Lewati ke konten

Peristiwa

Apa yang Kita Liput Ketika Kita Meliput Tentang Liputan

August 27, 2026 · Mad Muflihun

Ada banyak sekali kemutlakan dunia yang mustahil ditolak umat manusia bahkan sejak ia keluar dari rahim ibunya: ketidakadilan, perang, Jogja yang kadang adem kadang panas, Jakarta yang macet, dewan perwakilan yang mewakili hajatnya sendiri, dan sebagainya, dan seterusnya. Selvi Agnesia, penulis Berkesenian di Tengah Segala Cuaca: Sehimpun Reportase Seniman dan Budayawan 2011-2026, menambah satu daftar lagi: hierarki.

Semua manusia yang mengaku hidup di dunia ini, yang penuh borok dan tipu daya, pasti pernah merasakannya. Hierarki bisa mewujud dalam banyak hal: Brahma, ksatria, waisya. Atau Gudang Garam Surya, Djarum Super, dan Azimo. Yang disebut paling pertama dari kedua kategori itu menyiratkan pancaran keagungan, sedangkan yang terakhir adalah, meminjam istilah Farid Stevy, para terabaikan yang rusak dan ditinggalkan.

Di koran pun begitu. Seorang pembaca mula-mula akan melihat analisis tentang pertandingan el clasico kemarin malam dan menyuntuki jadwal pertandingan di lima liga top Eropa plus satu liga lokal. Setelah itu ia akan melihat secara sekilas kata klitih dan akan membaca laporan yang menyertainya walaupun hanya sampai kronologi kejadian karena bagian setelahnya—tanggapan pihak kepolisian atau ketua RT setempat—sudah tak menarik lagi. Atau jika ada peristiwa politik yang heboh dan paling mutakhir, maka rubrik politik pasti sudah pasti disodorkan sejak halaman pertama oleh si redaktur.

Nah, yang patut kita pertanyakan adalah: kapan si pembaca akan membaca rubrik reportase budaya?

Hemat saya, harapan kita jangan terlalu muluk. Seharusnya pertanyaanya direvisi begini: apakah si pembaca akan membaca rubrik reportase budaya?

Dan nyatanya tidak. Reportase budaya akan dibaca oleh tikus atau kecoa sejak koran itu menerima takdir buat dibuang di tempat sampah. Atau, kalau beruntung, paling tidak yang membacanya adalah pembeli gorengan.

“Memang di media-media mainstream, posisi seorang wartawan seni berada di kasta terendah,” kata Selvi membuka diskusi.

Tapi, tentu Anda tahu. Pelaku seni, di manapun itu, adalah orang-orang yang tak bisa dihentikan gairahnya walaupun dunia berkomplot untuk merenggut segalanya darinya.

Karena jurnalis seni juga bagian dari seni, begitu kata Selvi, maka menjadi sebuah kewajaran kalau ia, sebagai peliput, harus ikut berkesenian di tengah segala cuaca.

“Kenapa cuaca?” tanya Selvi kepada hadirin. Satu, dua, tiga, tak ada yang menjawab. “Cuaca itu metafora dari kondisi.”

Begitu pun dengan para pelaku seni. Menurut Selvi, seniman atau narasumber yang pernah ia wawancara dan saksikan laku kehidupannya sehari-hari, sangat terpancar darinya aura keistikamahan untuk terus menempuh jalan seni. 

“Cuaca di sini soal resiliensi, daya tahan,” katanya.

Apa yang membedakan jurnalis seni dengan jurnalis lain, katanya, adalah bagaimana mereka memposisikan diri terhadap objek yang diliputnya. Arif Zulkifli, seseorang yang tak ada di dalam diskusi ini tapi namanya mengiang di kepala saya, pernah menjadi korban sentimen dari seorang Hasan Tiro.

Jurnalis Tempo yang meliput tentang GAM itu berkali-kali merasa tidak enak jika mengatakan kata “Indonesia” karena Tiro, sebagai pemimpin GAM yang mengungsi ke Eropa, selalu merasa tersinggung dengan negara yang menzalimi perjuangannya itu.

Dan pekerjaan yang mengharuskan bertemu dengan “orang-orang menakutkan” semacam itu jarang dialami oleh jurnalis seni. Karena bahkan, ketika Anda boker dan menemukan tahi dengan bentuk yang unik, berarti Anda sedang bertemu dengan seni.

Istilah simpelnya, seni adalah objek yang mewujud di tengah-tengah rakyat. Bahkan, menurut Faruk (yang sebenarnya juga hanya ada di dalam kepala saya), seni bahkan sudah melampaui objek. Ia juga subjek, dan karenanya harus ditempatkan secara setara dengan umat manusia.

Maka dari itu, Selvi secara leluasa juga memposisikan dirinya sebagai penonton atau penikmat seni itu sendiri selain sebagai jurnalis.

“Lewat mata penonton itulah saya bisa menulis dengan lebih jernih,” kata Selvi.

Mengapa begitu? Saya menunggunya mengelaborasi pernyataan itu tapi, sayang seribu sayang, Selvi malah beralih ke pembicaraan yang lain. Mungkin Anda, pembaca saya, besok-besok bisa menemui saya di Pujale UGM saat pagi hari selama Senin-Jumat buat memberitahu jawabannya.

Mungkin pula menulis dengan jernih itulah yang oleh Faiz Ahsoul, pembicara yang lain, dikatakannya membuat usia tulisan-tulisan Selvi akan menjadi begitu lama.

“Bentuk tulisan yang seperti itu tidak akan habis digerus zaman,” kata Faiz.

Kemudian Ni Made Purnamasari, dalam hal ini sebagai moderator, menimpali pernyataan Faiz itu dengan pertanyaan yang amat kritis: “bagaimana cara Selvi menyiasati agar tulisan itu memang bisa berusia panjang? Apakah ada bongkar pasang saat akan dibukukan kemarin atau saat nanti jika dicetak ulang?”

“Saya sangat berhati-hati kalau rewriting,” Selvi menimpali. “Yang saya revisi hanya konteks waktunya.”

Sebentar-sebentar, batin saya lagi. Konteks waktu yang mana ini?

Tapi, di negara ini bersuara saja tidak didengarkan. Apalagi saya yang hanya mbatin.

Tapi tidak mengapa. Karena Selvi kemudian berbicara mengenai beberapa hal yang menarik seperti “jurnalis tak boleh membawa kepala kosong saat liputan” atau “saya sangat bebas ketika menjadi jurnalis lepas karena bisa menuangkan 2000-3000 kata dalam satu tulisan.”

Dan baru saya sadari, ada seorang jurnalis seni, bukan Selvi tentu saja, yang tak punya keduanya. Setiap hari ia berangkat ke FSY dengan kepala kosong, dan masih tetap begitu saat liputan sudah selesai. Untuk membuat tulisan sepanjang 800-an kata pun ia masih sangat bingung.

Dan alangkah baiknya Anda tak pernah membaca tulisan terbaru si jurnalis seni itu. Di tulisan itu ia lupa menambahkan waktu diskusi yang “Rabu (26/08/2026)” dan tempatnya “Gedung Grha Budaya”.

Judul tulisan itu adalah: “Apa yang Kita Liput Ketika Kita Meliput Tentang Liputan”.

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.