Lewati ke konten

Peristiwa

Globalisasi Tiongkok dan Tiga Matahari

September 14, 2025

Globalisasi Tiongkok dan Tiga Matahari

Ketika itu hari belum dekat senja. Dan seolah ada tiga matahari yang tengah menaungi Yogya.

Rasanya menggoda sekali untuk melanjutkan kalimat-kalimat itu dengan, misalnya, “raja muda yang disembunyikan dekat menara itu”. Tetapi, sebaiknya usaha memelesetkan sajak Pariksit itu dihentikan saja. Maksud saya toh sudah tercapai dengan dua kalimat itu, yaitu untuk melukiskan betapa panasnya Jumat siang (12/9/2025) saat buku Ideologi Media dan Globalisasi Tiongkok diluncurkan dalam rangkaian acara Jogja Book Fair 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Panas matahari pada hari itu memang terasa membakar sampai di tempat duduk audiens di depan Grhatama Pustaka. Saya harus menyeka keringat dari kening beberapa kali sembari tetap mencermati pembicaraan. Baru kemudian saya menduga bahwa alam bawah sadar saya mengaitkan judul buku itu dengan buku lain berjudul Trisurya karya Liu Cixin. Mungkin karena sama-sama mengandung unsur matahari dan ke-Tiongkok-an.

Saya juga ingat ada seseorang, di sebuah forum diskusi buku lain, yang bercerita tentang bagaimana Trisurya menjadi bacaan wajib di sekolah. Asosiasi bebas ala-ala psikoanalisis itu rupanya membantu saya membayangkan wajah sebuah negeri yang tengah gencar menekan pedal gas pengembangan saintek dan pertumbuhan. Juga membantu saya mencermati pembicaraan yang harus saya catat pada Jumat siang itu.

Anang Masduki, penulis Ideologi Media dan Globalisasi Tiongkok, mengungkapkan bahwa banyak orang datang ke Tiongkok dengan prasangka tentang negara komunis yang keras terhadap doa. Anang menjumpai kenyataan yang lain. Masjid Hui tetap berdiri, doa masih bergaung, dan penjual makanan halal melantunkan ayat sambil melayani. Bangsa itu bekerja, beribadah, lalu kembali bekerja.

Tetapi, memang ada seorang profesor memang mewanti-wanti, “Kau boleh berbeda, tetapi jangan sekali-kali mengkritik pemerintah.” Ada garis keras dan keterbatasan, tetapi toh kehidupan terus berdenyut.

Dari keseharian, percakapan di atas panggung beralih ke perkara ekonomi. Prayudha selaku moderator menyinggung Belt and Road Initiative yang melibatkan jalan raya, pelabuhan, rel kereta, dan konsesi seratus tahun dengan pendanaan sebesar enam puluh ribu triliun rupiah—dua puluh kali APBN Indonesia. “Amerika menguasai dengan tentara, Tiongkok dengan jalan tol,” Anang menanggapi. Ucapan Anang itu sederhana, tetapi menyiratkan perjalanan yang panjang.

Tiongkok melangkah dengan teramat pelan, tetapi di ujung langkah ia mampu mengguncang dunia. Dalam fiksi karya Liu Cixin yang saya singgung di atas, bangsa asing menyiapkan kedatangannya ke bumi sejak jauh-jauh hari dengan sangat sabar. Dalam dunia nyata yang dikendalikan Tiongkok, jalan-jalan dibangun nyaris tanpa kehebohan, tahu-tahu sudah sudah membentang dan kereta cepat sudah melesat di hadapan mata.

Di balik pembangunan, ada hal-hal yang lebih samar: propaganda, diaspora, dan pendengung. Juga respons negatif. Anang menyebut enam puluh lima persen percakapan publik Indonesia tentang Tiongkok bernada negatif. Banyak orang curiga karena tenaga kasar di perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Indonesia pun didatangkan dari Tiongkok. Persis dalam fiksi Liu Cixin tentang peradaban asing yang lebih percaya pada tangannya sendiri daripada menitipkan hidup pada penduduk bumi.

Dari ekonomi, pembicaraan bergeser ke ideologi. Komunisme masih jadi hantu di Indonesia meski di negeri lain bisa hidup berdampingan dengan agama. Budiman Sudjatmiko, yang menulis prolog, mengingatkan adanya bahaya ekstrem, kiri maupun kanan. Mirip dalam Trisurya: manusia terpecah dalam faksi-faksi; ada yang menanti penyelamat, ada yang justru menginginkan kehancuran. Ketidakpastian sering melahirkan perpecahan yang lebih keras daripada ancaman dari luar.

Demokrasi pun ikut dibicarakan. Profesor di Beijing yang disebutkan di atas menolak definisi yang sempit. Demokrasi, kata sang profesor, bukan hanya multi-partai. Demokrasi adalah kesempatan yang sama. Xi Jinping menjadi contoh: anak seorang buangan politik, tumbuh di desa, perlahan naik dari kader partai hingga menjadi presiden. Sistem itu lebih menyerupai meritokrasi.

Dan di sini gema fiksi kembali terdengar di telinga saya. Peradaban dalam Trisurya pun berulang kali runtuh dan bangkit. Yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling sanggup membaca tanda, menyesuaikan diri, lalu berjalan lagi.

Dari demokrasi, percakapan beralih lagi ke globalisasi. Prayudha mengungkapkan istilah ci-globalisasi, yaitu sebuah globalisasi dengan aksen Tiongkok. Tanda-tandanya antara lain pulau-pulau buatan, Laut Cina Selatan, dan jaringan ekonomi lintas benua. Seorang audiens bertanya apakah ini merupakan sebentuk agresi bagi Indonesia. Anang menjawab tenang: Indonesia harus memilih sikap—waspada, antisipatif, atau ikut bergabung.

Di sela-sela pembicaraan, Anang menegaskan kembali pentingnya membaca. Sukarno, katanya, meramu Pancasila dari beragam bacaan, mulai dari Al-Ghazali hingga Maucetung. Membaca adalah cara membuka cakrawala. Kembali saya harus mengingat fiksi Liu Cixin. Karena, dalam karya itu, ditekankan bahwa hanya bangsa yang sanggup membaca langit yang bisa bertahan dan melewati kekacauan tiga matahari.

Percakapan siang itu kadang ringan kadang getir. Misalnya tentang umat muslim di Xinjiang yang harus mendaftar dengan barcode untuk sholat Id atau propaganda yang menebal di ruang publik. Anang menghadirkan hal-hal semacam itu tanpa kemarahan, tetapi dengan ajakan: pahami dulu sebelum menghakimi.Talk show itu berakhir sederhana seperti umumnya dengan tepuk tangan, doorprize, dan ucapan terima kasih. Tetapi, dari panggung kecil di Yogya itu, saya rasa telah lahir kesadaran yang lebih urgen: globalisasi bukan lagi monopoli Barat, demokrasi punya banyak wajah, prasangka sering lebih gaduh daripada kenyataan, dan luka sejarah bisa menjelma menjadi tenaga untuk menguasai dunia.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.