Lewati ke konten

Peristiwa

Komedi Kita Masih Perlu Dibantu

September 15, 2025

Komedi Kita Masih Perlu Dibantu

Aku benci dengan para pembual. Namun, ini pengecualian bagi mereka yang dapat membuatku tertawa. Di depanku sekarang, ada Rian dan Zayn, salah dua anggota dari Stand Up Comedy Jogja. Mereka menjadi moderator untuk empat sesi komika.

Di tangan mereka, halaman Grhatama Pustaka berubah menjadi panggung Srimulat. “Ya teman-teman akan menyaksikan kelinci-kelinci percobaan kami,” ucap Zain. “Darah mereka halal ya untuk di- …,” sambung Rian, tetapi tertahan oleh tawa penonton yang sudah tahu arah leluconnya mau ke mana.

Di festival Jogja Book Fair 2025 yang terselenggara atas kolaborasi DPAD DIY dan IKAPI DIY ini, kuyakin komunitas mereka diundang hanya untuk menarik massa. Dan kurasa, panitia telah salah mengundang. Aku tidak sedang melucu perihal ini. Serius loh. Belakangan memang komunitas Stand Up Comedy menjamur di berbagai kota di Indonesia. Mereka sering open mic di kafe-kafe atau di ruang publik. Undangan oleh stasiun televisi atau festival-festival itu hanya bonus.

Dari ruang-ruang itu, mereka akhirnya dikenal. Setidaknya di jagat maya, mereka bisa sebebasnya membuat konten tak bermutu. Ada yang trengginas jadi tokoh, ada juga yang tergilas jadi penghuni lapas. Ya, mirip-mirip dengan perkataannya Chairil, lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu.

Hari ini kupikir komedi telah menjadi bagian dari pop culture yang tidak lepas dari keadaan sekitar. Kita hampir menemukan komedi di mana pun, kendati tidak semuanya benar-benar layak untuk didengar atau ditanggapi. Apalagi jika humornya semenjana dan asal-asalan. Asal nyeplos tanpa ketertiban struktur komedi.

Pandanganku soal humor barangkali terlalu kaku. Humor yang kaku itu kubayangkan tidak hanya memicu tawa, tetapi juga rasa getir. Sama halnya dengan cerita yang mengandung humor, ceritanya menjadi tidak biasa. Salah satu contohnya, kumcer Bakat Menggonggong karya Dea Anugrah. Walaupun bukan bergenre humor, cerpen-cerpen itu mampu menyelipkan humor yang tidak terasa sebagai tempelan.

Salahku sendiri mengiyakan Simbah untuk meliput acara komedi. “Mestinya ini cocok untuk Danny,” gumamku. Aku terlalu tinggi menaruh harapan pada malam ini di Grhatama Pustaka (08/09/2025). Ekspektasiku mengenai lelucon benar-benar dijungkirbalikkan.

Alih-alih terhibur, aku seperti mendengar orang yang sedang merintih ketimbang melucu. Simpelnya, tidak ada humor yang benar-benar ngena sebagaimana yang kutemukan di dalam fiksi. Ya, tulisan yang baik menurutku tidak hanya mampu menyajikan tragedi, melainkan juga komedi. Namun, bagaimana dengan sebuah pertunjukan?

Mestinya tidak jauh berbeda, sebab struktur dari seni bercerita sama-sama saja. Ada premis, konflik, dan resolusi. Bahkan dalam Stand Up Comedy terdapat lebih banyak trik sekalipun tampak berbeda di permukaan. Ada Rule of Three, Roasting, Call back, One Liner, dan sebagainya.

Yang terjadi di panggung justru sebaliknya, teknik hanya terasa kebetulan. Ya, kebetulan lucu, kebetulan roasting, atau kebetulan tertolong tempo. Semisal aku sempat tertawa, itu pun kebetulan. Aku sedang tidak mengada-ngada. Struktur melucu mereka gampang sekali ditebak. Namun, anehnya, berapa kali diulang pun tetap mampu membuat orang-orang tergelak. “Sialan,” umpatku menyayangkan betapa murahannya komedi ini.

Jangan salah paham dengan pendapatku. Terry Eagleton telah mewanti soal ini dalam pembukaan bukunya, Humour: “A good many studies of humour begin with the shamefaced acknowledgement that to analyse a joke is to kill it dead. This is not in fact true.”

Kita begitu takut semisal sebuah lelucon akan mati setelah dianalisis. Sama halnya ketakutan kita terhadap terbongkarnya trik-trik sulap. Niatku memang subjektif, tetapi sebisa mungkin–aku tidak akan berlindung pada kalimat: “Mau ketawa aja kok mesti harus mikir,” atau “Ah, ini soal selera saja.”

Kita sah-sah saja soal perbedaan selera, tetapi kita sepakat bahwa cara orang tertawa di dunia ini sama saja. Yang membuatnya berbeda adalah makna dan maksud dari tawa itu sendiri. Ada ketawa karier lah, ketawa orang berduit lah, ketawa miris lah, dan semacamnya. Tertawa, seperti kata Warkop DKI, memang sebaiknya dilakukan sebelum dilarang.

Dalam pertunjukan malam ini, tertawa serasa diobral. Penonton mudah sekali terpancing. Sebabnya ada dua: humornya dipaksakan lucu atau humornya relate dengan penonton. Kuakui bahwasanya Zayn, Rian, dan kawan-kawannya menyajikan lelucon yang cukup dekat dengan kehidupan penonton.

Mereka menggunakan kombo pencahar perut dengan basis personal, absurditas sosial, kerentanan identitas, hingga kiat sukses menertawakan diri sendiri. Misalnya, tentang seorang Wibu yang berkelakar dengan keislaman di keluarganya atau seorang mahasiswa yang mengenang masa remaja di seminari. Cerita itu benar atau hanya bualan, jujur aku tidak peduli. Sebab, yang menjadi perhatianku adalah bagaimana komika-komika ini tidak hanya masturbasi, tetapi juga menyajikan humor.

Penampilan mereka untuk malam ini setidaknya tak membuat yang mengundang kecewa. Minimal banget, ada penonton yang tampak terhibur, tetapi tidak denganku. Andai saja materi-materi komedi mereka lebih ditertibkan–sedikit lagi. Barangkali, mereka bisa membuatku tertawa yang bukan kebetulan. Sayangnya, komedi mereka masih perlu mengemis tepuk tangan penonton.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.