Peristiwa
Kepada Esais yang Sedang Tidur*
August 27, 2026 · Agusta Mario
Beberapa hari belakangan, waktu seperti mengingatkan saya akan laku mama ketika minggu pagi. Saat ia berseru, “Bangun!”, lantas saya cepat-cepat bergegas ke kamar mandi, menciduk air, menggosok sabun, dan mengguyur badan dengan air agar tidak terlambat ke gereja.
Tapi di rantau, waktu begitu dingin perangainya. Ia akan mengusir saya dari kamar, lalu dijejalkanlah saya ke hibuk sebuah kota. Beberapa hari ini, nasib saya persis bunyi chat Mas Irsyad, “kota selalu merenggut minggumu yang cakung begini.”
Seperti yang lalu-lalu, selatan Jogja adalah perhentian saya selama beberapa jam. Di aula Grha Budaya, Rabu siang (26/08/2026) saya didudukkan di kursi merah itu. Sebelumnya saya di gedung Wijayakusuma, tapi gedung itu tak bisa menampung karena masa yang membludak. Grha Budaya pun menerima kami dengan terpaksa.
Seperti sekerumunan semut mengerumuni gula, begitulah hadirin yang mengikuti lokakarya penulisan esai bersama Via Ajeng. Sebenarnya hanya ada sepuluh peserta yang sebelumnya melalui tahap seleksi, tapi entah mengapa tiba-tiba digandakan begitu saja.
Dari pengakuan salah satu gurunya, kalau tidak salah, mereka adalah siswa/siswi SMP dan SMA yang kebetulan lewat. Mampir melihat buku-buku, membaca papan pengumuman, mengetahui ada workshop penulisan esai, dan nimbrunglah mereka.
Sekitar belasan orang mengisi dua sisi barisan kursi dengan baris-baris yang berjumlah sama. Para esais terpilih dikhususkan menempati baris paling depan dan dua baris di belakangnya dibiarkan kosong, semacam memberi jarak antara dua jenis peserta itu.
Meski peserta membludak dan tak sesuai prosedur lokakarya, saya tetap kagum dengan ketertarikan para siswa/siswi untuk menghadiri acara. Kendati di lain sisi, saya mengkhawatirkan Via Ajeng. Mencemaskan bagaimana cara ia menyesuaikan materi yang telah disusun dari jauh hari, yang saya duga akan jadi ndakik bagi himpunan esais dadakan itu.
“Selamat bergabung, semoga enjoy, ya. Kita belajar santai dan bisa bebas bertanya,” ucap Ajeng sebagai pembuka.
Saya duduk di sisi kiri dari arah hadirin. Dan ketika melempar pandang ke kanan, tampak wajah semangat para anak lelaki. Beberapa orang mengeluarkan buku catatan, menggenggam pena dalam ancang-ancang seorang siswa tekun.
Di depan, Ajeng mulai menguraikan apa itu esai. Ia meminjam pemikiran Michel Eyquem de Montaigne tentang esai yang dikutip oleh Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Di mana esai adalah usaha coba-coba untuk memahami manusia dan masyarakat di sekitarnya. Dikatakan usaha memahami, karena bagi Montaigne, manusia selalu hidup dalam topeng.
“Metode yang ditawarkan oleh Montaigne itu adalah menyelidiki, mengamati, membaca diri sendiri dan objek apapun itu,” tambah Ajeng.
Ajeng selanjutnya menerangkan tentang perbedaan antara puisi, karya ilmiah dan esai. Menurutnya, puisi itu lebih menekankan pada unsur sintetik imajinatif dan karya ilmiah cenderung mengedepankan objektivitas. Sedangkan esai berada di tengah-tengahnya, dalam artian tidak lebih subjektif atau sebaliknya. Ia mengawinkan keduanya secara bersamaan, sehingga ia bisa puitis sekaligus analitis.
Dikarenakan menjadi upaya membuka topeng diri sendiri, maka Ajeng menguraikan lebih lanjut bahwa esai adalah bentuk pergaulan untuk menjangkau objek lain. Ia tidak bisa digantikan oleh konsep-konsep abstrak sebab pengalaman manusia merupakan bahan bakarnya. Seperti bercakap-cakap, demikianlah esai.
“Di puisi kita bertemu subjek lirik, di prosa berjumpa narator, tapi di esai kita berhadapan langsung dengan penulisnya,” jelas Ajeng.
Diterangkannya lagi, bahwa esai bukan muntahan spontanitas melainkan mengandalkan momen epifani. Epifani bisa merujuk pada momen puitik, wahyu atau pencerahan. Momen itu nanti dikawinkan dengan close reading, yakni mengamati sebuah fenomena kehidupan di sekitar.
Tanpa jeda, Ajeng terus melanjutkan materi.
Oleh sebab esai termasuk karya sastra, dalam sastra Indonesia ada beberapa topik besar tentang esai. Ada esai yang merumuskan tentang ontologi, esai yang berorientasi pada kebudayaan dan sumber penciptaan, esai manifesto kredo hingga esai yang bersifat penilaian sastra atau evaluasi.
“Sampai sekarang, untuk esai penilaian atau kritik sastra kita belum bisa menggantikan H.B. Jassin dan juga A. Teeuw,” pungkas Ajeng.
Saya meregangkan badan sembari pandangan dilempar ke kanan. Dan, betapa kagetnya saya melihat para esais muda itu tertidur dengan posenya masing-masing. Dua orang membungkukan badan, tiga orang dengan kepala tengadah dan lainnya terantuk-antuk.
Padahal ini masih jauh dari isi materi, agaknya masih sebagai pengantar saja. Dan, Ajeng bukan seperti waktu yang dingin perangainya atau bahkan kota. Ia sudah berusaha menghangatkan suasana. Tapi, saya kira, nama Montaigne (yang betapa sulit pelafalannya itu) dan isi buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan-lah—yang bukan berjumlah enam halaman saja—telah meninabobokan esais muda kita itu.
Kalau esai, kata Ajeng, adalah tarik tambang antara subjektif dan objektif, lantas bagaimana dengan esais muda kita yang tertidur?
Apakah mereka telah kalah sebelum menyentuh tali tambang? Kalau benar, maka bukan Ajeng dan seperangkat babonnya yang disalahkan, tapi ketiba-tibaan hadirin itu.
Walaupun begitu, Ajeng tetap tancap gas. Ia mulai memaparkan wajah esais terkenal, baik dari di Indonesia mau pun dari luar. Jikalau disusun, saya akan memilih dari Chairil lalu Rilke, kemudian Auden dan diakhiri oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Dengan menyusun demikian, saya berharap mereka yang tertidur bisa lebih nyenyak dan lebih keras dengkurnya.
Maaf, sebelum menutup tulisan ini ada satu pembahasan Ajeng yang hampir saya lewatkan, yakni tentang sifat esai yang persuasif. Esai harus bisa mengajak pembaca untuk berpikir, merenung, dan berefleksi. Tapi, adakah esai yang mengajak lelap dalam tidur? Tidak. Saya yakin tidak ada. Sebab, yang ada hanya esais yang sedang tidur.
*Terinspirasi dari judul esai Goenawan Mohamad: Kepada Anak yang Sedang Tidur (1979) yang sempat ditampilkan oleh Via Ajeng.

Agusta Mario
Lahir di Ende Flores-NTT. Kini sedang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia tahun ketiga