Peristiwa
Bukan Sekadar Melamban, Tapi Juga Bermakna
September 14, 2025
Saya pernah bekerja secara remote di salah satu media daring di Jakarta. Saban hari saya harus unggah 9–10 artikel. Meski saya tahu cara menulis, tetap saja itu bukan hal gampang. Perlu banyak asupan sebelum menulis: pahami topik, baca buku ini, rujuk riset itu. Macam-macam. Bahkan, kadang saya juga diminta untuk melakukan voice over (sulih suara) atau membuat video pendek untuk merespons hal-hal yang tengah viral.
Bila rehat pun, saya acap berpaling pada gawai. Scroll ini dan itu. Jika sudah begitu, ketika selesai bekerja kisaran pukul empat sore, saya merasa amat letih. Belum lagi kadang mesti lembur. Padahal, pekerjaan saya “hanya” duduk di depan laptop.
Saya acap terjaga hingga larut, dan bangun keesokan pagi untuk melakukan hal yang sama. Begitu terus selama lima hari dalam sepekan.
Banyak sejawat kantor juga mengalami hal serupa. Kawan-kawan saya tampak tidak memiliki gairah menjalani hidup. Saya bahkan pernah tak lagi menikmati menulis. Padahal, dulu saya memberi wejangan kepada kawan-kawan bahwa menulis adalah sebuah laku seni. Saya pernah muak menulis ketika merasa dijejali oleh logika produktivitas.
Ternyata, apa yang saya alami adalah hal umum. Kini, banyak orang merasakan kelelahan, baik fisik maupun mental. Target pekerjaan, kemacetan lalu lintas, debat di medsos, dan persoalan di rumah membuat orang merasa uring-uringan. Itulah yang dinamakan burnout.
Kasus saya tadi cocok dengan topik di gelar wicara yang dipantik oleh Fahrudin Faiz, doktor Filsafat dari UIN Sunan Kalijaga, Jumat 12 September 2025 lalu, bertajuk “Membaca Diri di tengah Dunia yang Bergegas” di serambi Grhatama Pustaka, Yogyakarta. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Menurut Pak Faiz, burnout adalah kondisi seseorang yang kelelahan, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Itu adalah kondisi saat ritme hidup seseorang jadi kacau dan tanda bahwa hidup sedang kelelahan karena tekanan. Tekanan itu bisa datang dari sekitar, termasuk datang dari beban kerja yang tak masuk akal.
Akarnya, kata Pak Faiz, bisa ditarik jauh ke belakang, yaitu sejak Revolusi Industri pada abad ke-18 di Inggris. Pola berpikir manusia sejak itu didominasi pola pikir pragmatis: hanya berfokus pada hasil dan lupa menikmati proses. Revolusi Industri di Inggris disebarkan ke seluruh dunia lewat logika penjajahan. Sayangnya, dunia setelah penjajahan itulah yang kini kita tinggali dengan residu di mana-mana.
Akibat rasa kelelahan yang menjejal, beberapa tahun belakangan publik kembali melirik wacana slow living.
Pak Faiz menerangkan, gagasan ini bermula pada 1986 dari seorang jurnalis boga sekaligus aktivis kiri Italia Carlo Petrini. Petrini mengkritik pembukaan gerai McDonald’s di Roma, Italia. Menurut Petrini, McDonald’s bukan sekadar penganan, tapi bentuk dari penyeragaman budaya.
Sebagai tandingan, Petrini menekankan pentingnya boga lokal, tradisional, berkelanjutan dan selain cocok dengan lidah lokal juga lebih sehat. Ia menyebut segala tindakan itu sebagai slow food. Dua tahun kemudian gerakan itu membesar.
Makanan, bagi Petrini, haruslah paling tidak memenuhi tiga hal: mengandung nutrisi cukup; ramah lingkungan; serta menghargai hak dan kerja. Bahkan, kata “slow” memiliki kepanjangan masing-masing: sustainable (berkelanjutan); local (lokal); organic (organik); dan whole (utuh). Hal itu yang acap tak sanggup diberikan oleh industri makanan cepat saji.
Gagasan Petrini ini memengaruhi cara pikir Carl Honoré, jurnalis dan penulis dari Kanada. Dalam In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed (2004), ia menantang pandangan manusia modern yang gandrung akan kecepatan, tapi mengabaikan banyak hal. Honoré menganjurkan agar setiap insan menjalani kehidupan secara penuh. Gagasan ini kelak memengaruhi banyak hal. Misalnya slow education, slow cities, dan slow parenting.
Bersepakat dengan dua pemikir sebelumnya, Pak Faiz menekankan bahwa slow living mesti didasari oleh rasa sadar. Dari segi filsafat pun, menurut Pak Faiz, cara berpikir serba cepat menyiratkan kedangkalan berpikir. Kita jadi kehilangan waktu berefleksi–berkontemplasi. Dalam generasi kiwari, hidup macam itu disebut hidup yang autopilot, di mana kendali terhadap hidup hampir tidak ada.
Dalam kasus saya, kendali atas hidup kemudian beralih ke tangan perusahaan. Karena saya bergantung pada gaji dari tempat bekerja, saya tersandera perusahaaan. Hidup yang bergegas menghalangi kesadaran kita. Saya jadi tak punya kuasa atas waktu untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya tengah saya lakukan. Saya kadang tak mengerti, mengapa mesti menghabiskan lebih dari 12 jam di depan layar laptop.
Padahal manusia, bagi Pak Faiz, punya ritme sendiri. Misalnya jam biologis. Kita tidak bisa membohongi tubuh karena bagi kebanyakan orang tubuh mereka akan merespons waktu sirkadia. Tubuh akan menolak bekerja dengan sendirinya jika terlalu diforsir atau melebihi batas waktu biologis itu sendiri. Mekanisme itu, dalam kasus saya, sesederhana tertidur di meja kerja dengan tak disadari.
Lantas, apa solusi Pak Faiz untuk hal-hal itu? Menurutnya, solusinya bukan sekadar healing atau self-care karena keduanya berpotensi hanya pelarian belaka. Bagi Pak Faiz, ritme secara alami manusia telah seimbang, tepat waktu, dan selaras. Dalam kasus saya, kemampuan untuk mengevaluasi diri itulah yang disandera oleh kuasa yang lain.
Dan, butuh waktu bagi saya untuk mampu mengevaluasi diri yang tersandera logika produktivitas perusahaan. Beruntung, itu semua telah berlalu.***