Lewati ke konten

Peristiwa

Memotret JBS di Tengah Segala Cuaca

July 11, 2026 · Agusta Mario

Kredit: Agusta Mario

Got that summertime, summertime sadness. Oh, oh, oh.”

Saya melepaskan headset. Tak terasa lembut suara Lana Del Rey sudah mencapai post-chorus, tepat ketika tiba di depan rumah panggung itu. Ya, rumah panggung tempat buku-buku bernaung bernama JBS (Jual Buku Sastra) di Keloran itu.

Suara moderator terdengar jelas dari depan. Bergegaslah saya ke muasal sumber suara. Di belakang rumah panggung itu sudah nampak para tamu yang sedang menyimak obrolan sambil menikmati gelas-gelas kopi dan kudapan yang disajikan.

Seorang kawan, kemudian saya lihat, mengangkat tangan sambil berkata “Sini…” . “Itu Mas Danny,” batin saya. Duduklah saya di sampingnya dan mulai memperhatikan tiga orang yang menjadi pusat segala mata tertuju. Mereka adalah Raudal Tanjung Banua sebagai pembahas, Selvi Agnesia selaku narasumber, dan Eka Nusa Pertiwi yang menjadi moderator. Pertemuan sore itu (04/07/2026) dipayungi dengan nama: Berdiskusi di Tengah Segala Cuaca, membahas buku kumpulan esai dari Selvi Agnesia yang berjudul Berkesenian di Tengah Segala Cuaca.

“Cuaca apa yang paling berkesan menurut Teh Selvi?” begitu pertanyaan moderator yang pertama saya dengar. Teh Selvi kemudian bercerita bahwa sejak SMP ia sudah menggeluti dan menggemari teater, tapi tidak berniat menjadi aktor. Dari kegemarannya itu, Teh Selvi kemudian menulis dan banyak menuangkan hasil wawancaranya bersama para pelaku teater seperti Putu Wijaya atau Nano Riantiarno.

Hal-hal paling berkesan dari pengalaman menulis tentang kesenian dan para pelakunya ini, menurut Teh Selvi, adalah bagaimana mereka tetap menjalani hidup di tengah segala tantangan. Tentu, terutama pada zaman rezim Orde Baru, censorship adalah salah satu tantangannya. Kendati pun demikian, para pelaku teater tetap mencari alternatif lain agar bisa selalu berkesenian.  “Mungkin agak terdengar heroik ya, ada manusia seperti ini,” tambahnya.

Eka beralih ke Raudal Tanjung Banua. “Bagaimana pembacaan Abang sebagai penyair terhadap buku ini?” pantiknya.

“Ini secara teknis dulu sebelum masuk ke pembahasan lainnya ya,” terang Bang Raudal. Mendengar pernyataannya, seketika saya menjadi fokus. Ini pernyataan yang menarik sebab tak semua pembahas dalam acara launching buku mau membedah dari hal-hal teknis—unsur-unsur kepenulisan yang paling dasar.

Terlihat Bang Raudal membetulkan kacamata dan memegang selembar kertas putih yang saya duga itu adalah poin-poin bahasannya.

“Yang diliput Selvi itu adalah peristiwa keseniannya, bukan seniman atau budayawannya. Kalau mau meliput lebih ke sosok, bisa dilihat pada Kompas Minggu, yaitu kata yang dipakai persona. Di mana ada bentuk wawancara dan tanya jawab semacam itu,” lanjutnya.

Kemudian, bang Raudal melanjutkan bahwa ada dua godaan bagi reporter yang meliput sebuah peristiwa kesenian. Pertama, godaan katalog pada si empunya pementasan. Kerap terjadi para penulis liputan terjebak dalam informasi yang ditawarkan pelaku-pelaku pementasan tanpa ada usaha mengembangkannya. Kedua, godaan isu atau apa yang sedang tren dalam dunia pertunjukan. “Semisal ada isu feminisme yang diusung dalam pementasan, maka pada laporan akan penuh dengan istilah-istilah itu,” tegasnya.

Menurut Bang Raudal, hal semacam itu bukannya tidak boleh, tetapi tetap ada batas-batasnya. Untuk katalog, misalnya, mungkin bisa diambil hal-hal yang substansial saja. Katakanlah siapa sutradaranya atau gagasan-gagasan apa yang penting. Gagasan itu yang nanti dikembangkan oleh sang penulis dengan memakai bahasanya sendiri.

Berikutnya, Bang Raudal menerangkan, dalam buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca, Selvi selaku penulis sudah mampu menggunakan gaya kepenulisannya sendiri. Ia tidak terhasut akan gagasan si empunya pertunjukan yang kemudian diterapkan dalam pilihan kata maupun kalimat. “Memang gaya Selvi cenderung datar dan konvensional, tapi dengan cara itu liputannya menjadi jernih,” lanjutnya.

Bang Raudal pun memberikan contoh. Pada salah satu wawancara Selvi dengan Afrizal Malna, pertanyaan-pertanyaannya tetap khas Selvi, tidak mencoba untuk menjadi Afrizalian. “Bahkan pakai panggilan Mas, yang mungkin bagi Afrizal sedikit tabu ya,” pungkas Bang Raudal. Mendengar itu para hadirin tertawa lepas.

Setelah banyak hal teknis diterangkan oleh Bang Raudal dengan padat, suara azan mulai berkumandang. Waktu hampir menunjukkan pukul enam petang. Moderator menutup sesi pertama. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bang Raudal oleh moderator dan, sambil bercanda, mengatakan ulasannya sebagai “ujian tesis”.

Mas Danny sudah berpindah tempat, sedikit ke depan, dari tempat duduk semula di samping saya. Tiba-tiba ia berdiri menerima mikrofon dan berkata, “Kita jeda salat dulu, dan setelah itu akan ada penampilan dari Sasmita Musik tim B!”

Para hadirin bertepuk tangan, sementara saya kaget jika Mas Danny adalah MC-nya. Apalagi ketika mendengar Sasmita tim B. Siapa Sasmita tim B itu?

Tepat pukul tujuh, Sasmita tim B—spontanitas dan ketiba-tibaan yang menarik saya menjadi vokalis dan Mas Irsyad sebagai gitaris cum vokalis itu—sudah siap membawakan lagu, yang kemudian menyanyikan dua musikalisasi puisi yakni Derai-Derai Cemara dan Sebuah Buku Harian.

Selepas itu, moderator kembali menjemput mikrofon.

“Kita mulai pada sesi tanya jawab,” katanya.

Fokus para hadirin kembali ditujukan kepada tiga orang yang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Beberapa kali Eka melemparkan kesempatan kepada para hadirin. Masih belum ada. Ia melemparkannya lagi, “Monggo yang mau bertanya…”

Namun, untuk menunggu umpan itu diraih oleh para hadirin, Teh Selvi mengisi waktu dengan sedikit menjelaskan sekaligus menanggapi ulasan dari Bang Raudal pada sesi pertama tadi. Ia menjelaskan bahwa sebagai seorang reporter, sering kali ia dihadapkan dengan situasi yang dilematis. Di satu sisi, ia mengidolakan sang narasumber, yakni para tokoh teater, tapi di sisi lain, ia mesti terlepas dari penokohan tersebut untuk bisa menghasilkan tulisan yang, kalau kata Bang Raudal, “jernih”, gayanya sendiri.

Teh Selvi juga menambahkan bahwa dalam kerja wartawan, yang mesti dimiliki adalah curiosity atau rasa penasaran akan objek liputan. Disinggung pula akan profesinya saat ini sebagai wartawan lepas. Bahwa ketika sudah tidak dikejar oleh deadline, maka salah satu faktor yang memantiknya untuk menulis adalah momen puitis.

Kesempatan pertanyaan dibuka lagi. Dua penanya mengacungkan tangan. Salah satu penanya bertanya perihal bagaimana seorang reporter bernegosiasi akan materi liputan yang hampir di setiap media seragam temanya. Sedangkan penanya yang lain menanyakan tentang aktualitas sebuah liputan dengan konteks waktu atau momen ketika tulisan tersebut diterbitkan.

Jikalau diparafrasa, jawaban Teh Selvi adalah seorang reporter yang terikat dengan kontrak kerja akan mengikuti semacam chain of command dari atasan. Itu sudah termasuk isu apa yang mesti diliput, di mana, kapan, dan siapa narasumbernya. Dan memang sulit bagi penulis untuk bernegosiasi.

Bang Raudal juga turut nimbrung perihal aktualitas. Ia mengetengahkan antara aktualitas di media koran dan di buku. Pada media koran, aktualitas bisa bersifat harian dan mingguan sesuai dengan konteks pentas atau peristiwa budaya yang sedang berlangsung. Ketika berpindah ke buku, aktualitas itu tidak lantas hilang. Ia berpindah medium dan aktualitasnya mengendap. Pada buku yang baru terbit juga misalnya sering dikatakan bahwa buku itu masih hangat.

Obrolan kian seru, seakan menghangatkan para hadirin yang perlahan dirangkul angin malam. Sedari sore, cuaca sedikit sejuk. Namun, apa pentingnya cuaca bagi JBS? Yang harfiah maupun yang metaforis itu? Sebab di halaman belakang rumah panggung ini, kesenian (juga kesusastraan) selalu bisa mendapatkan ruang dan bernapas lega.

Cuaca bisa jadi hanya sekilat gigil yang bisa hilang dalam beberapa teguk kopi, seberkas cerita, dan beberapa derai tawa. Tak terasa pula jam hampir menyentuh pukul delapan. Tapi, ini masih jauh dari usai. Sebab ritual malam JBS baru akan dimulai: gitar dipetik lalu Mardua Holong dan Angin Bawa Kabar Kasana dinyanyikan hingga tak peduli waktu dan cuaca.

A
Tentang Penulis

Agusta Mario

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.