Peristiwa
Koloni Semut dan Cermin Kemanusiaan Kita
September 12, 2025
“Saat membaca beberapa halaman awal, saya agak bingung. Sepanjang novel ini tokohnya semut, ya? Apa tidak membosankan? Saya masih ragu, saya salah nggak, ya, menerima undangan pembicara ini? Saya harus membaca novel setebal ini dan tokohnya semut, ini akan bagaimana? Saya belum bisa membayangkan itu akan menarik.”
Mula-mula kritikus itu ragu. Bagaimana mungkin cerita tentang semut setebal itu tak membosankan? Akan tetapi, di halaman berikutnya, ia justru tersentuh oleh kisah semut yang mati karena mempertahankan koloninya.
***
Ratu semut mengingatkan koloninya untuk masuk ke dalam sarang agar tak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya. Sulaiman pun tersenyum seraya tertawa mendengar perkataan semut itu. Dan ia berdoa meminta dianugerahi kemampuan mensyukuri nikmat. Kisah itulah yang sempat menyelinap di kepalamu ketika Ratih Kumala mengungkap bagaimana ia menyeleksi ragam jenis serangga dan dunianya.
Selama ini, kau tak pernah sungguh-sungguh memperhatikan seekor semut yang melintas dekat kakimu. Ia terlalu kecil, terlalu sepele untuk kau beri ruang dalam pikiranmu. Serangga mungil itu berbaris dan mencari remah. Mereka menyelamatkan koloni dan memberi peringatan. Ah, betapa serangga satu itu diberi kehormatan yang jarang kau bayangkan.
Di depan Grhatama Pustaka (9/9/2025), siang yang menyengat membuat orang-orang yang lalu-lalang memilih duduk di depan panggung acara. Ratih Kumala dan Katrin Bandel, dipandu Ratih Fernandez, mewedar pengalaman mereka ketika membaca Koloni, sebuah kisah tentang dunia semut, yang kata Katrin Bandel bukanlah fabel belaka.
Diskusi itu adalah rangkaian Jogja Book Fair 2025, yang terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Ratih Kumala menyulam dunia dalam Koloni selama kurang lebih sembilan bulan. Ia mengaku, bahan bakar terciptanya karya itu adalah kemarahan dan kekesalannya yang menggunung kepada pemerintah. Akan tetapi, setelah naskah jadi sekitar 20–30 persen, ia mendapati tulisannya sendiri hanya berisi marah-marah. Dan ia tidak suka.
“Aku selalu menganggap bahwa penulis adalah pembaca pertama dari karyanya sendiri. Lalu aku bertanya pada diriku, kalau aku aja nggak suka, bagaimana dengan orang lain? Dan pada dasarnya, ketika aku ingin menulis cerita, aku ingin bercerita saja. Kalaupun ada emosi, hanyalah untuk karya, bukan untuk curhat atau marah-marah ke audiens.”
Kau pun tahu, Ratih begitu suka dengan Animal Farm. Cara yang diambil George Orwell adalah cara yang tepat, yaitu menganalogikan manusia sebagai hewan ternak. Jika Orwell mengambil hewan-hewan peternakan seperti babi, kuda, kambing, dan sapi, Ratih mengambil dunia serangga. Ratih melihat ada begitu banyak kesamaan antara manusia dan semut, terutama pada struktur sosialnya.
Riset tentang semut bagi penulis Saga dari Samudra itu sangat menyenangkan. Ia mengamati kehidupan semut lewat saluran YouTube. Dari sana, ia melihat struktur kehidupan semut yang ternyata sangat mirip dengan manusia. Manusia mendapatkan status sosial dari kemauannya untuk berusaha, sementara semut sudah dilahirkan dengan status yang menempel pada diri mereka. Apakah mereka akan jadi semut pekerja, semut jantan, atau semut ratu. Atas dasar semua itu, Ratih akhirnya mengambil dunia semut sebagai dunia koloni.
Pembaca kritis, seperti Katrin Bandel, barangkali akan berkata bahwa Ratih tak sekadar menulis tentang dunia semut. Ratih menganalogikan serangga sebagai sesuatu yang kecil, tidak terlihat, tetapi ada. Ratih berupaya mempertahankan universe dari semut itu sendiri. Ia tidak ingin menjadikan semut itu berukuran besar, jadi kartun atau anime yang pindah ke rumah manusia. Ratih ingin rumah semut itu tetap berupa sarang, sebagaimana adanya.
Dari pengalaman menulis itu, Ratih Fernandez mengajak bergeser ke perbincangan soal kerja perawatan. Ia menerangkan bahwa dalam mempertahankan keberlangsungan koloni, dibutuhkan kekuasaan. Dan penopang kekuasaan seharusnya ialah kerja-kerja perawatan.
“Memang seperti itulah adanya ketika sebuah koloni menjadi besar. Mereka menjadi megakoloni. Ada beberapa ratu yang kemudian saling berkuasa dan bersaing. Kerja perawatan itu muncul secara alami karena memang karakter-karakternya seperti itu,” ungkap Ratih Kumala.
Katrin lantas membabarkan kisah ringkas dari Koloni. Novel ini diawali dengan sebuah musibah yang dialami Semut Ratu sebagai tokoh utama. Koloninya hancur dan teman temannya mati terpencar karena ulah manusia yang tengah mengadakan pembangunan. Kemudian, semut itu hampir mati dan terdampar ke koloni semut yang lain. Dari situlah kisah tentang bagaimana ia menjadi bagian dari koloni semut itu tergelar.
Yang membuat buku ini sangat bisa dinikmati, kata Katrin, adalah bertemunya dua dunia, yaitu dunia manusia dan dunia hewan. Dunia hewan yang kita tahu hanya memakai insting, sementara manusia punya kehendak bebas, dan kedua hal itu dikombinasikan. Di sisi lain, disisipkan pula hal-hal dari dunia manusia. Misalnya tokoh semut itu diceritakan marah, iri, jatuh cinta, cemburu, atau sedih, yang merupakan perasaan yang ketika membaca kita tahu bahwa itu adalah perasaan manusia.
Nyatanya, novel ini menghadirkan banyak renungan tentang batas antara hewan dan manusia, mana takdir dan sudah harus terjalani dan mana kehendak bebas. Ceritanya juga mempertemukan insting untuk mempertahankan kepentingan bersama di komunitas dengan mempertahankan kepentingan individu. Barangkali, dari situlah konfliknya bermula.
“Tak sekadar pinjam tokoh hewan untuk ngomong soal manusia. Kalau sekadar itu tidak akan semenarik ini. Secara filosofis, pandangan kita tentang hewan dan hubungan dengan manusia penuh pertentangan. Di satu sisi kadang kita menyebut sifat hewan itu sifat terendah dalam diri manusia. Tapi, di sisi lain, kadang ada kesadaran bahwa hewan tidak bisa berbuat dosa. Mereka benar-benar mengikuti saja apa yang telah jadi kodratnya. Dan karena itulah hewan tidak bisa sekejam manusia,” terang Katrin Bandel.
Usai larut dari perbincangan itu, kau menjadi tahu bahwa semut-semut mati-matian mempertahankan koloninya. Kau melihatnya sebagai bentuk keberanian yang lahir dari naluri. Di sisi lain, kau bertanya, apakah unsur hewani itu kejam dan tidak memperhitungkan perasaan orang?
Kau pun teringat pada cerpen Lengtu Lengmua karya Triyanto Triwikromo. Di sana, hewan-hewan menjadi simbol manusia yang kerap melampaui kebuasan. Sastra memperlihatkan padamu, betapa batas antara hewan dan manusia tak pernah jelas. Kau menyadari, sering kali hewan hadir dalam cerita untuk mengingatkanmu tentang kemanusiaan yang luput.
Pertanyaan pun menggantung. Betulkah manusia berada di atas hewan? Atau justru kau, dengan segala nafsu dan kerakusanmu, sedang jatuh lebih rendah dari semut yang setia menjaga koloninya?***