Peristiwa
Satpam pun Ikut Berjoget
September 14, 2025
Sebelum membaca tulisan ini, dengarlah dulu lagu-lagu dari Genk Kobra. Mau yang mana judulnya, terserah. Mau Ning Nong Ning Gung, mau Sepur Kluthuk, bebas. Meski, kalau boleh sedikit menyaran, pilihlah lagu Ngayogyokarto. Silakan, Anda boleh sumpal telinga dengan headset lalu mendengarnya sendirian. Boleh juga sedikit berupaya menghidupkan pengeras suara lalu memanggil sembarang teman.
Satu lagu, dua lagu, saya jamin, pinggul Anda akan tiba-tiba terayun sendiri mengikuti komposisi nada yang gayeng. Anda akan tiba-tiba menganggap bahwa di dunia ini memang banyak pepatah, tetapi yang berlaku pada saat itu hanyalah satu: Berjogetlah sebelum berjoget itu dilarang. Anda bahkan tak perlu repot-repot membuktikan eksistensi pepatah tersebut.
Pasalnya, saya membuktikan sendiri malam itu. Di Grhatama Pustaka, turut memeriahkan Jogja Book Fair 2025, gelaran yang terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY, Genk Kobra bermain selama kurang lebih satu jam. Grup musik legendaris itu, yang lebih dikenal oleh orang tua dari generasi saya, dipimpin oleh seorang laki-laki gondrong yang mengaku bernama Joko. Selama itu, kita akan saksikan betapa Mbah Joko, juga segenap kawannya, begitu mengkis-mengkis lantaran usia yang mustahil ditipu. Tetapi, tanggal 11 September 2025 itu akan terus saya ingat, terpatri dalam sanubari.
Sebab, untuk pertama kalinya, saya melihat …
Baiklah, kembali saya ingatkan. Sebelum membaca tulisan ini, dengarlah dulu lagu-lagu dari Genk Kobra.
***
Dunia perjogetan itu rumit.
Pertama, tak semua orang bisa berjoget. Ini kaitannya dengan ketangkasan. Ambillah Tova, kawan saya, sebagai contoh. Dia tidak bisa berjoget dengan rangkaian kejadian sebagai berikut.
Dulu, desa tempat tinggal Tova memungkinkan dirinya untuk tumbuh menjadi seorang kriminal. Langkah paling masuk akal yang mesti diambil orang tua Tova adalah menjadikannya anak rumahan. Alhasil, berhubung dia jarang menyentuh rumput, dia bukan menjadi pribadi yang minum-minuman keras dan sebagainya.
Hanya, pada akhirnya dia juga tak pernah punya pengalaman-pengalaman yang membuat kemampuan motoriknya bertumbuh. Semisal berburu yuyu kangkang, memasang pulut getah nangka, atau lompat dari satu batu ke batu lain selepas kungkum di kali. Maka, wajar kalau sekarang ini, setiap kali kita melihat Tova, kita akan merasa gerakannya begitu kaku. Jelas saja dia tak bisa berjoget. Kalau memaksa berjoget malah akan wagu.
Kedua, tak semua orang berhak berjoget. Sebenarnya, ini lumayan kompleks dan banyak variabelnya. Tetapi, demi kesederhanaan, kurang lebihnya adalah soal tempat dan waktu. Misal, Anda adalah seorang pemimpin. Kebetulan (ya, kebetulan saja) Anda kaya raya sedang kaum yang Anda pimpin tidak.
Suatu hari Anda menghadiri rapat yang membahas kenaikan tunjangan. Di titik itu, percayalah, Anda tidak berhak berjoget.
Begitulah dunia perjogetan itu. Tak pernah sederhana. Seperti yang saya saksikan malam ini, waktu Mbah Joko bersama Genk Kobra naik ke panggung. Sebagai pembuka, mereka dendangkan selawat Thalaal Badru. Atas dasar kepercayaan, saya bangkit dari duduk, lalu khusyuk menyimak.
Satu lagu, dua lagu, pinggul saya tiba-tiba terayun sendiri mengikuti komposisi nada yang gayeng. Saya tiba-tiba menganggap bahwa di dunia ini memang banyak pepatah, tetapi yang berlaku pada saat itu hanyalah satu: Berjogetlah sebelum berjoget itu dilarang. Saya bahkan tak perlu repot-repot membuktikan eksistensi pepatah tersebut.
Lama-lama, terpengaruh oleh penonton lain, saya ikut-ikutan maju. Mbah Joko menyambut reaksi organik masyarakat tersebut. Jadilah di bawah panggung berkerumun orang. Semuanya ada di sana. Anda mau cari orang macam apa, pasti ada. Anak kecil yang menggenggam jemari bapaknya, remaja yang baru pulang sekolah, sepasang pasutri yang kelihatannya nikah muda, anak muda yang kaku seperti Tova, bapak-bapak yang lihai mengayun dengkul. Semua berkumpul di sana dengan satu misi mulia: menggoyang dunia bersama Genk Kobra.
Yang membikin saya heran adalah kehadiran para satpam. Masih lengkap berseragam mereka bergabung bergoyang-goyang di sisi barat panggung. Memang ini menguatkan tema inklusi yang diusung-usung penyelenggara. Tetapi, saya merawang dari depan ke arah pos satpam di sebelah gerbang dan mendapati kekosongan di sana. Saya tolah-toleh, bermaksud mencari adakah selain saya yang menyadari keadaan ini. Dekat saya, ada Pak Hadi, salah satu pengurus DPAD DIY, mendiamkan saja para satpam itu.
Segera saja saya bergegas merapat ke sisi barat panggung. Setelah sekali dua kali memotret dari jauh, saya menghampiri para satpam.
“Kok ikut joget, Pak?” tanya saya serius.
“Lha lagunya enak begini kok,” jawab salah satu satpam, sambil tangannya mengayun-ayun udara seperti sedang menaiki perahu.
“Siapa yang berjaga kalau begitu?”
“Tidak ada.”
“Kalau ada maling bagaimana?”
“Santai saja, Mas, pasti malingnya juga masih joget.”
***
Begitulah. Dahsyat sekali, saya kira, Genk Kobra ini. Lagu-lagunya mampu menyihir orang-orang sehingga terhanyut dan ikut berjoget. Padahal, tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka untuk mengajak para penonton berjoget. Tetapi, itu tak mampu menahan para satpam itu untuk tak ikut-ikutan.
Saya jadi curiga. Jangan-jangan lagu yang membuat sekelompok orang berjoget ria di dalam satu gedung kehormatan tempo hari itu (Anda tahu yang saya maksud) tak lain lagu-lagu Genk Kobra. Siapa tahu.***