Lewati ke konten

Peristiwa

Obrolan yang Tidak Lebih Lantang dari Apa Pun

September 11, 2025

Obrolan yang Tidak Lebih Lantang dari Apa Pun

“Kayaknya kita perlu lebih banyak bicara pada diri sendiri,” katanya tiba-tiba setelah selesai dengan satu obrolan dan jeda agak panjang.

Hari sedang gelap, matahari sudah tenggelam sedari tadi. Tapi, orang-orang masih berlalu lalang. Ia sedang duduk di bukit buatan, belakang tenda-tenda penjaja makanan, di area kuliner Jogja Book Fair 2025, di bagian depan gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Yogyakarta.

Gelaran itu terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

“Maksudnya?” temannya menimpali.

Mereka teman satu kampus, program studi yang sama, yaitu sastra. Mereka berpapasan di bazar buku, lalu memutuskan untuk duduk dan mengobrol di bukit buatan itu.   

“Mungkin saja, tapi aku juga tidak terlalu yakin.”

Yang diajak bicara mengernyitkan dahi. Alisnya tertekan sambil menatap mata yang bicara. Kebingungan.

“Begini,” lanjutnya sebab menangkap kebingungan itu, “kemarin sore, … eh tanggal berapa sekarang?”

“Tanggal sepuluh.”

“Berarti kemarin, hari Selasa, tanggal sembilan bulan September …”

“Serius perlu disebut tanggal?”

“Nggak apa-apa, biar ada faktanya kalau kata orang-orang jurnalistik,” jawabnya sambil nyengir.

“Oke, oke.”

“Aku berangkat ke sini. Kebetulan, waktu itu, aku bertemu dosen A. Tahu ‘kan kalau dia punya penerbit? Nah, di panggung sana,” ia mengarahkan telunjuknya agak menyerong ke sebelah kanan, “aku diajak buat ikut diskusi buku yang terbit di penerbitnya itu. Judulnya Ketika Hening Lebih Lantang dari Dunia. Dan memang ditugaskan buat mencatat di sana juga.”

“Terus, bukunya tentang tips-tips mengobrol sendiri gitu?”

“Bukan, dong. Tapi, waktu itu, salah satu topik utamanya adalah perlunya buat ngobrol dengan diri sendiri.”

“Ngobrol, ngobrol yang gimana?”

“Kata penulisnya, yang bernama pena Lintang Kemukus …” 

“…Dini hari.”

“Nggak, Lintang Kemukus tok. Nama aslinya Novi. Ia merupakan pegawai di instansi pemerintahan. Tepatnya di Badan Narkotika Nasional (BNN) di bagian Humas, dan sekarang bertugas di daerah Jawa Barat.” 

Ia kemudian melanjutkan sambil mengubah posisi duduk, “Katanya, dalam keheningan, sering kali kita menemukan suara yang lebih jujur daripada kebisingan dunia luar. Suara hening, bisikan lembut yang datang dari dalam hati. Coba baca bukunya.”

Ia menyodorkan Ketika Hening Lebih Lantang dari Dunia itu kepada temannya.

Temannya langsung saja membuka-buka buku. Lantas, setelah sekian menit, berucap, “Bukunya unik, ya.”

“Memang,” katanya sambil menatap buku itu.

“Lalu, siapa Human dan Angel ini?” tanyanya sambil menunjuk salah satu halaman buku.

“Waktu bedah buku, moderator yang bernama Nugra itu, sempat bertanya hal sama pula. Si penulis menjawab kalau Human adalah kita. Ya, manusia, sedangkan Angel adalah kata hati kita. Alih-alih malaikat.”

“Tidak dijelaskan kenapa ia menggunakan dialog antara Human dan Angel untuk menarasikan pikirannya dalam buku ini,” ia melanjutkan, “barangkali yang disebutkannya kemudianlah alasannya. Ia bilang kalau menulis baginya adalah kerja reflektif. Maka, bisa diasumsikan kalau tulisan-tulisannya di buku ini merupakan refleksi diri. Ketika ada satu-dua hal yang tersangkut di pikirannya, ia menulis. Dan mungkin, menurutnya, Human dan Angel itu adalah representasi dari dirinya. Gejolak batinnya.”

“Pernah baca cerpen yang punya judul Anjing-anjing Menyerbu Kuburan?” tanyanya.

“Kayaknya pernah. Pak Kunto ‘kan?”

“Iya, di situ ‘kan diceritakan kalau ada seseorang yang mau ritual pesugihan. Ketika dia mau melakukan apa yang diperintahkan dukunnya, yakni menggigit telinga mayat di kuburan, tiba-tiba ada tujuh ekor anjing yang menyerbunya.”

“Apa hubungannya sama buku ini?”

“Teman kita suatu waktu membahas cerpen itu. Dia bilang kalau anjing-anjing itu cuma simbol dari gejolak batin si tokoh. Mungkin saja sama seperti Human dan Angel di buku ini. Ia terdengar nyata, tapi sebenarnya cuma sesuatu yang imajiner. Apalagi sudah dijelaskan kalau Human dan Angel itu sebenarnya sosok yang sama. Manusia. Kita.”

“Memang bisa buku ditulis seperti ini?”

“Tentu saja bisa. Sudah banyak kok yang menulis dengan cara yang sama. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah tulisan model begini itu berhasil atau tidak.”

“Menurutmu berhasil?”

“Mungkin. Buktinya malam ini kita obrolin,” ujarnya sambil terkekeh kecil, kemudian melanjutkan, “sebelum memutuskan berhasil atau tidak waktu diskusi kemarin toh banyak kok yang ngerasa relate.

Relate yang gimana, nih?”

“Dari tanggapan-tanggapan setelah diskusi,” jawabnya. “Kebanyakan menanggapinya dengan menceritakan pengalaman masing-masing. Jika tidak bisa dibilang relate, setidaknya, kurasa, mereka terhubung dengan diskusinya. Mungkin juga dengan bukunya nanti.”

Temannya lantas menimpali, “Ya, tolok ukur buku ‘kan memang pembaca. Memang sepertinya bukan buat kita, tapi belum tentu bukan buat orang lain juga.”

“Sebelas duabelas dengan novel-novel model mie ayam itu lah, ya,” katanya sambil tertawa.

Orang-orang masih berlalu-lalang. Tenda-tenda kuliner masih cukup ramai. Di sebelah kanan agak jauh dari tempat mereka ngobrol, bazar buku masih terlihat didatangi satu-dua orang. Dan di bukit buatan itu beberapa orang masih tampak larut dalam obrolan masing-masing.

Gerimis kemudian bergemericik. Mereka buru-buru melangkahkan kaki buat menghindar, takut gerimis jadi hujan.

Sambil berjalan mencari tempat teduh, ia bicara sambil menoleh kepada temannya, “Begitulah industri buku kita.”

Temannya menanggapi: “Begitu ya begitu, tapi mbok jangan begitu.”***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.