Lewati ke konten

Peristiwa

Menguntit Iman Budhi Santosa dari Gunung ke Gunung

September 11, 2025

Menguntit Iman Budhi Santosa dari Gunung ke Gunung

Kamis sore itu (10/9/2025), saya hadir di gelar wicara Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung karya Iman Budhi Santosa. Rintik hujan mengiring “ziarah” ke pemikiran Iman di panggung tenant Jogja Book Fair. Sukandar, sang pemandu gelar wicara, menyilakan kami melambungkan doa kepada sang Ilah untuk mendiang Iman, sesaat sebelum acara dimulai.

Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Iman mangkat pada 10 Desember 2020 lalu. Lima tahun kemudian, Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung terbit menyapa pembaca. Tanpa mengerdilkan upaya penerbit lain, salah satunya, berkat upaya Penerbit Interlude, nama Iman tersambung ke hadapan pembaca muda kini.

Penerbit Interlude yang digawangi Sukandar tak sendiri dalam upaya penerbitan itu. Ia disokong lewat upaya Latief S. Nugraha, sejawatnya. Sebelumnya mereka berdua pernah nyantrik, mengasup ilmu, kepada Iman semasa hidup.

Kisah Latief, yang juga memantik acara ini, setelah mengubek harta karun di dalam laptop Iman usai wafat, menemukan naskah-naskah Jejak Tapak. Namun, sebetulnya naskah ini belumlah rampung. Latief menemukan bagian lain yang berkisah riwayat Iman tinggal di sekitar Gunung Merapi. “Tapi, hanya ada subjudul, isinya masih kosong,” terang Latief. 

Gunung memang menempati posisi khusus dalam jagat batin Iman. Menurut pemantik lain dalam gelar wicara, Via Ajeng Mulyani, Jejak Tapak membabar tiga bentang waktu dalam hidup Iman: masa kecilnya di Lereng Lawu, Magetan; lantas bergerak ke Medini untuk bekerja di perkebunan di lereng Prau; dan ketiga di Boyolali di gigir Merbabu.

Catat-mencatat juga jadi perhatian Ajeng saat membaca karya ini. Selain belajar formal di sekolah, mencatat hal-hal renik memang jadi kebiasaan Iman sejak kecil. Kebiasaan itu diajarkan dari sang kakek. Dalam narasi Iman, ia mencatat apa saja –memaknai dongeng, makna tata-krama, penggunaan bahasa yang tepat, tuntutan perilaku, dan lain-lain. “Mencatatnya pun tidak boleh main-main dan setengah hati,” tulis Iman dalam Jejak Tapak.

Lantas, mengapa Iman melakukan itu semua? Mencatat adalah petuah sang kakek karena manusia gampang lupa. Catatan, bagi Iman, menjelma jadi laku sikap waspada.

Melampaui memoar, bagi Ajeng, Jejak Tapak juga sebuah arsip kultural: dokumen hidup dari pengalaman yang tertanam dalam bahasa dan laku. “Memoar ini, dalam kerendahannya yang jujur dan puitis, menawarkan narasi tandingan—terhadap sejarah resmi, pembangunan yang melupakan akar, serta modernitas yang terlalu tergesa,” tulis Ajeng dalam ulasannya.

***

Di Yogyakarta, Nama Iman Budhi Santosa serasa legenda: fisiknya telah tiada, tapi tinggalan pikirnya ada di mana-mana. Dalam berbagai gelaran sastra namanya acap disebut, bersanding dengan tokoh Emha Ainun Najib, misalnya. Itu wajar, karena Iman adalah bagian komunitas sastra Persada Studi Klub (PSK) pada dekade 1970-an.

Bukan hanya sastra, Iman juga menulis sejumlah karya nonfiksi. Seturut latar pendidikannya, beberapa buku ihwal perkebunan pun turut dalam deret bibliografinya, di antaranya Membangun Perkebunan Rakyat di Jawa (terbit 1983) dan Pengembangan Teh Rakyat di Jawa (terbit pada 1982).

Selain karya tentang perkebunan, juga ada karya nonfiksi lain yang memang menjadi amatannya. Misalnya, Tali Pati: Kisah-kisah Bunuh Diri di Gunung Kidul yang ditulis bersama Wage Daksinarga tentang fenomena gantung diri di Gunung Kidul dan Suta Naya Dhadap Waru yang menjelajahi alam pikiran orang Jawa dengan tetumbuhan.

Buku yang saya sebut terakhir membuat saya terkesima. Berkat Suta Naya Dhadap Waru, saya berkenalan lebih jauh dengan sosok Iman –tentu hanya pikiranya. Karya itu tentang berbagai nama tempat di Jawa berkait erat dengan tumbuhan. Singkatnya, bila tak keliru sebut, etno-toponimi — studi nama lokasi yang berkelindan dengan pengetahuan warga setempat. Karya itu menyegarkan wawasan saya betapa dekat hubungan manusia Jawa dengan tetumbuhan.

Ada hal lain yang mencuat dalam diri saya ketika pertama kali membaca Suta Naya Dhadap Waru: ternyata hal-hal remeh dari lingkungan perdesaan yang saya ketahui semasa kecil bisa juga disebut pengetahuan.

Meski saya tumbuh dari keluarga pegawai negeri sipil, sanak-kadang saya adalah petani ulung. Dari situlah berbagai macam pengetahuan tentang tetumbuhan saya cerap —tentu tidak seberapa dibanding pengetahuan orang-orang yang tiap hari berjibaku mengolah tanah, seperti sanak-kadang saya itu.

Dan, dalam gelar wicara saat itu, entah mengapa saya kembali dipertemukan dengan jajaran gemunung pada karya Iman karena saya juga tengah membawa sekaligus membaca buku tentang tentang geologi dan gemunung di Jawa karya Adem Bobbette, Denyut Nadi Bumi. 

Buku karya Bobbette itu meneroka bagaimana pengetahuan lokal di Jawa berpilin-kelindan dengan pengetahuan geologi modern. Pengetahuan lokal adalah salah satu hal yang selalu dibicarakan Iman. Ini suatu kebetulan yang membahagiakan. Dua buku yang sepenuhnya berbeda, tapi benang merahnya begitu kentara. Kata orang, tak semua pembaca buku menemukan benang merah di antara dua buku atau lebih.

Keluasan pengetahuan Iman menerobos jauh sekat-sekat pengetahuan. Melampau Barat–Timur, menerabas modern–tradisional. Seperti kata Latief, pengetahuan Iman pepak —lengkap. Karyanya memang bak sumur yang tak pernah habis ditimba: terus-menerus mengalirkan manfaat kepada pembaca.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.