Lewati ke konten

Peristiwa

Pembukaan Pameran Petak Umpet Sastra Anak

November 8, 2025

Hanputro memberikan penjelasan dalam pameran. Kredit: SukuSastra.com.

Saya tiba di Bentara Budaya pada Jumat (7/11/2025) sekitar pukul setengah empat sore. Rangkaian acara pembukaan Pameran Arsip dan Ilustrasi “Petak Umpet Sastra Anak” baru akan dimulai setengah jam lagi. Jadi, setelah mengisi formulir registrasi, saya masuk lebih dulu ke ruang pameran yang pintunya masih terbuka.

Sudah ada Romo Sindhu yang mengobrol dengan beberapa orang di dalam. Karena tak kenal beliau secara pribadi, saya hanya mengangguk sopan, lalu berkeliling ruang pameran. Belum ada pengunjung lain, jadi ruangan legendaris itu seolah-olah menjadi galeri pribadi saja.

Menikmati pameran seni rupa dalam keadaan sepi memang lebih mengasyikkan. Saya bisa berlama-lama membaca narasi pameran yang merentang dari 1970-an hingga 2000-an. Tentu saja saya juga menikmati repro sampul-sampul buku karya sastra anak yang dipamerkan.

Narasi di atas repro sampul-sampul itu ditulis dengan huruf yang rapi sehingga mudah dibaca. Belakangan, saat mengobrol dengan penyair Ni Made Purnamasari , saya diberi tahu bahwa narasi itu memang ditulis dengan tangan, tetapi mengikuti panduan yang disorot dari proyektor.

Saya coba mengingat-ingat karya dan penulis sastra anak yang pernah saya baca. Tidak banyak. Nama Dwianto Setyawan, kakak kandung Romo Sindhu, tidak familier bagi saya. Soekanto SA, Aman Datuk Madjoindo, dan S. Rukiah tentu saya tahu walaupun sudah lupa cerita apa saja yang mereka tulis.

Yang bikin saya cukup terkejut, Mochtar Lubis pernah menulis buku anak juga. Saya jadi ingat pernah punya bukunya, Penyamun dalam Rimba, tapi juga sudah lupa isinya. Mungkin karena saya memang tidak tertarik dengan sastra anak per se kecuali sebagai objek kajian atau bahan diskusi.

Ketika suara lalu lintas dari Jalan Suroto hanya terdengar sayup-sayup, saya baru sadar bahwa pintu depan sudah ditutup. Dengan rasa tak enak saya keluar dari ruang pameran. Ketika duduk di kursi yang disediakan di halaman, saya menyadari lagi sebuah hal yang menarik.

Jalan Suroto bising tak berkeputusan dan bergegas, tetapi di Kompleks Bentara Budaya ini manusia diajak melambatkan langkah dan menikmati serta merenungkan hasil-hasil budaya. Berada di Bentara Budaya pada saat ada kegiatan terasa seperti berada di sebuah oase yang sejuk di tengah gurun panas.

Ternyata bukan saya sendiri yang tidak familier dengan Dwianto Setyawan. Purnama yang mengobrol dengan saya juga merasa demikian. Heran juga saya karena di Denpasar, yang terbilang kota besar, semestinya bahan bacaan sastra anak melimpah di perpustakaan atau toko buku.

Kami menduga, masa keemasan sastra anak memang sudah berlalu saat saya beranjak dari usia anak ke remaja pada 1990-an. Terlebih Purnama yang jauh lebih muda dari saya. Di masa kecil saya, komik Jepang dan Barat sudah merajalela bahkan hingga di kota kecamatan kecil di Bantul.

Pameran “Petak Umpet Sastra Anak” dikuratori tiga orang, yaitu Hanputro, Nai Rinaket, dan Setyaninsih. Idenya adalah memperingati jejak dan karya Dwianto Setyawan yang telah menghasilkan lebih dari 80 buku sastra anak. Dwianto  Setyawan meninggal pada 1 Juni 2024.

Post Instagram BBY menjelaskan, pameran ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengenal penulis-penulis buku anak lain dari masa ke masa. Misalnya Arswendo Atmowiloto, Bung Smas, dan Kembangmanggis–serta tentu saja nama-nama yang lebih familier. Karya Diwanto Setyawan dan Djokolelono telah diterbitkan kembali oleh KPG sebagai Seri Klasik Masa Kecil.

Rangkaian acara pembukaan dimeriahkan orkes keroncong Sakpenake. Para musisi mengenakan seragam sekolah walaupun jelas dari sosoknya sudah dewasa. Musik bertingkahan dengan suara kendaraan. Begitu juga ketika Christina M. Udiani, editor senior KPG, memberikan penjelasan tentang penerbitan kembali beberapa karya sastra anak.

Jalan Suroto masih menderu ketika Altaf Jaddan Adzaro membacakan salah satu cerita Dwianto Setyawan. Namun, instrumen yang mengiringi Warok Cilik, yang terdiri dari sekelompok penari anak, seperti menyisihkan deru jalanan.

Setelah Romo Sindhu memberikan pengantar, pameran pun dimulai.

Pameran Arsip dan Ilustrasi “Petak Umpet Sastra Anak” berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, 7-16 November 2025. Aktivasi programnya beragam, mulai dari diskusi, permainan detektif, baca senyap buku anak, dan lokakarya bercerita hingga book playdate.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.