Dongeng Rakyat Afghanistan : Mengapa Kepiting Memiliki Cangkang
September 6, 2026 · Anonim
Sukusastra-Akuvi adalah seorang gadis yang sangat keras kepala. Ia selalu menolak setiap perintah ibunya, Aftermath. Ketika diminta mengambil air atau ubi, Akuvi justru membentak dan merajuk.
Hingga suatu hari, pertengkaran hebat terjadi. Akuvi memukul ibunya, lalu pergi meninggalkan rumah menuju hutan karena marah. Ia tidak tahu harus ke mana, yang penting ia bisa segera keluar dari rumah.
Setelah berjalan jauh, ia bertemu gubuk milik seorang wanita tua. Wanita itu bertanya mengapa ia bersikap buruk kepada ibunya. Namun, Akuvi tetap saja tidak mengerti arti kasih sayang sang ibu.
Wanita tua itu menampung Akuvi di gubuknya. Keesokan harinya, ia mengajak Akuvi ke kebun. Ia menyuruh Akuvi memetik tanaman meskipun tanaman itu menangis meminta untuk tidak dicabut.
Akuvi merasa takut, namun ia terpaksa menuruti perintah wanita tua itu. Selesai berkebun, mereka kembali ke gubuk. Ternyata, wanita itu adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan aneh.
Ia menggunakan lubang hidungnya sendiri sebagai alat penumbuk untuk membuat makanan. Akuvi terperangah melihat keajaiban tersebut. Meski begitu, sang penyihir tidak membagi makanannya kepada Akuvi.
Wanita tua itu memberi syarat yang sulit. Akuvi harus menebak namanya terlebih dahulu jika ingin makan. Sepanjang malam, Akuvi mencoba menebak, namun semua tebakannya salah.
Keesokan harinya, ia pergi ke sungai untuk mengambil air. Di sana, seekor kepiting baik hati menghampirinya. Kepiting itu memberitahu bahwa nama penyihir tersebut adalah Mama Zeglo.
Akuvi sangat senang mendengar informasi berharga itu. Namun, di perjalanan pulang, ember air yang dibawanya jatuh dan pecah. Ia terpaksa melaporkan kejadian itu kepada penyihir.
“Mama Zeglo, aku minta maaf karena embernya pecah,” ucap Akuvi jujur. Penyihir itu terkejut karena namanya disebut. Ia murka dan langsung pergi ke sungai untuk mencari kepiting.
Penyihir itu menghampiri sang kepiting dan memarahinya dengan kasar. Ia kemudian memukul punggung kepiting dengan tongkatnya dengan sangat keras. Kepiting segera menyelam dan membalas dengan melemparkan pasir ke kepala penyihir.
Rambut penyihir itu seketika memutih karena terkena pasir. Penyihir membalas dengan melemparkan labu airnya ke arah kepiting. Labu itu mendarat tepat di punggung kepiting dan melekat selamanya.
Itulah sebabnya, sampai hari ini, kepiting memiliki cangkang keras di punggungnya. Cangkang itu adalah labu yang dilemparkan oleh Mama Zeglo. Sejak saat itu pula, penyihir selalu digambarkan memiliki rambut yang berwarna putih.
Kepatuhan kepada orang tua adalah bentuk penghormatan atas kasih sayang yang tak terhingga. Sifat keras kepala hanya akan membawa petaka dan penyesalan bagi diri sendiri. Sebaliknya, kebaikan hati kepada sesama makhluk akan membuahkan pertolongan di saat yang tidak terduga, meski terkadang mendatangkan resiko akibat tindakan orang lain yang jahat.