Dianalogikannya sastra sebagai persimpangan jalan, karena baginya Sastra Indonesia dihadapkan dengan dua simpang (populer dan serius), tapi selalu memilih satu jalan utama, yakni kanon. Dan jalan-jalan lain hanya merupakan rute alternatif untuk bersastra.

Raudal melanjutkan, sebagai aturan atau tongkat pengukur, tak jarang sastra kanon menakut-nakuti mereka yang ingin berada di luar jalan utama itu. Makanya, sastra seakan berkacamata kuda, yang dalam pandangannya sebentang jalan itu tak bisa digantikan, sebab ia berada di posisi tunggal.

Adalah Balai Pustaka yang menggagas posisi tunggal itu sewaktu mereka menerapkan politisasi bahasa Melayu Rendah dan penolakan akan karya-karya pengarang pergerakan serta pengarang-pengarang Tionghoa.

Sejak produk pertama Balai Pustaka, yakni Azab dan Sengsara Seorang Gadis (1919) karya Merari Siregar diterbitkan, sastra pecah menjadi dua simpang: Melayu Rendah (populer) dan Melayu Tinggi (intelektual dan serius). Kemunculan Belenggu karya Armijn Pane, yang notabene pernah ditolak Balai Pustaka tapi kemudian menjadi kanon, telah membuka sebuah simpang baru lagi, yaitu jalan Pujangga Baru.

Raudal sesekali menghela napas ketika menguraikan materinya. Suaranya terdengar kecil, halus, dan tersendat-sendat berat merunutkan kalimat. Kau mengamati wajahnya, dan berusaha memirip-miripkan dengan seseorang yang kau kenal.

Cyntara merespons sebisanya. Mungkin niatnya menggarisbawahi poin-poin dari materi Raudal, tapi mengapa menurutmu, ia lebih terkesan mengulang-ulang yang sudah dipaparkan sejam lebih itu. Seperti mau mencari jalan aman, ia memilih membacakan hal yang sama bukan dengan bahasanya sendiri, melainkan bahasa Raudal.

Raudal juga menambahkan, kalau jalan sastra kanon terus dilewati dengan kebutuhan kontestasi dan kompetisi, maka ia akan tergerus, akan aus. Laku mencari jalan lain dikonkretkannya pada kemunculan komunitas-komunitas sastra yang lebih bersifat paguyuban.

Kau mengamati Gusmuh yang tampak sudah tak sabar untuk menggenggam mikrofon. Moderator yang, betapa sulit dilafalkan namanya itu, seketika luput dari perhatianmu ketika Gusmuh melantangkan suara. Ia bercerita tentang Paksi Raras Alit yang berkeluh kepadanya akan susahnya nasib sastra Indonesia mendatang.

“Sejak kapan sastra tidak pernah susah, bahkan ia sudah susah sejak tahun ’45!” tegas Gusmuh seperti membentak. Kau yang setengah ngantuk dibuat melek lagi.

Lagi-lagi disinggungnya Balai Pustaka yang, mau tidak mau, berandil besar akan terombang-ambingnya sastra Indonesia. Perkara-perkara seperti Mas Marco Kartodikromo, Semaun, Rustam Effendi, yang karyanya kemudian ditilik Lekra setelah dibuang oleh Balai Pustaka. Persis kasus Belenggu yang menemukan rumah pada halaman majalah Pujangga Baru.

“Sastrawan itu ditemukan di koran,” ucap Gusmuh percaya diri.

Pernyataan itu menjadi pengantar untuk memasuki persoalan jurnalisme sastrawi, yang merupakan jalan lain bagi kesusastraan di daerah. Sehingga, Kedaulatan Rakjat edisi tahun ’45 menjadi rujukan bahasan Gusmuh.

“Dari puluhan edisi Kedaulatan Rakjat yang terbit tahun ’45 dan masih bisa disimpan Perpustakaan Nasional, cuma ada tiga publikasi karya sastra, toh. Dan, ketiga-tiganya adalah sastra berjenis puisi,” terang Gusmuh.

Salah satu dari tiga puisi itu berjudul Mati. Mati terbit pada minggu kedua bulan Desember 1945. Padahal sebelumnya di bulan November, tepatnya tanggal 10, terjadi pertempuran hebat yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, dan tak ada anomali sastra yang muncul di Kedaulatan Rakjat.

Kau mulai membayangkan bagaimana situasi puisi Mati saat itu, di tengah kecamuk perang dan peluru yang meradang, menerjang, tapi tetap terbit di halaman koran. Tak lupa kau mempertanyakan nasib redaktur Kedaulatan Rakjat yang menerbitkan puisi sambil berpindah-pindah mencari tempat aman, juga sang penyair. Siapa penyairnya itu?

“Moesafir atau Mas Moes atau Kang Moes bukan nama asli sang penyair. Coba lacak di perpustakaan H.B. Jassin, jelas tidak akan kalian temukan Kang Moes ini,” tutur Gusmuh dengan nada sinis, tapi dengan raut wajah prihatin.

Mirisnya lagi, di kolom tersebut tak ditemukan kata kunci puisi. Hanya “Mati” dan “Moesafir”. Barangkali dari bentuk tipografilah yang membikin Gusmuh yakin kalau itu puisi.

“Kalau tadi Bang Raudal ngomong tentang jalan, coba sebutkan jalan mana yang bernamakan sastrawan?” tanya Gusmuh.

“Pramoedya!” jawab salah seorang peserta.

“Pramoedya di tol, enak dia,” tukas Gusmuh.

“Ada yang namanya di gang, Gus,” sela seorang lagi.

“Siapa?” ujar Gusmuh, seakan takut mati penasaran.

“Gang Joko Pinurbo,” seru peserta itu.

“Ya, itulah jalan sastra Indonesia,” tutup Gusmuh.

Para peserta hanyut dalam derai tawa, sedangkan kau tersesat di persimpangan pertanyaan akan arah sastra Indonesia—tentang siapa yang berhak membikin maps atau peta kesusastraannya. Antara jalan utama, simpang alternatif, atau gang sempit, sastra Indonesia itu mau lewat atau diarahkan ke mana?

Tentang Penulis

Agusta Mario

Lahir di Ende Flores-NTT. Kini sedang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia tahun ketiga

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.