Lewati ke konten

Peristiwa

Kethoprak Anak Ngakak dan Peliput yang Tidak Waspada

September 16, 2025

Kethoprak Anak Ngakak dan Peliput yang Tidak Waspada

Sisa-sisa malam Minggu masih terasa–ramai, romantis, dan manis. Saya duduk bersama seorang laki-laki yang setia mengantar saya melakukan liputan selama Jogja Book Fair 2025. Di liputan terakhir ini, saya memintanya untuk menonton acara ini meskipun saya tahu dia tidak paham bahasa Jawa.

Minggu sore itu (14/9/2025) kami tiba di Grhatama Pustaka pukul setengah empat. Tidak seperti biasanya, hampir semua kursi penonton sudah terisi. Ibu-ibu dan anak-anak kecil berkumpul. Mereka antusias menantikan pertunjukan Kethoprak Anak Ngakak “Bullying lan Waspada (Joko Bodho lan Joko Wasis)” yang dibawakan oleh AFC Komedi TBY (BASKOM) 2025.

Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Pertunjukan dibuka dengan keluarnya seorang raja kecil yang tertawa bersama dua kacung. Si Raja Mini itu memperkenalkan diri sebagai orang yang paling berkuasa dan paling tampan serta memiliki kerajaan yang makmur dan sejahtera. Namun, pada saat itu, putrinya sedang sakit dan harus diobati. 

“Kena guna-guna,” kata salah satu kacungnya.

Putri kecil yang centil, petakilan, dan petantang-petenteng naik ke atas panggung dari tengah-tengah audiens. Sembari mengendarai sapu nenek sihir, ia menari-nari dengan latar suara jedag-jedug yang membikin panggung bising. Di belakangnya, simbok pengasuh grusa-grusu dan kewalahan menyuapinya.

Para ibu mengangkat kamera tinggi-tinggi untuk mengambil foto dan video dengan mode potret maupun lanskap. Tentu ada juga yang berswafoto untuk dikirim ke grup keluarga.

Selama pertunjukan, saya juga memotret ini dan itu dari sisi kanan dan kiri panggung, memastikan hasil foto saya jernih dan tidak backlight. Saya lebih suka mengambil foto dari arah kanan, dari barat, tempat matahari terbenam, tetapi masih menyisakan cahaya.

“Sebentar lagi secara perlahan matahari akan pamit,” gumam saya sambil memotret.

Suara ngakak pecah. Para ibu dengan tawa cempreng mengalahkan suara bising pengunjung Jogja Book Fair 2025 itu. Ungkapan rasa gembira dalam tawa audiens itu menambah suasana riang dan hangat, terutama ketika Joko Bodho dan Joko Wasis muncul di panggung.

Bibir Joko Bodho dimonyongkan, dicat warna merah hingga dagu, dan tangannya bergerak ke atas dan ke bawah—seperti orang sedang ngamen membunyikan “icik-icik”. Suaranya yang seperti sedang berkumur dan kata-katanya yang receh memancing tawa audiens.

Si Raja Mini dan kacung-kacungnya kembali ke atas panggung. Permaisuri, putri, dan para pelayan juga menyusul. Mereka tengah sibuk mencari solusi untuk menyembuhkan sang putri dengan berbagai cara. Para kacung mendatangkan ciwi-ciwi lucu yang bisa velocity, tetapi malah diteriaki oleh sang putri. Didatangkan juga seorang dukun yang berkomat-kamit baca mantra, tetapi malah digebuk dengan sapu nenek sihir oleh sang putri.

Para kacung tidak menyerah. Mereka mencoba lagi dengan menghadirkan penari-penari cantik nan gemulai. Ketika acara tarian hampir selesai, para penari turun dari atas panggung dan memperagakan adegan tundik—memakaikan selendang kepada penonton dan mengajak mereka untuk ikut berjoget.

Saya tengah asyik memotret. Tiba-tiba saja salah satu penari berlari ke arah saya dan memakaikan selendang. Sampur itu memandu saya ke atas panggung. Saya dipaksa berjoget. Saya hanya bergerak kaku seadanya sambil cekikikan dan menutup wajah saya dengan satu tangan. Aduh, malunya minta ampun.

Penonton tertawa-tawa sembari ikut mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi, tuan putri masih merengut. Setelah acara joget-joget selesai, sang putri malah tambah kesal. Penonton makin penasaran, siapakah yang bisa menyembuhkan sang tuan putri?

Joko Wasis yang tampan kemudian datang dengan pantunnya yang gak nyambung. Sang putri makin pusing tak karuan. Lalu, Joko Bodho hadir. Ia datang bersama seekor ayam emas. Dengan bibir monyongnya, ia membaca mantra sambil mengusap-ngusap ayam emas ajaibnya itu. Beberapa saat kemudian, sang putri kembali mengingat keluarganya. Akhirnya ia menjadi putri yang baik dan sopan. Tidak lagi petakilan.

Pada awalnya, datangnya Joko Bodho seperti cahaya kegelapan bagi kerajaan. Parasnya yang ora masuk blas membuat raja meringis. Tetapi, ketika Joko Bodho berhasil menyembuhkan sang putri dengan ayam emas ajaib dan mantra ngalor-ngidul-nya, sang raja meminta maaf dan memberikan penghormatan kepada Joko Bodho.

Pesan yang ingin disampaikan pertunjukan kethoprak sore itu adalah “Jangan mem-bully orang lain, apalagi berdasarkan tampilannya. Tidak enak dipandang bukan ukuran untuk bersikap tidak baik kepada orang lain. Siapa tahu, justru ia adalah orang yang bisa menyelamatkanmu suatu hari nanti.”

Pertunjukan selesai, anak-anak riang, penonton bertepuk tangan, dan kami juga bergembira. Saking asyiknya menonton, saya lupa memperhatikan rekaman liputan. Segera saya membuka hp dan mematikan rekaman yang masih berlangsung. Sial, ternyata hasil eror, tidak ada suaranya. Ah! Ada-ada saja. Saya periksa buku catatan yang sedari tadi saya pegang bersama bolpoin. Nahas. Kertasnya kosong melompong, putih, bersih, dan masih polos tanpa tinta. 

“Sungguh peliput yang tidak waspada!” umpat saya kepada diri sendiri. 

“Entah apa yang akan kutulis di liputan terakhir ini,” pikir saya waktu itu.

Saya memutuskan untuk menceritakan kegembiraan tanpa hasil rekaman dan catatan. Pasalnya, memori sore itu sangat melekat: tawa para ibu yang mencoba melupakan beban untuk sementara, keriangan anak-anak dengan mimpi tentang masa depan, laki-laki yang sabar menunggu saya liputan hingga usai, dan kegembiraan dari dalam diri saya yang telah disebabkan oleh banyak hal.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.